Actions

Work Header

Ketidakpastian dari Kepastian

Summary:

Di dunia ini, Sistem mengatur segalanya. Ia mengatur kapan kamu lahir. Ia mengatur di mana kamu akan bersekolah. Ia mengatur apa pekerjaanmu. Ia mengatur siapa yang akan kau nikahi. Bahkan, Ia juga mengatur kapan kamu mati. Tapi bisakah ia mengatur kebahagiaanmu?

Dua tahun setelah Wei Wuxian meninggalkan Sistem, Jiang Cheng menerima pesan yang membuatnya ragu apakah pasangan yang ditentukan oleh Sistem adalah orang yang benar-benar akan membuatnya bahagia.

Notes:

Mo Dao Zu Shi belongs to Mo Xiang Tong Xiu.
Saya tidak mendapatkan keuntungan materiil apapun dari pembuatan fanfiksi ini
Warning: BL, AU, miss typos, OOC, etc.
Selamat membaca.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Ketidakpastian

Chapter Text

Di dunia ini, Sistem mengatur segalanya.

Ia mengatur kapan kamu lahir.

Ia mengatur di mana kamu akan bersekolah.

Ia mengatur apa pekerjaanmu.

Ia mengatur siapa yang akan kau nikahi.

Bahkan, Ia juga mengatur kapan kamu mati.

Tapi bisakah ia mengatur kebahagiaanmu?

.

...*...

.

Jiang Cheng bukan orang bodoh seperti Wei Wuxian. Dia tidak akan pergi meninggalkan kota hanya karena tidak ingin hidupnya diatur oleh Sistem. Mengapa dia harus memertaruhkan segalanya hanya untuk sesuatu yang abstrak seperti ‘kebebasan’?

Memangnya apa yang bisa diberikan kebebasan padanya? Dunia di luar Sistem, yang digadang-gadang Wei Wuxian menyimpan kebebasan, adalah tempat di mana ketidakpastian tumbuh. Di luar sana, tubuhnya tidak dijamin akan terus sehat, dia bisa saja sakit dan mati sewaktu-waktu begitu saja. Di luar sana, makanan tidak dijamin datang setiap hari, akan ada hari di mana makanan melimpah dan hari di mana tidak ada makanan sama sekali, jadi bagaimana Jiang Cheng bisa yakin dia tidak akan mati kelaparan? Di luar sana, tempat orang-orang buangan yang tidak cukup layak untuk menjadi bagian dari masyarakat Sistem, hidup adalah perjuangan berat yang selalu dilandasi ketakutan akan masa depan. Sekali dia pergi ke sana, dia tidak akan bisa kembali. Jadi, mana mungkin dia akan mempertaruhkan hidupnya hanya untuk kebebasan?

Di sini, di dalam kota yang dibentuk oleh Sistem, segalanya aman, terjamin, dan penuh kepastian. Masa depannya sudah ditentukan sejak dia berusia tujuh tahun. Jiang Cheng masuk ke dalam warga golongan A dan mendapatkan pendidikan terbaik dalam sistem. Di usia 18, dia akan memulai magangnya di pemerintahan pusat sebelum melakukan pekerjaan resmi di sana di usia 22. Di usia 25, dia akan melakukan tes kecocokan untuk menemukan pasangan hidupnya, di usia 27, dia akan mendapatkan anak pertamanya, dan di usia 35 dia akan mendapatkan anak keduanya. Dia akan bekerja hingga usia 60 dan tinggal di rumah pensiun bersama pasangannya hingga berusia 75 tahun. Setelah itu dia akan tinggal di panti jompo sampai usia 90 tahun, saat dia dijadwalkan untuk mati.

Hidupnya jelas dan tenang, semuanya teratur. Kapan dan apa yang dia makan, hobi dan kegiatan sampingannya, buku dan film yang akan menghiburnya, siapa teman-temannya, semua sudah diatur oleh Sistem—tidak ada cacat sama sekali. Jiang Cheng puas akan itu.

Saat usianya 10 tahun, Wei Wuxian pernah bertanya, “Tidakkah kau menginginkannya? Dunia di mana kau bisa makan es krim tiap hari, pergi bermain kapanpun yang kau inginkan, dan belajar apapun yang kamu mau?”

Tidak. Jiang Cheng tidak menginginkannya. Jika dia ingin makan es krim, dia hanya perlu menunggu hingga kamis sore, saat es krim ada dalam menu makanannya. Jika dia ingin pergi bermain, dia hanya perlu pergi ke tempat bermain tiap hari Sabtu dan Minggu setelah menyelesaikan tugasnya. Dan jika dia ingin belajar hal baru, dia hanya perlu mengajukannya ke Sistem untuk dievaluasi apakah ilmu itu sesuai dengannya atau tidak, jika tidak, Sistem akan merekomendasikan materi baru yang lebih sesuai untuknya.

Saat Jiang Cheng bertanya apa Wei Wuxian ingin meninggalkan kota untuk tinggal di luar, temannya menjawab jika tidak. Jika ada jalan yang mudah, mengapa harus memilih yang sulit? Jiang Cheng masih ingat jelas kata-kata Wei Wuxian saat itu.

Kata-kata itu adalah kebohongan.

Dua tahun lalu, Wei Wuxian pergi meninggalkan Sistem dan tinggal di dunia luar.

Wei Wuxian melakukan tes kecocokan untuk menentukan pasangan hidup di usia 23. Orang yang ditentukan Sistem untuk mendapinginya adalah seorang pemuda berparas manis yang merupakan warga golongan C dari kota Qinghe. Tidak buruk, Jiang Cheng justru cukup iri karena Wei Wuxian mendapatkan pasangan semanis itu. Tapi tiga hari setelah tes itu, dia mendengar jika temannya mengajukan permohonan pengeluaran diri dari Sistem bersama Lan Wangji.

Dia tidak mengerti, benar-benar tidak mengerti.

Jika Wei Wuxian merasa keberatan dengan hasil tes Sistem, dia bisa saja melakukan tes kecocokan ulang. Bahkan jika dia benar-benar ingin bersama Lan Wangji, dia bisa mengajukan tes khusus untuk menilai kecocokan mereka. Dan jika memang tidak memenuhi standar Sistem... dia harusnya bisa menerima mereka tidak seharusnya bersama. Tidak ada alasan untuk pergi meninggalkan kota.

Lagi pula, apa yang bisa Wei Wuxian dapatkan dari Lan Wangji di dunia luar sana?

Pasangan sesama jenis bukan hal aneh di Sistem. Bagaimanapun juga, proses hamil dan kelahiran tidak lagi terjadi di dalam tubuh. Pasangan hanya perlu menyumbangkan genetika mereka ke data sistem dan mereka akan melakukan pembuahan di dalam rahim buatan, tempat seluruh orang dalam Sistem diciptakan. Dengan begitu, perempuan tidak perlu lagi merasakan sakit dan penurunan kondisi tubuh akibat proses hamil dan melahirkan. Keamanan dan kesehatan calon bayi juga akan dikontrol dengan baik. Maka dari itu, Sistem tidak lagi membedakan jenis kelamin dalam proses penentuan pasangan hidup.

Tapi di luar sana berbeda. Dunia luar tidak memiliki kecanggihan Sistem. Wei Wuxian dan Lan Wangji tidak akan bisa memiliki anak. Jangankan anak, Jiang Cheng bahkan mendengar jika pernikahan sesama jenis masih tidak akui di sana.

Jiang Cheng menganggap keputusan Wei Wuxian untuk pergi adalah keputusan terbodoh yang bisa laki-laki itu ambil.

Selama dua tahun ini Jiang Cheng kukuh dengan pemikirannya. Dia pikir itu tidak akan berubah, setidaknya hingga minggu lalu, saat dia menemukan pesan yang ditinggalkan Wei Wuxian sebelum temannya itu pergi.

Pesan itu muncul di komunikatornya secara ganjil minggu lalu, dia sudah hendak melaporkannya ke sistem saat melihat siapa pengirimnya. Wei Wuxian, nama yang dia pikir tidak akan lagi dia lihat.

Pesan itu pasti ditulis sebelum dia pergi, karena mustahil dia bisa menembus pengamanan Sistem dari dunia luar. Jiang Cheng masih tidak tahu bagaimana caranya Wei Wuxian meninggalkan pesan itu padanya, tapi temannya itu adalah ahli teknologi di pemerintahan pusat, dia mungkin menemukan satu atau dua loop saat melakukan pekerjaannya dan menggunakannya untuk meninggalkan pesan.

Jiang Cheng tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini. Ketika Wei Wuxian pergi, dia merasa marah, merasa dikhianati karena temannya tidak mengatakan apapun sebelum pergi. Dia ingin berkata jika waktu berhasil menyembuhkannya dan sekarang dia sudah lupa. Tapi tidak, kemarahan itu masih berkobar di dadanya, dikubur di antara kesibukan hariannya. Kemarahan itu masih di sana, membuat hatinya panas sekaligus sakit. Melihat pesan yang ditinggalkan Wei Wuxian, ingin rasanya dia melampiaskan kemarahan itu dengan langsung menghapusnya, namun dia tidak bisa membuat jarinya melakukannya. Bagaimanapun juga, ini mungkin kontak terakhirnya dengan orang yang menjadi sahabatnya selama nyaris dua dasawarsa.

Seminggu sudah berlalu sejak dia mendapatkan pesan itu, dia masih belum menghapusnya, tidak juga dengan membukanya. Hari ini, dia memutuskan dia akan membacanya—dan mungkin menghapusnya.

Karena dia harus tahu apa yang dipikirkan Wei Wuxian saat laki-laki itu memutuskan untuk pergi.

.

...*...

.

Jiang Cheng, aku sengaja mengatur agar kau menerima pesan ini dua tahun lagi, karena aku tahu kau akan langsung menghapusnya tanpa ragu jika menerimanya hari ini juga.

Seperti yang kau tahu, aku pergi. Dan ya, aku pergi dengan dan untuk Lan Wangji. Kami akan meninggalkan kota pada hari Rabu, tepat saat tengah malam. Aku tidak akan minta maaf karena tidak berpamitan, aku tahu kau akan marah dan meneriakiku meski tahu Sistem akan memberikan peringatan tentang tingkat kebisingan.

Kau temanku, teman terbaikku. Untuk ini aku tidak menganggap Sistem telah melakukan kesalahan saat menentukannya. Aku tidak benar-benar berpikir jika seluruh Sistem adalah salah, hanya saja... kau tahu aku. Aku tidak bisa terus tinggal di sini. Kalaupun aku memilih tinggal, Sistem akan tetap mengusirku dua atau tiga tahun lagi mengingat seberapa banyak aku mendapat peringatan tiap harinya—seperti yang selalu kau katakan.

Sial, bahkan di saat-saat seperti ini pun aku masih tidak tahu harus mengatakan apa.

Aku sudah berpamitan pada ayah dan ibuku sebelum memilih pergi, mereka paham. Mereka bilang, mereka beruntung Sistem mempertemukan mereka, tapi mereka tidak bisa memaksaku merasakan yang sama. Aku sempat berpikir untuk mengatakannya juga padamu, tapi aku tahu kau hanya akan marah. Aku tidak mau pergi dengan pemikiran jika kau membenciku untuk selamanya. Karena bagaimanapun juga, kau adalah temanku, andai Sistem tidak melarang, aku pasti akan memanggilmu saudaraku—karena seperti itulah kau untukku.

Aku tahu kau tidak pernah ingin meragukan Sistem. Aku juga tidak berusaha membuatmu berpikiran sama denganku. Kau punya masa depan yang kau nantikan dalam Sistem—tapi tidak denganku.

Seperti yang kau tahu, aku menginginkan kebebasan.

Jiang Cheng, aku masih tetap ingin bisa makan es krim tiap hari, bermain kapanpun yang aku inginkan, belajar apapun yang aku mau, dan juga menjalani hidup bersama dengan orang yang aku pilih sendiri.

Aku memilih pergi karena aku menginginkannya, aku sepenuhnya tahu risiko aku mungkin tidak akan pernah makan es krim lagi seumur hidup, terlalu sibuk bertahan hidup untuk bermain, dan harus belajar lagi dari nol tanpa bisa memilih karena pengetahuan yang kumiliki tidak bisa diterapkan di luar sana. Tapi aku tidak akan pernah menyesal telah memilih Lan Wangji—dan pergi dari Sistem.

Terakhir, aku merasa sangat tolol mengatakan ini, tapi jangan lupakan aku. Kalau ada orang di dalam Sistem yang masih mengingatku selain keluargaku, aku ingin itu adalah kau.

Selamat tinggal. Aku berjanji tidak akan muncul lagi untuk membuat masalah lagi.

Wei Wuxian.

.

...*...

.

Jiang Cheng menyesal membaca pesan dari Wei Wuxian.

Dia merasa dipermainkan oleh makhluk sialan itu. Wei Wuxian benar, Jiang Cheng tidak ingin meragukan Sistem.

Tidak saat hubungan orangtuanya merenggang dan Yu Xiyuan mengajukan permohonan untuk pisah rumah sementara dari suami dan anak-anaknya.

Tidak saat Jiang Yanli mendapatkan Jin Xizuan (bocah bodoh yang mengatai kakak perempuan Jiang Cheng tidak seharusnya mendapat kualifikasi warga kelas B) sebagai pasangan dalam tes kecocokannya.

Bahkan tidak saat dia melihat setumpuk surat cinta yang ditulis tangan Jiang Fengmian untuk Cangse Sanren—ibu Wei Wuxian. Yang tidak pernah diberikan dan tersimpan di laci rahasia di balik rak bersama versi cetak dua formulir pengajuan pengeluaran diri dari Sistem yang sudah tidak digunakan.

Dia ingin percaya jika Sistem tidak salah dan tidak akan pernah salah dalam menentukan hidup manusia. Dia ingin meyakini jika Sistem adalah puncak tertinggi kecerdasan buatan yang mampu mengatur tatanan hidup ideal untuk manusia-manusia terpilih yang berada di bawah naungannya.

Dia ingin percaya, karena Sistem adalah pondasi tunggal hidup Jiang Cheng.

Bagaimanapun juga, ayah dan ibunya kembali tinggal bersama setelah mendapatkan sesi konsultasi yang direkomendasikan Sistem. Mereka menjalani hubungan rumah tangga, tidak bisa dikatakan penuh cinta tapi keduanya saling menghormati satu sama lain.

Kakak perempuannya tampak begitu senang saat menunjukkan keponakannya pada Jiang Cheng. Dia bahkan membela suaminya saat Jiang Cheng ingin mengingatkan Jiang Yanli ejekan Jin Xizuan sebelumnya. Wanita itu juga mengatakan jika pernikahan ini adalah hal terindah yang pernah Sistem berikan padanya.

Dan perihal surat-surat Jiang Fengmian... dia bersyukur perasaan ayahnya terhenti pada surat-surat itu semata. Andai ayahnya benar-benar punya nyali untuk menyerahkan surat cinta beserta formulir pengajuan pengeluaran dari Sistem pada Cangse Sanren, maka Jiang Cheng tidak akan lahir. Begitu juga dengan Jiang Yanli. Dan Wei Wuxian.

Segalanya berjalan lancar karena Sistem tahu apa yang terbaik untukmu, dia ingin berpegang teguh pada hal itu.

Tapi pesan dari Wei Wuxian menggoncang pondasi ideologinya. Bagaimana jika Sistem tidak bisa menjamin kebahagiaannya? Bagaimana jika data-data yang terkumpul dalam Sistem masih tidak cukup sempurna untuk menentukan jalan hidup terbaik seseorang? Bagaimana jika selama ini dia salah berpikir jika kepastian akan masa depan akan selalu ada genggamannya? Karena, bahkan dalam Sistem sekalipun, tampaknya ketidakpastian selalu ada.

Dia ingin bilang pemikirannya konyol dan bodoh. Tapi jika dia berpikir begitu, itu sama artinya dia menyangkal pilihan temannya. Meyakini jika di luar sana, bersama dengan Lan Wangji, Wei Wuxian tidak akan sebahagia jika andai kata dia tetap tinggal dan menjalani hidup dengan orang yang ditentukan Sistem.

Jiang Cheng tidak bisa benar-benar mengetahui apa perasaannya. Hari ini adalah saatnya dia melakukan tes kecocokan. Sebelum kepergian Wei Wuxian, Jiang Cheng selalu mendambakan datangnya saat ini. Dia ingin tahu siapa orang yang akan berbagi seluruh sisa hidup dengannya, yang akan membesarkan anak bersama dengannya, yang akan menemani hari-hari pensiun dan jomponya hingga maut yang telah ditentukan tiba. Tapi sekarang... dia takut. Dia takut jika orang itu menolaknya, seperti Wei Wuxian menolak pasangannya.

Ah... bicara tentang pasangan seharusnya Wei Wuxian, Jiang Cheng bertanya-tanya kiranya apa yang terjadi pada pemuda itu? Jika dia sudah melakukan tes kecocokan, maka Sistem akan memberitahukan pembatalan hasil tes dan dia akan melakukan tes ulang. Bagaimana rasanya ditolak orang seseorang yang menurut data adalah orang yang paling sempurna untukmu? Saat mendapatkan nama lain sebagai pengganti pasangannya, mungkin dia akan bertanya-tanya apakah kebahagiaan yang didapatkannya di masa depan seharusnya bisa lebih dari yang akan dia dapatkan?

Jiang Cheng berdoa semoga orang itu belum melaksanakan tes kecocokan, karena akan lebih mudah baginya untuk hidup tanpa tahu dia pernah ditolak oleh seseorang yang seharusnya menjalani hidup bersamanya.

“Kau melamun,” Jiang Yanli menegur. Wanita itu secara khusus mendatangi rumah orang tuanya untuk menemani adiknya menjelang tes kecocokan. Tersenyum pada adiknya, “Apa kau gugup?”

Jika orang lain yang bertanya, Jiang Cheng akan mendengus dan membantah, mengatakan jika sama sekali tidak khawatir pada tes ini. Tapi Jiang Yanli selalu menjadi titik lemahnya, sulit untuk berbohong pada kakaknya. “Sedikit. Bagaimana jika orang itu tidak cocok denganku?”

Jiang Yanli mengerti alasan sesungguhnya di balik kegelisahan Jiang Cheng. Dia juga sudah menganggap Wei Wuxian sebagai adiknya, dan dia benar-benar sedih saat mendengar kabar kepergian Wei Wuxian dua hari setelah dia menelepon untuk mengucapkan selamat atas hasil tes kecocokan pemuda itu. “Apa itu karena Wei Wuxian?” tanyanya.

Jiang Cheng tidak menjawab.

“A-Cheng,” Jiang Yanli memanggil nama kecil Jiang Cheng dengan lembut. “Aku paham keresahanmu. Sistem memang luar biasa, ia menentukan pasangan kita berdasarkan kecocokan watak, pencapaian, genetik, dan ribuan data lainnya. Mencarikan kita seseorang yang kiranya akan paling memahami dan mengerti kita, yang akan membantu kita menjadi manusia yang lebih baik. Dan hasilnya nyaris selalu akurat. Aku yang dulu, saat pertama kali menerima hasil tes, tidak bisa membayangkan hidup yang harus kujalani dengan Jin Xizuan. Aku ragu, benar-benar ragu. Tapi, aku yang sekarang justru tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpanya.”

Jiang Cheng mendengarkan kata-kata kakaknya dalam diam. Dia tahu kakaknya tidak berbohong, dari senyum dan sorot matanya, dia bisa melihat jika Jiang Yanli dan Jin Xizuan pada akhirnya saling mencintai—seperti yang diprediksikan Sistem. Akankah dia dan pasangannya juga merasakan hal sama di masa depan?

“Tapi Sistem bukan hal yang absolut. Akurasinya memang begitu tinggi, tapi selalu ada pengecualin. Seperti Wei Wuxian—atau orang tua kita.” Jiang Yanli menangkup tangan adiknya di tangannya sendiri. “Wei Wuxian pergi karena dia tidak ingin mengkhianati perasaannya pada Lan Wangji. Dia tidak ingin masyarakat kita mengatakan jika ada orang lain yang bisa membuatnya lebih bahagia dibanding Lan Wangji. Dia tidak ingin membuat Lan Wangji memandang rendah dirinya sendiri karena Sistem menilainya tidak cocok untuk Wei Wuxian. Itu tidak salah—tapi tidak berarti orang-orang yang mengikuti Sistem, seperti aku, salah.”

“Tapi, bukankah itu adalah dua hal yang berlawanan?”

“Itu tidak. Dia mencari kebahagiaan melalui hatinya, aku mencari kebahagiaan melalui Sistem. Kami mencari hal yang sama dengan cara yang berbeda.” Wanita itu tersenyum kecil, “Kau mungkin tidak mengerti karena selama ini kau menganggap jika jalan yang ditunjukkan Sistem adalah satu-satunya jalan dan merupakan jalan terbaik. Tapi, suatu saat nanti kau pasti akan mengerti bahwa ada hal yang tetap tidak pasti meski itu sudah ditentukan oleh Sistem sekalipun.”

Jiang Cheng tidak bisa menjawab, karena kakaknya benar, dia tidak mengerti.

Melihat adiknya tidak mengatakan apapun, Jiang Yanli menepuk pundaknya. Mengerling pada tanda pengingat di jam tangan Jiang Cheng untuk tesnya. “Kuharap tesnya berjalan lancar dan kau bisa menemukan kebahagiaanmu—kalaupun tidak, kuharap kau tidak berpikir jika sudah tidak ada jalan lain.”

.

...*...

.

Tes kecocokan berlangsung selama empat jam penuh. Terbagi menjadi beberapa tes yang membuat Jiang Cheng sakit kepala. Dia diminta untuk menunggu di sebuah ruang tunggu khusus sementara hasil tesnya sedang diproses.

Di ruang yang nyaris kosong dan hanya berisi beberapa kursi kosong dan sebuah layar besar, pikirannya melayang ke berbagai pasangan di sekitarnya.

Jiang Fengmian dan Yu Ziyuan yang tidak saling mencintai namun dapat mentoleransi satu sama lain.

Jiang Yanli dan Jin Xizuan yang sebelumnya canggung satu sama lain namun kini adalah pasangan sempurna.

Wei Wuxian yang memilih untuk pergi bersama Lan Wangji dibanding harus tinggal di dalam Sistem bersama orang lain.

Jiang Cheng bertanya-tanya... akan jadi pasangan macam apakah dia dan orang yang ditentukan untuknya? Apakah mereka akan menjadi pasangan tanpa perasaan cinta yang hidup bersama karena terikat peraturan? Ataukah mereka akan jatuh cinta dan menyadari jika Sistem tidak salah telah mempertemukan mereka? Atau mungkin pasangannya sesungguhnya akan lebih bahagia bersama orang lain?

Jiang Cheng tidak tahu. Untuk pertama kalinya, dia merasa masa depannya tidak lagi pasti. Ketidakpastian itu membuatnya takut. Dan ini hanya satu ketidakpastian, dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidup di dunia luar yang dipenuhi ketidaktahuan seperti Wei Wuxian. Dari mana temannya itu bisa mendapatkan keberanian dan kenekatan sebesar itu?

Jika dia tidak bahagia... apakah dia berani mengambil jalan yang sama? Pergi ke dunia luar dan... dan... dia tidak tahu apa pastinya yang akan dia hadapi di sana.

Jiang Cheng tidak yakin dia sanggup melakukannya. Dia mungkin akan tetap bertahan hidup di dalam Sistem dan menelan kembali ketidakbahagiaannya karena itu adalah pilihan yang lebih mudah—seperti yang orang tuanya lakukan.

Dia pengecut.

Seorang pengecut sepertinya, bisakah dia membahagiakan pasangannya?

Apakah dia sendiri pernah benar-benar merasa bahagia selama ini?

Jika Jiang Cheng tidak bisa membuat dirinya sendiri bahagia, bagaimana dia bisa membahagiakan orang lain?

Bagaimana dia bisa menuntut orang lain untuk membahagiakan dirinya?

Pikiran-pikiran itu membuat kepalanya sakit. Ada bagian dirinya yang ingin pergi dari ruang kosong itu dan berlari... kabur. Sebuah beban besar terasa menggelanyuti punggungnya, membuatnya takut pada masa depannya sendiri. Tiba-tiba saja Jiang Cheng merasa dirinya belum siap untuk berbagi hidup dengan orang lain.

Lampu di sudut layar besar berkedip. Layar yang sebelumnya gelap, menyala, menunjukkan pesan.

Terima kasih sudah menunggu. Kami sudah memproses hasil tes kecocokan Anda. Data pasangan hidup Anda akan muncul dalam...

... 3....

Keinginan untuk kabur Jiang Cheng memuncak, tapi kakinya terasa kaku.

... 2...

Dia ingin menolak untuk melihat, namun matanya menatap tajam pada layar tanpa berkedip.

...1.

Seorang laki-laki muda muncul di layar. Rambut sepanjang bahu, mata besar yang memberi kesan polos, senyum kaku malu-malu. Wajah manisnya membuat Jiang Cheng terkesiap, menatapnya tanpa berkedip.

Inikah pasangan hidupku?

Sesuatu mengganjal hatinya. Dia tidak mengenal pemuda itu, tapi entah mengapa dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat.

Layar berganti, menampilkan foto-foto lain dari pemuda itu yang ada dalam sistem. Diruntut dari foto pertama yang diambil di hari di mana dia diserahkan pada orangtuanya setelah keluar dari ruang kelahiran. Bayi merah di dalam foto berubah menjadi seorang batita yang menatap ketakutan ke arah kamera. Dalam beberapa foto, dia sudah menjadi seorang anak kecil yang tersenyum lebar dengan wajah polos, satu gigi depannya ompong. Di foto berikutnya, gigi susu yang hilang sudah digantikan yang baru. Dalam beberapa foto, dia berubah menjadi remaja yang cantik—terlalu cantik untuk ukuran laki-laki. Remaja itu tumbuh dewasa, rahangnya mengeras dan fitur laki-lakinya mulai menonjol, kecantikannya berubah menjadi kesan manis yang mendominasi wajahnya.

Ya, mata besar dan senyum polos itu... Jiang Cheng tahu dia pernah melihatnya. Tapi dia tidak tahu di mana.

Kepalanya berputar sementara foto demi foto terus berjalan. Dia yakin bukan di sekolah. Jika ada seseorang seperti itu di sekolahnya, dia pasti akan ingat. Juga bukan di pekerjaannya. Setelah tahun pertama, dia sudah berhenti memperhatikan wajah orang-orang yang datang ke kantor pusat, dia pasti tidak akan merasa familier jika dia melihatnya di sana. Kenalan keluarganya? Dia rasa tidak. Seseorang yang hadir di pernikahan Jiang Yanli? Tidak, Jiang Cheng mengenal semua orang yang datang.

Siapa?

Dia sudah hendak menyerah saat layar berubah menunjukkan informasi pemuda itu.

Namanya Nie Huaisang.

Warga golongan C.

Berasal dari Kota Qinghe.

Jiang Cheng merasakan detak jantungnya terhenti. Dia ingat.

Tentu saja dia pernah melihat pemuda ini. Karena dua tahun lalu dia pernah iri pada Wei Wuxian karena mendapatkannya sebagai pasangan hidup.

.

...END...

.