Work Text:
Pekerjaan Wonwoo itu sebagai pengantar galon dan gas ke para pelanggan di perumahan cukup elite di dekat depo milik bosnya. Kadang dia mendapat tambahan tips kalau bantuin buat masangin gas sama ngangkatin galon ke dispenser.
Mukanya yang ganteng dan badannya yang bagus suka bikin Wonwoo digoda sama ibu-ibu langganannya. Kadang juga dijodohin sama anak perawan mereka. Sementara buat langganan istimewa Wonwoo menyediakan layanan tambahan yang ga banyak diketahui orang.
Seperti hari ini. Wonwoo dapet tugas nganterin galon sama gas ke rumah Jeonghan. Ibu dua anak yang suaminya seorang pengusaha batubara. Rumahnya cukup besar dan mewah.
Wonwoo selesai memasang gas lalu lanjut mengganti galon di atas dispenser. Hari itu dia pakai celana pendek dan kaos oblong hitam. Begitu selesai menjalankan tugasnya Wonwoo langsung ditarik pemilik rumah ke ruang keluarga yang luas.
Tubuh Wonwoo memantul di atas sofanya yang empuk lalu disusul wanita cantik yang duduk di atas pangkuannya. Mereka saling tersenyum dengan tangan Wonwoo mengelus pinggang ramping wanita yang sedikit lebih tua darinya itu. Sambil bibir mereka berbagi ciuman panas dengan saling melumat dan menghisap.
"Siang ini sama aku ya, mas. Lagi gatel nih memeknya."
"Emang nggak dapet jatah dari suami, mbak?"
"Suamiku udah tua. Gampang letoy."
Memang. Suami Jeonghan itu duda yang berusia 20 tahun lebih tua dari dirinya yang sudah kepala tiga. Sudah dapat cucu dari anak tertua dari istri pertamanya. Sedikit lagi si tua itu akan pensiun dari pekerjaannya. Jeonghan mau dinikahi orang tua itu hanya demi mengejar hartanya saja.
"Tapi itu anaknya pada tidur di situ gimana?" Wonwoo menunjuk dua bocah umur 13 bulan dan 4 tahun yang sedang tidur pulas di atas karpet tebal depan TV. Ruangan juga dibikin gelap biar mereka bisa tidur lelap.
"Nggak apa-apa. Mereka udah nyenyak tidurnya ga akan ganggu. Nyusu dulu ya mas."
Kaos Jeonghan diangkat dan langsung menampilkan dua buntelan daging yang montok. Toket busui yang masih penuh dengan susu. Tampak putingnya tegang dan daging kenyal itu terasa keras.
"Si adek belum nyusu ya, mbak?"
"Tadi udah kenyang minum sufor. Makanya kamu aja yang nyusu, sakit nih."
Wonwoo tak menyiakan kesempatan langsung menyesap pentil itu. Benar saja. Susu murni ibu langsung keluar mengucur menyapa lidahnya. Amis dan sedikit saja manisnya. Wonwoo makin semangat menyedot susu yang keluar sambil yang satunya diremas.
Karena diremas cairan putih juga ikut keluar dari sebelah. Wonwoo gantian menyedot dan sebelahnya gantian diremas. Rasanya Wonwoo bisa kenyang minum susu Jeonghan tanpa harus mampir ke warung kopi biar bisa melek. Rambutnya dijambak Jeonghan yang keenakan lantaran dua pentilnya dimakan habis. Sedotan Wonwoo yang kuat bikin lubang bawahnya makin gatel dan kedutan.
"Mmmmhhhh enaahk mas sedot terushhh…"
Jeonghan menjambak rambut Wonwoo yang sedang bermain dengan puting besarnya. Lidah itu berputar di sekitar areola lalu menoel tonjolannya yang mengacung keras. Wonwoo kembali menyedot sisa susu yang masih juga menetes dari sana.
"Udah nggak sakit toketnya, sayang?"
"Hem eh. Udah nggak bengkak, jago kamu nyedotnya. Sekarang keluarin kontolnya." perintah Jeonghan yang langsung dituruti Wonwoo.
Celana kolor itu hanya diturunkan sampai kontol besar Wonwoo kelihatan. Sudah setengah tegang dan mengacung. Jeonghan memasukkan satu pentilnya lagi ke mulut Wonwoo sambil selangkangannya mengambil posisi.
Lapisan basah dan panas langsung menyentuh batang penis Wonwoo. Rupanya Jeonghan juga tak memakai celana dalam. Jadi ketika roknya diangkat tempik gatalnya sudah siap menggosok permukaan kontol Wonwoo.
Pinggulnya maju mundur menggesek sepanjang batang Wonwoo yang keras. Belum masuk. Rasa gatal yang tadi dirasa langsung berganti dengan nikmat dan cairan yang makin bertambah becek.
Tangan lihai Jeonghan juga menelusup ke dalam kaos Wonwoo mencari dada bidangnya yang juga montok. Sembari Jeonghan meremas pentil Wonwoo bibir mereka saling melumat satu sama lain. Tak lupa pinggul yang saling menggeliat menyamakan friksi.
Desahan keduanya berusaha diredam agar tak mengganggu dua bocah yang sedang tidur. Walau terdengar suara sofa kulit berderit akibat gerakan mereka.
"Eunghh.. Mamaa…" lenguhan dari si kecil menghentikan kegiatan dua orang dewasa yang terlarang itu.
Jeonghan langsung lompat turun untuk menenangkan sang anak yang hampir menangis mencarinya. Takut nanti si kakak juga ikut bangun kalau mendengar adiknya menangis. Pentil sisa dihisap Wonwoo tadi kini ganti dikenyot bibir mungil itu.
Wonwoo yang kadung sange langsung melepas semua celananya lalu ikut berbaring di belakang Jeonghan. Rok Jeonghan diangkat untuk membelai memeknya yang panas tadi. Sudah sangat becek dan licin.
Lalu kontolnya Wonwoo dimasukkan perlahan ke dalam lubang memek Jeonghan. Pelan saja Wonwoo menggerakkan pinggulnya agar si kecil yang sedang menyusu tak terganggu.
Wonwoo mengajak Jeonghan berciuman sambil kontolnya terus bergerak di dalam lubang sang wanita. Seakan mengerti situasi, si jagoan kecil melepas emutannya dan lanjut tidur dengan pulas. Wonwoo yang melihatnya langsung saja menghentak kencang menumbuk lubang Jeonghan.
Kaki Jeonghan diangkat sebelah agar Wonwoo bisa bergerak dengan mudah. Tubuh sang wanita sampai melonjak menerima hentakan Wonwoo yang tak kenal ampun itu. Jeonghan menutup mulutnya agar tak bersuara yang bisa membangunkan anak-anaknya lagi.
Hingga Jeonghan sampai pada klimaks pertamanya siang itu. Basah rembes menetes di pahanya karena Jeonghan squirt dalam klimaksnya. Wonwoo membaringkan tubuh Jeonghan telentang sambil menciumi langganan VIPnya itu.
"Aku belum klimaks, sayang." bisik Wonwoo.
"Bikinin adek buat abang ya, mas."
Iya. Anak laki-laki 13 bulan itu hasil benih yang ditanam Wonwoo dalam perbuatan terlarang mereka yang sudah dijalani 2 tahun terakhir ini. Tanpa sang suami ketahui.
Wonwoo tersenyum mengangguk senang. Kontolnya kembali masuk ke lubang senggama favoritnya. Paling favorit di antara yang lain. Total ada 3 ibu-ibu langganan VIPnya di perumahan ini, tapi di antara mereka tak ada yang saling tahu. Dan Jeonghan yang mendapat jackpot benih Wonwoo yang tumbuh dengan sehat dan menjadi anak tampan itu. Ibu-ibu yang lain sudah steril jadi aman saja bagi Wonwoo melayani mereka.
Jeonghan telentang dengan pentil bergoyang di sebelah anak-anaknya. Badannya dihentak kuat oleh Wonwoo yang juga kesetanan mengejar klimaks. Wonwoo senang melihat pentil sang wanita melompat-lompat ikut bergoyang. Dua kaki Jeonghan diangkat mengangkang dengan pinggul Wonwoo tak lelah bergoyang.
Jeonghan meremas karpet melampiaskan kenikmatannya. Pijatan otot rahimnya semakin kuat menjepit kontol Wonwoo yang sudah bengkak siap meledak. Dan tak lama semburan hangat terasa di dalam rahim Jeonghan yang juga ikut berkedut hebat mendapatkan klimaks bersamaan.
Wonwoo mendiamkan kontolnya di dalam Jeonghan untuk beberapa lama sambil berciuman panas dengan sang wanita. Menikmati klimaks dalam balutan peluh di siang hari itu.
"Semburin ke muka aku juga." dan Wonwoo menurut.
Jeonghan sempat mengemut sebentar ujung kontol Wonwoo agar kembali tegang mumpung masih sensitif. Dan setelah beberapa kocokan benar Wonwoo kembali menyembur di muka Jeonghan yang cantik. Yang disembur tersenyum senang sambil menjilati yang mampir di mulutnya.
"Skincare alami dari kamu bikin mukaku kenceng."
"Ambil sesuka kamu, sayang." Wonwoo mengecup kening Jeonghan yang basah oleh keringat. Membuat si wanita tersenyum senang dan merasa disayang.
"Aku udah ambil beberapa aset si bapak buat jadi atas namaku. Kalau dia tiba-tiba mati atau aku diceraiin, aku udah punya pegangan. Biar nanti kita bisa gedein abang sama calon adeknya sama-sama."
Wonwoo hanya tersenyum sambil mengiyakan hayalan Jeonghan.
Dan siang itu Wonwoo keluar dari rumah Jeonghan dengan birahi terpuaskan dan 3 juta tunai di sakunya. Lalu bergegas ke rumah VIP lain yang sudah mengirim foto telanjang menunggu kedatangan dirinya.
