Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Miya Twins Week 2024
Stats:
Published:
2024-10-01
Updated:
2024-10-08
Words:
2,530
Chapters:
5/7
Comments:
6
Kudos:
22
Bookmarks:
1
Hits:
457

Miya Twins Drabble

Summary:

Entry for #MiyaTwinsWeek2024

Notes:

haikyuu punya furudate haruichi

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Childhood

Chapter Text

Osamu sangat suka es krim vanila.

Maka setiap kali keluarga Miya pergi ke restoran keluarga, makanan penutup untuk Osamu sudah ditentukan. Semangkuk es krim dengan rasa vanila dan remahan biskuit sebagai pelengkap.

Atsumu sangat suka memperhatikan bagaimana rupa adik kembarnya saat kudapan dingin itu masuk ke mulut Osamu. Dia terlihat begitu bahagia seperti saat itu adalah hari ulang tahunnya. Pipinya yang gembil memerah rekah dan Atsumu tidak bisa untuk tidak terpesona.

“A-aku juga mau es krim!” dia sontak memulai. Kedua orang tuanya saling berpandangan, namun mereka menyetujui. Dipesanlah es krim vanila lain untuk Atsumu, lalu anak itu makan dengan bahagia bersama adiknya.

Es krim itu manis dan enak. Sensasi dinginnya unik dan Atsumu tidak bisa untuk membencinya. Ini rasa yang semua kalangan pasti menyukainya. Remah-remah biskuit yang menjadi pelengkapnya juga sangat cocok dilahap bersama sang es krim.

Tapi ada yang kurang, batin Atsumu sembari melihat kepada es krimnya. Pelan-pelan benda itu meleleh di mangkuk dan Miya tertua merasa tak nyaman. Ini sama sekali berbeda. Makanan itu tidak seenak yang dia kira.

Apakah karena rasanya vanila?

Tidak juga, semua es krim pasti enak. Karena Osamu, terlepas dari rasa es krimnya vanila atau matcha, dia akan melahap semuanya seperti Pac-man dengan gembira. Lagipula Atsumu tidak punya masalah dengan kudapan lain bervarian sama.

Jadi, apa masalahnya?

“Tsumu kenapa? Kalau ga mau nanti aku makan es krimmu,” Osamu mengangkat alis saat melihat kembarannya terdiam di depan es krimnya. Pipi gembul Miya adik belepotan es krim dan remah biskuit. 

“Ya sudah, buat Samu aja,” katanya memutuskan. Begitu berani, lantaran biasanya Atsumu akan merengek kalau makanannya dimakan Osamu (walaupun sebenarnya yang banyak terjadi adalah kebalikannya).

Ketika Osamu menerima es krim sisa Atsumu dan melahapnya dengan pandang puas, barulah Atsumu menyadari. Bukanlah rasa vanila atau panganan manis yang membuat es krim itu istimewa.

Tetapi, keberadaan Osamu.

Osamu yang memakan es krim (dan secara teknis, makanan apa pun) dengan bahagia. Osamu yang menerima makanan dengan gembira. Osamu yang melahap semua yang terhidang di depannya dengan penuh rasa syukur dan ceria.

Senyum dan bahagia Osamu-lah yang membuat semua makanan yang dia santap jadi begitu istimewa. Karena itulah Atsumu menjadi merasa kurang, karena rasa bahagianya kalah dengan bahagia Osamu saat menyantap makanan.