Work Text:
Desis ketel dijerang dan semerbak aroma teh menggerayangi sudut-sudut ruangan. Laki-laki paruh baya itu meletakkan dua jumput daun teh pada teko yang sudah dibasuh sebelumnya, menuang air panas hingga tiga perempat penuh, lantas dan menutup teko porselen tersebut dan mendiamkannya selama satu menit. Sungguh, satu menit itu terasa damai.
Hiruk pikuk Pelabuhan Liyue di sore hari terdengar dari seberang jendela—suara bongkar muatan dari kejauhan, suara pedagang menjajakan barang, tawa anak-anak yang berlarian kesana kemari….
Ah, Liyue sudah jauh lebih baik.
Sore-sore begini waktu yang pas untuk minum teh seraya menunggu jam tutup Rumah Pemakaman Wangsheng. Zhongli menuang teh yang sudah diseduhnya ke dalam cangkir, menghirup aromanya untuk sesaat, lantas menyisip perlahan dari bibir cangkir. Pandangannya kemudian tertuju pada jendela. Semburat jingga menyelimuti bumi hingga sejauh mata memandang, matahari perlahan-lahan bersiap terbenam di ufuk barat. Sepuluh… tidak, lima belas menit lagi, ia akan beranjak merapikan gulungan kertas dokumen yang ada di meja Hu Tao, mengunci pintu, dan menyalakan semua perangkat penerangan di teras. Masih ada hari esok yang menunggu dengan segudang hal yang perlu diselesaikan.
Oh iya. Omong-omong Hu Tao, Zhongli ingat gadis itu pamit mau melakukan ritual di Bukit Wuwang tadi pagi. Biasanya, ia akan kembali dengan suara pekaknya di jam-jam makan siang seperti, “ Aku kembaliiii!~ ”, atau “ Zhongliiiii!~ ”, dan akan menyeret Zhongli sambil berceloteh dan nyengir-nyengir untuk makan bersama di Restoran Wanmin atau Kios Qinyue. Atau, jika ritualnya memakan waktu lebih lama, Hu Tao akan kembali menjelang matahari terbenam dengan wajah lelah—tapi senyum luar biasa (jahil? manis? silahkan interpretasi sendiri) itu akan selalu nangkring di bibirnya—dan meminta Zhongli untuk lekas membereskan sisa-sisa pekerjaan yang tidak terpegang olehnya. Mengingat hari sudah menjelang gelap, Zhongli yakin gadis itu akan kembali tak lama lagi.
Teh dalam teko sudah habis. Zhongli beranjak dari duduknya untuk membilas semua peralatan yang digunakannya untuk menyeduh teh. Setelah teko dan cangkir-cangkir kembali pada tempatnya, Zhongli beranjak menuju ruang kerja Hu Tao. Gulungan berserakan sana-sini dengan botol tinta terbuka dan kuas masih tercelup menjadi pemandangan pertamanya ketika membuka pintu. Semakin Zhongli melangkah mendekat, penampakan pun terlihat semakin jelas—dan, semakin bikin pening. Kenapa juga ada kalender di meja kerja? Dicoret-coret, pula. Buku-buku yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan tercecer sana-sini—seperti, Sajak-Sajak Ternama Liyue Lama atau Tata Cara Merakit Lentera Xiao, Mudah!
Tidak mau ambil pusing, Zhongli pelan-pelan menggulung satu demi satu kertas dan mengembalikannya ke rak sesuai tanggal. Buku-buku yang berserakan juga ia letakkan ke tempatnya semula. Botol tinta ditutup, kalender dikembalikan, kuas dibersihkan, meja dilap hingga mengilap. Biasanya Hu Tao ogah barangnya disentuh tanpa izin; tapi, berhubung gadis itu sedang tidak ada dan kantor harus segera tutup, Hu Tao harus berkenan ruangannya dirapikan.
Ruangan Hu Tao beres, Zhongli beralih mengecek ruangannya sendiri, menyortir dokumen berdasarkan urgensi dan tenggat waktu, lantas memastikan jendela beserta pintu sudah terkunci rapat. Sudah waktunya berkemas. Zhongli menyalakan lentera di teras dan mengunci pintu utama. Yap, Rumah Pemakaman Wangsheng sudah tutup untuk hari ini.
Tapi, Hu Tao belum pulang.
Pun, belum ada tanda-tanda batang hidungnya di pelataran pelabuhan.
Aneh. Sudah lazim bagi Hu Tao untuk pergi malam-malam; melatih para karyawan baru tentang tradisi mereka, sekedar uji adrenalin padahal ya medannya begitu-begitu saja, atau nongkrong di puncak tertinggi Hutan Huaguang demi inspirasi syair barunya. Tapi, itu semua dilakukan setelah Hu Tao pulang dan pekerjaannya tuntas. Setelah sekian lama Zhongli beres-beres, laki-laki itu menduga Hu Tao akan pulang tepat sebelum Ia mengunci pintu utama.
Ke mana gadis itu?
“Oh, Tuan Zhongli!” itu Koki Mao; pemilik Restoran Wanmin sekaligus ayah dari kawan karib Hu Tao, Xiangling. Ia kebetulan sedang lewat. “Baru tutup Wangsheng?”
Zhongli tersenyum, mengangguk. “Benar. Anda sendiri, mau ke mana?”
“Aiya, Xiangling belum kembali-kembali dari mengantar makanan ke dekat Danau Luhua. Resto sedang ramai-ramainya, karyawan kami semuanya sibuk. kami butuh dia untuk mengantar pesanan lain,” jawab Koki Mao. “Saya mau pergi mencarinya.”
“Ah,” Zhongli meletakkan kepalan tangannya pada telapak tangannya yang lain, seolah-olah sedang menemukan sebuah kebetulan. “Apa Xiangling sempat bertemu Hu Tao hari ini?”
Koki Mao menggeleng. “Dari cerita-ceritanya hari ini, sepertinya tidak,” sanggahnya. “Ada apa, Tuan Zhongli?”
Aneh. Hu Tao tidak pergi dengan Xiangling— Xiao hari ini juga anteng-anteng saja, tidak ada omelan penuh perasaan yang disangkal-sangkal— lalu, ke mana anak itu pergi?
“Bukan apa-apa,” balas Zhongli. “Baiklah, saya juga mau mencari anak saya dulu. Koki Mao, hati-hati dalam perjalananmu.”
“Anda juga!” dan, dengan demikian, jalan yang mereka ambil terpisah. Zhongli bermaksud menyusuri jalan dari Pelabuhan Liyue ke arah Penginapan Wangshu, lurus hingga Rawa-Rawa Dihua dan Bukit Wuwang; sementara Koki Mao mengambil jalan pintas ke arah Gunung Tianheng.
Di tengah-tengah perjalanannya, langkah Koki Mao berhenti. Ia berbalik badan; daratan tinggi tempatnya berpijak membuat Ia mudah menemukan Zhongli sudah berada di dekat gerbang pelabuhan. Ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.
“...Sejak kapan Tuan Zhongli punya anak?”
Hu Tao adalah gadis yang cukup terpandang di daratan Liyue. Sikapnya yang terkenal nyentrik dan gaya bicaranya yang kadang-kadang nyablak sering menjadi sorotan utama para warga. Ia juga dekat dengan anak-anak Liyue— garis bawahi, kedekatan dalam tanda kutip dengan anak pucat di Pondok Berobat Bubu— maka, semestinya, dengan deskripsi yang ala kadarnya pun Zhongli sudah dapat menemukan di mana gadis itu berada. Naas, meskipun sudah dijelaskan sedemikian rupa kepada orang-orang di sepanjang jalan, Hu Tao masih belum ketemu juga.
“Apa anda melihat anak saya?” Zhongli bertanya pada nenek-nenek berkacamata tebal di dekat pintu gerbang Desa Qingce. “Rambutnya panjang, dikuncir dua. Dia pakai topi bunga-bunga.”
“Oho-ho… Rumah tangga anak muda zaman sekarang…” nenek itu tertawa ala orang tua, napasnya pendek-pendek seperti sedang sesak. “Kenapa dia kabur? Ibunya marah-marah?”
Walah. Baru saat itu Zhongli sadar bahwa kata-katanya kepleset dari nona direktur jadi anak saya.
“Ah, bukan begitu maksud saya… dia tidak kabur, hanya belum pulang.”
Nenek itu mengangguk mafhum. “Anak kecil memang suka main ke mana-mana… ya… maklumi saja, anak sekecil itu memang masa-masanya eksplorasi,” sambungnya. “Rumahmu di mana? Biar nenek tua ini antarkan anakmu kalau ketemu.”
Zhongli tersenyum, tidak bermaksud melanjutkan percakapan. Kalau tidak dihentikan, bisa-bisa nenek ini makin ngelantur kemana-mana. Dengan hati-hati, Zhongli memapah nenek itu untuk masuk kembali ke dalam rumahnya, mengantar hingga pintu. “Saya akan cari sendiri. Sudah malam, Nek. Selamat istirahat.”
Gejala demensia rupanya bukan main-main dampaknya. Ya… tidak tahu saja beliau kalau Hu Tao sudah tidak kecil dan Zhongli sudah tidak muda. Baru saja Zhongli hendak melanjutkan perjalanannya menuju Bukit Wuwang, nenek itu berulah lagi.
“Ah, Dongdong, tolong pria ini,” si nenek menyetop seorang anak kecil yang sedang berlari membawa jaring ikan. “Dia sedang mencari anaknya. Kamu tadi main dengan anak kuncir dua tidak?”
“Anak kuncir dua siapa, nek?” mengernyit, anak itu menatap heran. “Aku cuma main dengan Liu dan Luo. Liu dikuncir dua.”
“Kalau kakak kuncir dua yang tingginya segini,” Zhongli mengarahkan tangannya ke pundaknya, “pakai topi bunga-bunga. Kamu lihat, tidak?”
Anak itu terdiam sebentar, kelihatan sedang berpikir. Tak lama, matanya berbinar seolah-olah baru menemukan sesuatu.
“OH!” Pekiknya, “Kakaknya pakai celana pendek, ya kan?”
Mendengar gaduh-gaduh di bawah sana, seseorang yang sedang bersandar pada batang pohon besar di puncak tertinggi desa Qingce tersenyum tipis.
Anak saya, katanya.
Orang itu terkikik geli. Mungkin, sebentar lagi, tempat persembunyiannya akan ketahuan.
“Ayo, ikut aku, paman!” Dongdong mulai berlari, meninggalkan Zhongli yang berjalan pelan-pelan di belakangnya.
“Semoga orang yang kamu cari lekas ketemu,” nenek itu berkata untuk terakhir kali, tersenyum lembut. “Dia terdengar sangat berharga bagimu.”
Dongdong membawa Zhongli berjalan menuju puncak tertinggi Desa Qingce, tempat kuil di mana para warga biasa memberi sesaji kepada para adeptus berada. Angin malam berhembus lembut. Zhongli mengedarkan pandangannya, melihat suasana desa yang damai dan penuh kehidupan. Memang, Liyue sudah jauh lebih baik.
“Paman, kakaknya ada di situ!” Dongdong menunjuk pohon rimbun di area kuil. Kalau dilihat dekat-dekat, ada rambut kecokelatan yang menyembul dari balik batangnya. Kala Zhongli mendekat, Hu Tao tiba-tiba berbalik badan dan merentangkan tangannya lebar-lebar.
“WA!!”
Dongdong mundur dua langkah dengan wajah pias dan jantung berdebar-debar, Zhongli tetap pada tempatnya dengan raut wajah datar, sementara Hu Tao cekikikan.
“Mencariku, ayah ?”
“Ahem,” Zhongli berdeham, menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan raut wajahnya yang agak tersipu. “Ayo pulang, nona direktur.”
Gadis itu nyengir. “Nggak mau, aku mau di sini dulu!” tatapannya beralih pada Dongdong, tersenyum manis. “Terima kasih sudah mengantar ayah- ku kemari ya!”
Dongdong mengangguk, lantas pergi dengan lambaian tangan. “Besok-besok tangkap ikan lagi sama aku ya, kakak!”
Hu Tao balas melambai dan mengangguk-angguk heboh. Setelahnya, Ia menatap Zhongli yang beranjak mendekat dan mendudukkan diri di sebelahnya, bersandar pada batang pohon yang sama.
“ Ayah mau nemenin aku ngelamun?”
“Tolong hentikan penghinaan terselubung ini, nona.”
“Yeeee, siapa juga yang mulai,” Hu Tao makin nyengir, menyikut lengan Zhongli berkali-kali dengan intensi mengejek. “Lagian, tumben kamu repot-repot nyariin aku?”
Zhongli menghela napas. “Tidak biasanya nona pulang terlambat. Saya hanya khawatir.”
“Wahaha! Sori, tadi habis ritual aku kepingin main-main sebentar di sini. Nggak kerasa sudah malam, aku malas kembali,” Hu Tao mencari alasan. “Semua pintu sudah dikunci, berarti?”
“Sudah.”
“Ruang kerjaku, Zhongli bersihkan juga?”
“Iya.”
“Siapa yang kasih izin?!”
“Nona mau besok pagi datang kerja dan mejanya masih porak poranda?”
“Hehe, enggak sih,” kilahnya seraya cengar-cengir. “Makasih, ya.”
“Mhm, sama-sama.”
Setelah gumaman singkat itu, suasana hening untuk beberapa saat. Hu Tao menekuk kedua kakinya, memeluk lutut seraya merasakan hembusan angin malam. Bulan sabit bersinar lembut, terpatul jelas pada danau yang beriak lembut.
“Zhongli lihat kalender yang aku corat-coret, berarti?”
Laki-laki itu terdiam sesaat, lanta mengangguk pelan.
Hu Tao menghela napas, bersiap memulai ceritanya. “Itu tanggal hari ini. Orang yang aku antar barusan sudah lama mati, tapi baru bisa dapat pemakaman yang layak hari ini.”
“Saya tahu,” yah, bagaimana pun juga, bukankah Zhongli yang bertanggung jawab atas segala dokumen Rumah Pemakaman Wangsheng?
“Lantas, mengapa?”
“Anak itu baru tiga belas tahun,” Hu Tao menatap Danau Desa Qingce yang berkilau memantulkan cahaya bulan dengan tatapan kosong. “Aku nggak terlalu kepikiran soal itu, sebenarnya. Toh, semua yang hidup di bumi akan merasakan mati. Yang berbeda adalah, kapan kita mendapatkannya—yang sudah mati berarti sudah dicukupkan tugasnya di dunia, yang masih hidup hanya akan menunggu kapan saatnya tiba.”
Zhongli menoleh sedikit untuk melihat ekspresi Hu Tao. Tidak, tidak ada senyum jahil atau keceriaan yang biasanya selalu terpasang apik pada raut mukanya. Hanya ada ketiadaan—hampa, seolah-olah seluruh sifat jenaka itu lenyap tak bersisa.
Gadis itu menghela napas. “Tapi, dia dengan entengnya bilang, aku mau langsung ke sana! Sekarang! Nggak pakai lama!, Padahal, biasanya, anak-anak muda sering nggak terima sama takdir kematiannya. Nggak heran kenapa mereka sering berkeliaran dan ogah untuk menyeberang cepat-cepat.” Hu Tao memberi jeda, melepas topinya. Selagi angin menyapa ubun-ubunnya, jari jemari itu memainkan ornamen bunga pada topi warisannya seraya tersenyum tipis. “Zhongli tahu? Waktu aku tanya, kenapa begitu ?, dia jawab, karena kakek sudah lama sekali nunggu aku di sana! ”
Ah, rasanya Zhongli tahu ke percakapan ini akan mengarah ke mana.
“Lalu?”
“Ya, begitu. Dia pamit, bilang terima kasih, lalu menyeberang. Tiga belas tahun, Zhongli. Aku juga masih tiga belas waktu kakek berpulang. Kebetulan macam apa, ini?”
Senyap sejenak. Suara jangkrik bersahut-sahutan dan gemerlap kunang-kunang bertebaran menemani perbincangan mereka malam ini. Zhongli sedang ingin jadi pendengar hari ini—dan, ia tidak akan menginisiasi apa-apa kecuali Hu Tao memulai perbincangannya sendiri.
“Aku sudah cerita sama Zhongli belum, sih?” Hu Tao tiba-tiba menoleh ke arah Zhongli, mencermati wajahnya yang kelihatan tidak mengerti dengan kedua alis terangkat sedikit. “Waktu proses ritual kakek itu, aku nunggu di perbatasan lama banget cuma buat ketemu kakek. Tapi, kakek nggak ada… Kata orang-orang di sana, semua yang sudah menyeberang artinya sudah selesai dengan hal-hal duniawi. Aku sempat berpikir, apa kakek nggak kepikiran aku, ya? Apa kakek sudah nggak peduli dengan aku yang masih di dunia, ya? Umurku waktu itu tiga belas, sama kayak anak itu, tapi aku nggak bisa menyeberang seenaknya cuma untuk ketemu kakek dan memperjelas pikiranku yang enggak-enggak.”
Hu Tao kembali terdiam, memainkan ujung ornamen bunga pada topinya sekali lagi. Ada seutas senyum tersemai pada bibirnya. Tapi, itu bukan senyum yang biasanya. Ada sedikit rasa pahit—samar, tidak terlalu ketara, namun terasa. Zhongli merogoh sakunya, mencari saputangan sebelum percakapan ini berlanjut dan berubah menjadi semakin sendu. Begitu ketemu, Ia sodorkan selembar kain lembut dengan aksen bunga-bunga di tepiannya itu pada Hu Tao.
“Nona direktur mau menangis?”
Hu Tao menoleh ke arah sodoran itu untuk sesaat, melongo kepada si saputangan, lantas tertawa terpingkal-pingkal.
“Kamu bercanda ya, Zhongli!” Hu Tao refleks menampar (dengan intensi bercanda, tentu) punggung tangan Zhongli yang memegang saputangan.
Laki-laki itu menggeleng.
“Siapa tahu? Nona direktur boleh-boleh saja menangis. Tidak ada yang melarang,” Zhongli menyarungkan kembali saputangan itu. “Jadi, bagaimana?”
Hu Tao masih dalam sisa-sisa tawanya. Kedua kakinya sampai menghentak-hentak udara, tidak percaya kalau Zhongli mengira dirinya sedang kena mental breakdown gara-gara ritual penyeberangan kali ini. Satu menit kemudian, tawa itu pelan-pelan pudar. Hu Tao mengusap matanya yang berair karena terlalu senang, mengatur napasnya yang tidak beraturan.
“Ya, nggak gimana-gimana. Aku cuma keinget kakek karena anak tadi. Itu aja.”
Zhongli memilih untuk tidak membalas. Gadis itu menoleh ke arah Zhongli, nyengir lebar, “Aku sudah nggak kepikiran apa-apa lagi soal kakek yang nggak mau menemuiku. Barangkali, kakek sudah kelewat percaya kalau aku bisa ngelakuin apapun tanpa pengawasannya,” sambung Hu Tao.
“Lagian, aku punya Zhongli!” ketika gadis itu merebahkan kepalanya pada lengan Zhongli, laki-laki itu masih enggan menanggapi. “Kalau ada apa-apa, Zhongli selalu siap bantu aku. Ya, kan? Ya, kan?”
Melihat Hu Tao menaik-turunkan alisnya berkali-kali dengan senyum-penuh-makna, Zhongli menghela napas panjang. “Iya, nona.”
Hu Tao terkikik geli. “Karena hari ini Zhongli lagi baik sama aku, ayo kita makan dimsum udang di Wanmin! Zhongli yang bayar!”
Belum sempat Zhongli buka suara, gadis itu sudah lebih dulu berdiri dan menarik-narik lengannya. “Ayo, ayo! Aku laper!”
Mau tidak mau, Zhongli hanya menurut, membiarkan Hu Tao menariknya dan bergelayut pada lengannya sepanjang jalan. Celotehan yang biasanya terlontar dan tidak selesai-selesai itu kini kembali, senyum jenaka dan sorot mata bercahaya itu sudah hadir lagi. Seperti Hu Tao yang biasanya . Zhongli melirik gadis itu—yang sedang bercuap-cuap ria tentang ritual hari ini—dari sudut matanya, memberi tatapan geli.
Anak ini, benar-benar… tidak bisa saya tangani.
Namun, siapa yang tahu kalau Zhongli diam-diam menyemai seulas senyum tulus? Saking samarnya, ditambah pencahayaan yang tidak begitu ketara, barangkali hanya hantu-hantu di Bukit Wuwang; atau mungkin, Direktur Rumah Pemakaman Wangsheng ke-75 di alam sana yang dapat melihatnya.
