Chapter Text
"Mulai besok ikut Daddy Mark, ya. Menurut sama Daddy dan jangan melawan atau pun membantah. Harus menurut!"
Nasihat itu diberikan kepada dua bocah perempuan berusia tujuh tahun yang sedang berdiri patuh menghadap kepala panti. Kedua kepala itu nampak mengangguk dengan patuh, akan berusaha untuk mengikuti nasihat yang diberikan dengan sebaik mungkin.
Namanya adalah Haechan dan Donghyuck. Haechan adalah yang pertama lahir, kemudian beberapa jam berikutnya barulah sang adik Donghyuck yang lahir. Begitu keduanya telah terlahir, sedih sekali mereka harus ditinggalkan oleh ibu mereka yang meninggal karena pendarahan parah.
Ibu mereka adalah sebatang kara yang selama ini berjuang sendiri untuk bertahan hidup sekaligus memertahankan keduanya. Tidak memiliki keluarga, pacar atau pun suami, benar-benar sendiri. Maka dari itu selepas kematiannya, maka si kembar ini diberikan ke panti asuhan. Bertahan di panti asuhan sampai setidaknya masuk usia 7 tahun sebelum akhirnya seorang lelaki berusia dewasa datang untuk mengadopsi mereka bersama secara sekaligus.
Bersama ayah baru mereka, Haechan dan Donghyuck mendapatkan fakta bahwa ayah mereka adalah tipikal orang yang begitu tegas, cukup galak, menakutkan, disiplin -bahkan lebih disiplin dari si Mery gendut penjaga asrama panti.
Tapi meski pun demikian, si kembar tidak merasa khawatir akan hal itu sebab mereka telah berusaha semaksimal mungkin untuk beradaptasi dengan bagaimana pola didik yang diterapkan oleh ayah mereka. Selagi tidak melanggar peraturan yang sudah ayah mereka terapkan, dan tidak berbuat nakal, maka ayah akan menyayangi dan sangat lembut kepada mereka.
Itulah cara Haechan dan Donghyuck bisa bertahan sampai sejauh dan selama ini ketika akhirnya mereka telah memasuki usia remaja, 17 tahun.
Tidak terasa sudah 10 tahun mereka telah membersamai Ayah mereka, menjadi sebuah keluarga yang selalu nampak harmonis.
"Hyuckie, Daddy ke mana?" Siang itu Haechan tidak mendapati ayah mereka ada di rumah. Padahal ini akhir pekan, dan jika akhir pekan biasanya ayah mereka akan berada di rumah secara penuh, tidak pergi ke mana-mana.
"Gak tau Channie. Kayanya tadi pergi deh sama Kak Karin. Tapi gak bilang pergi ke mana, coba tanya sama bibi." Donghyuck masih asik dengan bukunya, ia memiliki hobi membaca dari sejak pertama diadopsi oleh ayah mereka. Semua berawal dari ketika ayah mengajaknya masuk ke dalam perpustakaan pribadi yang ada di rumah ini, menghabiskan waktu siang bersama dengan membaca buku di sana. Dari sana kebiasaan itu terus berlanjut, sampai akhirnya itu menjadi kegiatan rutin yang disenangi oleh Donghyuck bahkan sampai sekarang di saat ayah sudah mulai sibuk dan jarang memiliki waktu untuk menemaninya membaca bersama.
"Kalau pergi sama Kak Karin berarti lama dong perginya!" Haechan memekik heboh sambil keluar seringai senang. Kak Karin adalah asisten pribadi ayah mereka, jika mereka berdua pergi bersama di akhir pekan seperti ini maka artinya kemungkinan besar mereka sedang menghadiri sebuah seminar dengan ayah mereka sebagai pembicara.
Jika sudah begitu, paling tidak pulangnya akan malam karena sehabis mengisi seminar ayah mereka pasti juga akan datang ke acara perjamuan makanan yang diadakan oleh penyelenggara acara.
"Kayaknya iya deh. Soalnya Daddy tadi bajunya rapi banget-akh! Channie mau apa?!" Donghyuck terkejut ketika tangannya main ditarik oleh sang kakak dengan begitu saja, menyebabkan bucu dalam pangkuan yang tengah ia baca terlempar jatuh dengan begitu saja.
"Uda ayo ikut aja!" Haechan masih menyeret Donghyuck, keluar kamar, turun dari tangga dan berjalan jauh menuju belakang rumah sampai akhirnya mereka berhenti tepat di depan sebuah pintu dengan rantai bergembok yang menutupnya.
Donghyuck bulatkan matanya penuh kejut dengan ke mana Haechan membawanya. Ia tatap sang kakak dengan mata yang membulat sempurna.
"Channie, mau apa ke sini? Daddy sudah larang kita supaya jangan main-main atau pun dekat-dekat ruangan ini! Ayo masuk ke rumah lagi!" Donghyuck tarik tangan Haechan, ingin membawanya pergi dari sana.
Tapi Haechan menolak. Ia menggeleng kasar, berbalik untuk menarik tangan Donghyuck supaya tetap bertahan di tempat.
"Kamu gak penasaran apa sama isi ruangan ini? Dari dulu Daddy selalu larang kita ke sini, aku curiga isinya itu banyak uang punya Daddy yang sengaja disimpen di sini!" Haechan berkata dengan nada penasaran, begitu menggebu dan terdengar sangat ingin tahu.
Donghyuck menaikkan satu alisnya.
"Channie, uang jajan kamu kurang ya kok sampek mikir gitu? Lagian kalau isinya uang kenapa? Kamu mau ambil?" Donghyuck menatap Haechan dengan tidak percaya. Ia masih berusaha menarik tangannya, menolak dan enggan untuk masuk ke dalam.
"Ish! Gak gitu Hyuckie! Aku cuma penasaran aja sama apa isi di dalemnya! Kita ngintip sekali ini aja, biar penasarannya ilang! Ayok!" Haechan menarik tangan Donghyuck dengan penuh paksaan, ia bawa sang kembaran agar kembali mendekat pada pintu.
"Channie, tapi nanti kalau Daddy tau gimana? Daddy bisa marah, terus kalau kita kena hukuman Daddy gimana?" Donghyuck cemas sekali di samping Haechan. Ia gigit bibir bawahnya cemas, sedangkan mata menatap sekeliling, berusaha memastikan tidak akan ada yang menangkap basah aksi mereka, terlebih sang ayah.
"Ih, Daddy paling hukumannya cuma dikurangi uang jajan sama disuruh bersihkan kamar sendiri selama satu bulan. Gak berat Hyuckie, kita sudah besar jadi sudah bisa lakukan itu semua." Haechan merogoh sesuatu dari saku rok selututnya. Sebuah kunci, kunci yang berhasil ia curi dari kamar ayahnya.
"Gi-gimana kamu bisa dapat kuncinya?!" Donghyuck terkejut sampai membulatkan mata.
Haechan hanya terkekeh saja.
"Semalem, sewaktu kita bobok sama Daddy. Aku diem-diem ambil kuncinya, ada di laci ternyata, hehehe!" Haechan masih lanjut terkekeh.
Donghyuck menggeleng pelan.
"Jadi itu alesan kamu semalem maksa bobok di kamar Daddy, diem-diem ada niat terselubung. Daddy bisa marah lho, Channie kalau dia sampek tahu." Donghyuck menatap Haechan yang sudah berhasil membuka gembok rantai yang mengikat gagang pintu ruangan milik ayah mereka.
Setelah itu Donghyuck pikir semua sudah selesai, tapi ternyata tidak. Ada pintu di balik pintu. Haechan mengeluarkan sesuatu yang lain dari saku roknya, kartu akses masuk.
"Berhasil!" Teriak Haechan dengan senang. Ia bertepuk tangan, menoleh kepada Donghyuck dan segera meraih tangannya dalam genggaman, ia seret kembarannya agar segera masuk ke dalam.
Begitu mereka masuk, rasa penasaran mereka segera berubah menjadi rasa kaget, terperangah, menganga, heran dan juga bingung.
"Ini... Ruangan untuk penelitian dan eksperimen Daddy kah? Isinya..." Haechan menganga, matanya berkeliling, menatap seluruh sisi ruangan dengan tidak berkedip sama sekali.
Ruangannya sangat besar dan luas. Bahkan di dalam ruangan ini juga ada ruangan di dalamnya. Ada tiga pintu dengan tulisan keterangan yang berbeda di depannya, kultur jaringan, inkubasi, dan pengujian mikrobiologi. Sedangkan yang ada di depan mereka, ada beberapa rak dengan banyak buku, dengan banyak tabung kaca, ada yang ukuran kecil ada juga yang ukurannya besar. Tabung itu berisikan banyak hal, yang kecil dengan panjang sekitar 10-30 cm, berisikan beberapa cairan dengan aneka warna, ada juga yang berisikan cairan bening dengan beberapa bagian/potongan makhluk hidup di dalamnya. Tidak jauh dari sana ada tabung dengan ukuran yang lebih besar, berjajar di samping rak. Isinya juga sama saja, hanya saja di dalamnya memiliki ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan isi dari tabung yang ukuran kecil.
Haechan dan Donghyuck tahu bahwa ini pasti berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh ayah mereka, atau ya segalanya yang berkaitan dengan profesi ayah mereka sebagai seorang ahli sains dalam bidang biologi.
Ada meja kerja milik ayah mereka, meja panjang dengan banyak berkas di atasnya juga beberapa peralatan yang Haechan dan Donghyuck kurang tahu apa saja namanya.
"Udah yuk, kan uda tau isinya apa. Ayo keluar yuk, Chan. Aku takut Daddy tahu, terus kita dimarahin-"
"Ssstt!" Haechan cukup bebal, ia menyuruh Donghyuck agar diam. "Daddy pulangnya masih lama Hyuck, gak usah penakut gini dong, santai aja!" Haechan berkeliling di dalam ruangan itu. Ia perhatikan seluruh isinya, sesekali tangan akan terulur untuk menyentuh hal-hal yang baru pertama kali ia temukan dan lihat.
"Tsk!" Donghyuck berdecak dengan sikap keras kepala kembarannya.
Haechan tidak peduli, malah tertawa renyah saat melihat wajah masam yang ditunjukkan oleh adik dengan usia yang hanya berbeda beberapa jam saja dengannya itu.
"Hyuck, ini apa ya? Kenapa isinya gini. Kaya tentakel, gerak-gerak gitu, iihh gelii!" Haechan menyentuh tabung kaca ukuran 1,5 meter yang ada di dekat meja kerja ayah mereka. Isinya adalah cairan bening dengan sesuatu yang sudah ia sebutkan tadi, seperti tentakel yang fleksibel dengan banyak sulur, dan lubang-lubang yang bisa melekat pada permukaan tabung. Warnanya merah muda, dan jumlah tentakel yang dimiliki, Haechan hitung ada banyak sekali, sampai Haechan kesulitan untuk bisa memastikannya. Panjang dan pendeknya berbeda-beda, ada yang panjang sekali sampai harus melingkar-lingkar di dalam, ada juga yang pendek sehingga mampu menari bebas di dalam sana.
"Iya, kaya tentakel... Tapi di pucuknya ada anu, itu apa sih Chan... Ujungnya kaya punya mulut, aneeeeeh!" Donghyuck berdiri di samping Haechan. Menunjuk pada bagian ujung tentakel yang bentuknya seperti memiliki sebuah mulut, yang bisa menganga dengan lebar, Donghyuck merasa geli dan takut sehingga ia reflek mundur.
"Ihh, takut digigit sama mulutnya! Chan, ih! Jauh-jauh yuuk!" Ajak Donghyuck sambil terus melangkah mundur. Ia tarik lengan kembarannya, yang sama seperti tadi, lagi-lagi mendapatkan penolakan.
Haechan menyingkirkan tangan Donghyuck.
"Ih, apa sih Hyuck! Gak usah tarik-tarik gitu, gak suka!" Haechan memarahi adiknya. Ia juga geli dan agak jijik dengan tentakel itu, tapi ia tak suka ditarik-tarik seperti itu, karena adiknya itu suka sekali meremas lengannya dengan kasar saat melakukannya.
"Iish! Ayo keluar Chaaan! Gak mau di sini!"
"Gak mau Hyuck! Kalau mau keluar, keluar sendiri aja sana! Hih, aku masih mau liat-liat di sini, lagian juga Daddy pasti pulangnya masih lama! Jadi aku harus manfaatin waktu sebaik mungkin Hyuck, gak boleh dilewatin gitu aja!" Haechan dorong lengan Donghyuck, sebagai balasan karena Donghyuck sudah membuat lengannya sakit sebab sejak tadi terus ditarik-tarik.
"Gak boleh Chan! Ini gak sopan, kita gak boleh masuk ruangan orang sembarangan, apalagi uda dikasi peringatan larangan sebelumnya! Ayok keluar!" Keduanya sama-sama keras kepala.
Tapi Haechan lebih keras kepala, sangat tidak tertandingi. Haechan sentak bahu Donghyuck kasar sambil menatapnya nyalang.
"Aku bilang kalo mau keluar, keluar sendiri aja! Aku mau liat semua isi ruangan Daddy ini barangkali ada yang menarik! Sana kamu kalau mau keluar, ya keluar aja! Jarang-jarang tauk kita punya kesempatan ini!" Haechan menggerutu dengan sikap kembarannya. Susah payah ia mendapatkan kunci serta kartu akses masuk ke ruangan ini setelah semalam ia memaksa untuk tidur bersama ayah mereka. Padahal sejak usia 12, Haechan sudah tidak mau dipeluk, digendong, atau pun dikecup oleh ayah mereka dan boro-boro mau tidur bersama. Semalam itu, Haechan turunkan semua gengsinya yang merasa sudah dewasa dan tak mau diperlakukan sebagai anak kecil lagi hanya demi agar bisa mencuri momen, kesempatan untuk mendapatkan kunci serta kartu akses ini secara diam-diam.
Dan setelah berhasil, sayang sekali kalau dia hanya masuk lalu keluar dalam waktu sesingkat ini.
Tidak bisa!
Upayanya menahan gengsi semalam itu sangat besar, jadi harus dibayar dengan layak, dengan cara memeriksa seluruh penjuru isi ruangan ini tanpa ada sedikit pun gangguan.
"Eehh! Ehh! Aduh! Donghyuck!" Tapi semua tidak bisa berjalan dengan lancar ketika Haechan merasakan tangannya ditarik, diseret kasar serta kasar oleh Donghyuck. Kembarannya itu masih tidak mau menyerah untuk membawanya keluar dari sini.
Lama-lama Haechan kesal juga.
"Donghyuck! Lepas gak!" Haechan berhenti, ia menahan dirinya agar tidak mengikuti langkah kaki Donghyuck. Tangannya ia tarik kasar, berhasil. Mata menatap nyalang kepada Donghyuck.
"Haechan!" Tapi Donghyuck lebih dulu keluar teriakan kepada Haechan.
Haechan tidak takut dan gentar sedikit pun pada teriakan tersebut. Sebaliknya, ia angkat dagu dan balas menantang Donghyuck dengan tatapan berani.
"Apa?! Aku masih mau di sini! Kamu kalo mau keluar ya keluar aja! Gak usah ribet deh Donghyuck! Keluar sana, gak usah ganggu aku!" Haechan mendorong bahu Donghyuck keras, sampai Donghyuck terhuyung dan nyaris terjengkang ke belakang.
Donghyuck tidak terima didorong seperti itu, ia tatap Haechan dengan tatapan kesal, penuh amarah.
"Dasar keras kepala! Aku bakal aduin semua kelakuan kamu ke Daddy ya Haechan kalo masih gak mau keluar sekarang!" Donghyuck membawa ancaman, ia balas untuk mendorong Haechan. Dengan dorongan pelan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan yang Haechan lakukan kepadanya tadi. Tapi tetap saja meski pun demikian, Haechan tidak terima didorong seperti itu oleh Donghyuck.
Dari sana mereka berdua saling membalas. Haechan mendorong Donghyuck, kemudian Donghyuck akan membalasnya. Selain saling dorong, mereka juga saling lempar teriakan kepada satu sama lain. Donghyuck berteriak sangat keras, dibalas tidak kalah keras oleh Haechan.
"Ih! Dasar tukang ngadu! Gak bisa jaga rahasia! Jelek Donghyuck! Jeleek!" Haechan menjambak rambut Donghyuck kasar, ia dorong-dorong badan itu, dan setelahnya ia mendapatkan tamparan pelan di pipinya.
"Dasar tukang buat onar! Haechan bandel, nakal! Rusuh! Rusuh!! Gak bisa diem-ARGH!" Donghyuck memekik untuk kesalahan dan perbuatan yang ia lakukan sendiri. Ia tersandung, badannya terhuyung ke depan menabrak Haechan yang tidak siap dengan kehadiran badannya.
"WAAA!"
Mereka berdua berteriak bersama saat badan mulai melayang. Haechan terhuyung ke belakang dengan Donghyuck yang menubruknya, menimpa tubuhnya. Awalnya Haechan pikir dia akan terjengkang dan mendarat di lantai, tapi ternyata punggungnya lebih dulu membentur tabung kaca besar yang ada di belakangnya.
'BRAAAK!'
Bunyinya keras sekali. Haechan merasakan punggungnya agak nyeri sebelum kemudian ia jatuh dalam posisi terduduk, dan Donghyuck masih betah menempel padanya.
"Aduuhh!" Keluh Haechan merasakan sakit pada punggungnya.
"Donghyuck! Gara-gara kamu ya punggung aku sakit!" Haechan memarahi kembarannya yang sekarang juga terduduk di depannya.
"Maaf Haechan, gak sengaja-eh?!" Donghyuck membulatkan mulutnya, ia mendongak dan matanya langsung membulat saat melihat permukaan tabung kaca besar yang tadi berbenturan dengan mereka retak permukaannya.
"Channie... Tabungnya retak-" Donghyuck menunjuk pada tabung di belakang Haechan.
Haechan mendengus, awalnya tidak terlalu menghiraukan, akan tetapi saat ia menoleh dan melihat sendiri hasil perbuatan mereka, retakan itu sangat besar dan banyak sekali.
"Aduh! Donghyuck! Gimana ini, kalo sampek itu pecah, Daddy pasti bakal marah!" Haechan panik, ia berdiri sambil menatap takut pada permukaan tabung yang ada di depannya.
Retakannya besar, dan menyebar banyak dari bagian tengah sampai ke atas dan bawah hingga akhirnya terus menyebar sampai melingkar, ke seluruh permukaan tabung.
'CTAAAR!'
Tabungnya pecah. Donghyuck dan Haechan reflek mundur sambil mulut tidak berhenti keluar teriakkan.
"Aaarrghh!" Itulah teriakan mereka saat menyaksikan detik-detik pecahnya tabung kaca besar milik ayah mereka. Hanya satu tabung yang di dalamnya berisikan tentakel mengerikan yang tadi sempat membuat mereka terheran-heran sekaligus takut.
Tabung itu pecah, seluruh isinya tumpah-ruah. Haechan melihat kakinya basah, terkena cipratan cairan bening yang ada di dalam tabung tersebut. Selain itu pun beberapa pecahan kaca juga mengenai kakinya, tapi tidak sampai melukai, hanya terkena sedikit percikan.
"Haechan, lari! Tantakelnya gerak-gerak!" Adalah Donghyuck yang keluar teriakan, mengajak Haechan agar kabur dan lari.
Haechan segera sadar dan tersentak pada realita ketika ia merasakan kakinya terlilit oleh sesuatu. Ia menunduk sambil membulatkan mata. Salah satu sulur tentakel dengan ujung menyerupai lidah sedang melilit kakinya, bersama permukaan yang terasa sangat lengket, melekat erat pada permukaan kulitnya hingga membuat ia kesulitan untuk menyingkirkan tentakel itu dari kulitnya.
"Donghyuck! Gak bisa lepas! Ka-kaki akuu Donghyuck!" Teriak Haechan sambil menghentakkan kakinya heboh, berusaha melepaskan tentakel itu dari kakinya tapi apalah daya tiba-tiba saja badannya terasa sedikit terangkat, melayang kecil dari permukaan lantai.
Haechan semakin panik, apalagi saat ia melihat ke depan pada tentakel yang terus bergerak dengan lebih liar. Jumlah tentakelnya ada banyak, memiliki bentuk seperti slime yang lentur dan agak mirip seperti benda berlendir tapi lebih padat. Permukaan bawah tentakel juga memiliki bulatan-bulatan kecil macam yang dimiliki tentakel gurita, hanya saja jumlahnya tidak sebanyak dan semenyeluruh gurita, hanya di beberapa bagian saja. Lalu tentakel itu bergerak, cepat sekali dan tiba-tiba sudah menari-nari di depan mukanya.
Haechan kaget, hanya bisa bergeming di tempat sambil menahan napasnya kuat-kuat.
"Haechan! Aku juga-nghh! Kaki akuu dililiit!" Donghyuck mendapatkan nasib yang sama seperti Haechan. Kakinya terlilit tentakel, dari bagian tumit, terus melingkar sampai ke bagian pahanya. Tentakelnya memiliki besar seukuran lengan anak kecil, melilit dengan cukup kuat dan membuat Donghyuck kesulitan untuk bergerak.
Haechan tak bisa menolong dan tak bisa melakukan apa pun ketika kini kondisinya bahkan lebih parah dari Donghyuck. Donghyuck hanya sekadar mendapatkan lilitan sampai paha, sedangkan Haechan sendiri malah merasakan tentakel itu seperti berjalan, menyusuri pahanya, terus naik sampai menyentuh paha bagian dalamnya, dan itu ada dua tentakel, masing-masing berada di kanan-kiri pahanya.
"Aarghh!" Haechan menjerit terkejut, badannya masih melayang dan sekarang tiba-tiba kedua pahanya dibuat merenggang, mengangkang dengan lebar. Haechan menunduk, melihat sekumpulan tentakel itu semakin gila dalam menari-nari dan menggerayangi badannya.
"Aanghh... Channhh!" Desahan muncul dari Donghyuck yang badannya sekarang sudah melayang dengan dikelilingi oleh 5 tentakel yang memiliki beragam ukuran. Yang 2 melilit pahanya agar melebar dan mengangkang selayaknya Haechan. Yang dua lainnya melingkari perut kecil dan ramping milik Donghyuck. Dan tersisa satu kini sedang menyelinap masuk di balik kaos Donghyuck.
Donghyuck kegelian dengan setiap sentuhan yang ia dapatkan dari kelima tentakel yang melilit tubuhnya. Apalagi yang berada di pahanya. Itu membuat Donghyuck tidak nyaman, ingin merapatkan kaki namun tidak bisa dan malah membuatnya berakhir mendapatkan sentuhan seperti jilatan dari sebuah lidah besar yang lebar dan kasar.
"Uunghhh!!! Geliihh! Lepas-lepaas!" Donghyuck meronta, ia merasakan pahanya semakin dijilat dan semakin basah. Itu terasa sangat geli, dan juga menggelitik, tapi di sisi lain sukses membuat sekujur tubuhnya merinding dengan hebat. Sangat aneh sekali, Donghyuck juga bingung mengapa ini bisa membuatnya bereaksi seperti ini, tak bisa dijelaskan dengan baik sebab sentuhan-sentuhan ini dan rasa-rasa ini adalah hal yang baru untuknya, yang belum pernah ia rasakan dan dapatkan sebelumnya.
Donghyuck terus menyerukan desahan sembari kepalanya mendongak tinggi dan kaki yang menendang ke arah udara secara kasar. Menggelinjang tidak tertahan karena tentakel itu terus bergerak, menggerayangi anggota tubuhnya semakin liar.
Kondisi yang tidak kalah buruk juga dirasakan oleh Haechan. Bahkan kaosnya sudah robek, hancur berantakan sebab ada empat tentakel yang merusuh dan memasak masuk menyelinap di dalam kaosnya, tidak muat dengan kehadiran keempat tentakel tersebut maka koyaklah koas Haechan. Badan ramping gadis remaja 17 tahun itu kini sepenuhnya berada dalam kendali tentakel-tentakel berlendir, berwarna merah muda, ada yang memiliki ujung seperti mulut, ada yang seperti lidah, bahkan ada yang bentuknya seperti kepala penis.
Haechan pusing, ia menunduk ke bawah hanya untuk melihat kedua dadanya diremas, dililit dua tentakel, kemudian ada satu mulut tentakel yang menghisap putingnya, sedang satu tentakel lagi memiliki bentuk lidah sedang menjilati putingnya brutal.
"Aahhh... Lepaashh! Gak mauuh! Ja-jangaan beginiihh! Ahhh! Pentiill akuuhh! Hiikkss dadddy toloong!! Hyuucck toloong!" Haechan meronta sambil menangis, meminta tolong kepada orang-orang yang mustahil bisa membantunya. Ayah Mark tidak ada di sini, sedangkan Donghyuck kondisinya bahkan tidak jauh beda dengan dirinya.
Haechan meronta dengan masih menangis, putingnya dihisap dalam dan kuat. Sedangkan yang satu terus dijilati secara intens, terkadang lidah itu juga melingkar, melilit putingnya hingga mencuat makin tinggi, tegang sempurna, dan terasa sakit sebab lilitannya yang terlalu kuat. Tangannya berusaha melawan, tapi langsung muncul tentakel lain untuk mengikat dan membelenggu tangannya ke atas kepala. Ia tak berkutik, tak bisa melakukan apa pun.
Kini Haechan tak bisa meronta dan melawan lagi, terlalu banyak tentakel yang memainkan tubuhnya. Menyerang pada titik-titik sensitif yang membuatnya merasakan sengatan asing yang sebelumnya tak pernah dirasa. Sengatan nikmat yang membuat garis alam bawah sadarnya merasa ketagihan dan terus menginginkan lagi dan lagi, sangat bertentangan jauh dengan kewarasannya.
"Aaahhh!! Haaechaaann! Ad-adaa yang jilat-jilat memek ak-akuuh! Aahh... Stop! Stop-iisshh! Jaangan!" Donghyuck menggeleng kasar, dengan kaki terbuka yang ditahan oleh dua tentakel, kini ia mengangkang lebar bersama dua tentakel lain yang menggerayangi kelaminnya. Pertama ia merasakan vulva miliknya dijilati, lalu gelambirnya itu dilebarkan, dibuka dengan sesuatu yang terasa seperti lidah.
Donghyuck sudah mencoba melawan, tapi sama seperti Haechan yang tangannya dililit dan terbelenggu di atas kepala, membuat ia harus berakhir -terpaksa memasrahkan diri pada segala perilaku yang ia dapatkan dari para tentakel menggelikan yang sangat mesum itu. Mesum sekali karena menggerayangi tubuh mereka, menjamah hal-hal intim sampai ke bagian terdalam yang membuat mereka mengerang nikmat tidak karuan seperti ini.
Kedua anak kembar itu berada dalam posisi yang sama, melayang dengan tubuh yang dipenuhi oleh tentakel, masing-masing ada tujuh atau delapan tentakel yang menggerayangi tubuh mereka. Kaki mereka terbuka lebar, rok mereka diturunkan dan celana dalam mereka dirobek dengan mudah oleh mulut tentakel itu. Bau kewanitaan manusia segera menguar setelah celana Haechan dan Donghyuck terkoyak. Kondisinya basah, berlendir karena cairan kelamin masing-masing yang mengalir akibat rangsangan yang didapatkan di titik sensitif tubuh mereka.
"Aahh... Ahhh... Aahhh!" Haechan mendesah keras ketika ia sudah sampai kepada tahap klitorisnya dihisap oleh ujung tentakel yang berbentuk mulut itu.
Mulut itu memiliki bentuk yang melingkar, bulat mengerucut dengan bagian bibir yang tipis, kecil dan di dalamnya terasa kasar, seperti ada gerigi-gerigi kecil yang meggilas klitorisnya. Ini persis seperti bentuk kepala dan mulut ikan lemprey. Saat mulut itu menghisap putingnya tadi, Haechan benar-benar dibuat lemas tidak berdaya karena sensasinya sangat melumpuhkan. Terlalu nikmat, lebih lagi puting sensitifnya juga mendapatkan sentuhan dari gerigi-gerigi kecil yang ada di dalamnya.
Dan sekarang mulut serupa ikan lamprey itu juga menggilas klitorisnya. Dihisap kuat-kuat, sambil lubangnya mendapatkan goda dari sesuatu yang licin serupa lidah yang lentur sekali.
"Aahhh!! U-udaah! Akuuhh mauuh pipisss! Aahhh... Itiil akuuh! Stoop-hiiks! Mau pipiissh! Piiipis!" Haechan masih menangis, antara hisapan di puting dan di klitorisnya, semua berlangsung sangat konstan, sangat intens dsn kuat bagai tiada akhir. Badannya merinding hebat, pinggulnya sudah naik-naik, dan desahan semakin nyaring saat lidah dari tentakel lain mulai nakal ingin memasuki lubang vaginanya.
Gila.
Semua sentuhan ini terasa sangat dan terlalu gila untuk Haechan atau pun Donghyuck. Efeknya sangat luar biasa, nikmatnya begitu sulit terdefinisikan. Tapi yang jelas tubuh keduanya secara perlahan mulai menikmatinya, terlalu menikmati sampai semua upaya pemberontakan tadi kini telah sirna, bergantikan menjadi pemandangan yang menyuguhkan kepasrahan mereka.
"Aahhh! Di sanaah! Iyaah! Ter-teruussh!" Sampai Donghyuck juga sudah tidak bisa mengelak lagi, baik badan dan pikirannya sekarang secara nyata, terbuka dan tidak munafik lagi, menikmati semua sentuhan yang ia dapatkan. Dadanya yang diremas oleh lilitan tentakel, yang sengaja dimantul-mantulkam oleh para tentakel itu, Donghyuck menikmatinya dengan baik sampai secara tak tahu malu sengaja membusungkan dada tinggi. Pinggulnya juga sengaja ia gerakkan, demi menyelaraskan gerak dengan sesuatu yang sudah masuk, menerobos, menjebol lubang perawannya.
Donghyuck digenjot oleh salah satu tentakel sampai badannya terlunjak-lunjak, sampai bercak darah yang tadi sempat menetes saat ia dijebol, menyiprati lantai di bawahnya hingga kotor. Cukup brutal, cairan kelaminnya mengalir dengan deras, menyebabkan lubangnya basah, sangat basah dan licin sehingga itu mempermudah gerakan keluar-masuk dari salah satu tentakel di dalam lubangnya. Ukurannya cukup besar, membuat Donghyuck merasa lubangnya seperti disumpal sampai benar-benar penuh.
Di sebelah Donghyuck, kondisi Haechan ternyata sama saja. Lubang perawannya juga sudah dijebol. Mereka berdua sama-sama sedang digenjot dengan bagian dada yang juga sama tengah terlilit tantakel, dan puting-puting yang dihisap kuat oleh mulut tentakel lain. Baju mereka sudah koyak, mereka telah telanjang total secara sepenuhnya.
Desahan merdu menggema di dalam ruangan, kaki yang terbuka semakin lebar, serta badan yang terlonjak-lonjak di udara. Mereka berdua menikmatinya, menikmati hal-hal yang sebenarnya masih belum bisa mereka pahami secara penuh bagaimana hal yang awalnya terasa menjijikkan ini semakin lama malah terasa semakin nikmat dan membuat ketagihan.
"Ouuhh! Arrhhh udaah gak kuat! Mau pipiiss-aarghh!" Kali ini Haechan benar-benar ingin pipis, satu sodokan terakhir dari si tentakel yang kuat dan mantap telah berhasil menghantarkannya pada nikmat yang luar biasa, yang terasa seperti badannya dilambungkan tinggi, jauh menuju surga dunia. Klimaksnya hebat, ia keluar banyak dengan derasnya air kencing yang mengucur dari uretra miliknya. Terkencing-kencing dengan paha yang bergetar, pinggul mengejan dan dada yang berdegup kencang sekali.
Air kencingnya mengalir derah, mengucur seperti air mancur dan jatuh membasahi lantai di bawahnya.
Saat Haechan menoleh, ia melihat Donghyuck juga sedang mengejan dengan air kencing yang juga sama mengucur deras dari kelaminnya. Klimaks mereka keluar secara bersamaan.
Mereka pikir ini sudah usai, badan mereka lemas, napas mereka memburu tidak beraturan, sangat payah sekali kedengarannya. Hasrat ingin melepaskan diri kembali muncul, tapi para tentakel itu tetap erat membelenggu badan mereka, tidak mau melepaskan mereka.
"Haechan, mereka gak bisa lepas! Aku mau keluar! Gak mau kayak tadi lagi-aaahh! Haechaaan! Susu ak-aku!" Donghyuck merasakan ngilu saat putingnya kembali dihisap-hisap, ia menunduk dan kepala tentakel berbentuk mulut itu kembali rakus menyedot putingnya. Hisapannya kuat sekali, sampai dadanya ikut tertarik naik.
"Hiks! Daddy mana, mau lepas! Kita gak bisa lepas Hyuck, kita butuh Daddy buat lepas dari mereka!" Haechan menangis, kini sepertinya baru menyesali keputusan nekat masuk kemari dengan lancang sampai menyebabkan hal seperti ini terjadi. Seharusnya tadi ia turuti rengekkan sang kembaran yang ingin keluar dari ruangan ini.
Bantuan tak kunjung datang, si kembar lagi-lagi kembali digarap oleh keganasan para tentakel itu. Kelamin si kembar kembali penuh, kembali mendapatkan genjotan yang membuat badan keduanya lagi-lagi terlonjak dahsyat, juga mulut mereka terus nyaring menyuarakan desah. Kenikmatan yang fana kembali membaluti tubuh mereka, membuat mereka seketika kembali naik dan lupa akan daratan.
Terlalu terhanyut menjadikan mereka sampai tidak sadar jika dari arah pintu masuk ada suara langkah kaki yang mendekat. Dia adalah Mark, sosok ayah angkat kedua bocah kembar itu, sekaligus sebagi sosok yang merupakan pemilik ruangan ini yang sejatinya telah ia beri tanda peringatan khusus di depan untuk tak sembarangan masuk.
Tapi peringatan dan peraturan itu malah dilanggar oleh kedua anak kembarnya. Yang selama ini Mark anggap sebagai dua gadis lucu yang tak pernah nakal, selalu patuh dan tak mungkin menimbulkan masalah.
Setidaknya itulah yang ada di dalam bayangan Mark selama ini, sebelum pagi ini ia disadarkan pada realita jika kenyataannya kedua bayinya itu sangatlah nakal, sangat tidak patuh, bertingkah seperti calon pemberontak handal, dan sukses membuat kekacauan di dalam ruangan sakralnya.
"Da-dad! Daddy! Tolongin Channieh-aarghh! Linuh pentil aku linuuh, udaah dong lepaash! Daddy mau lepaash... Aaahhhh!" Haechan merengek merasakan putingnya digarap habis-habisan oleh mulut tentakel, parahnya lagi ada dua, keduanya berebut ingin menghisap puting kanannya, sedang puting yang kiri tengah dihisap oleh tentakel lain.
Mark berhenti melangkah ketika jaraknya dengan kedua anaknya sudah dekat, hanya sejangkah saja. Ia perhatikan penampilan kacau milik kedua anaknya secara bergantian. Rambut acak-acakkan, muka teler keenakan yang memerah dan penuh keringat, terus mendesah dengan mulut terbuka yang sesekali meneteskan liur. Keringat membanjiri tubuh keduanya, membuar kulit mulus itu mengilap dan berkilau sempurna. Ada banyak tentakel yang menempel pada mereka, semua menggerayangi titik-titik nikmat yang sukses memancing kedua anaknya itu keluar desahan nikmat yang begitu heboh.
"Siapa yang izinkan kalian masuk ke sini? Siapa yang curi kuncinya?" Mark berdiri, melipat tangan sambil menatap kedua putrinya secara bergantian.
Mark jelas marah, sejak dahulu ia selalu menekankan jika peraturan apa pun yang ada di rumah ini, dari yang terkecil pun, ia tak suka jika ada yang sampai melanggarnya, bahkan jika pelakunya adalah kedua anak gadisnya sendiri. Tidak pernah ada ampun atau pun diskriminasi hukuman, yang salah jelas akan tetap mendapatkan hukuman.
"Hiks! Daddy bantuh Channie lepas-aahhhh! Gak kuat Daddyy bantuh lepass!! Arghmmm!" Haechan mendadak tidak bisa bicara ketika mulutnya disumpal oleh tentakel, bends kenyal dan lunak itu memenuhi mulutnya, menggenjot mulutnya dengan gerakan yang brutal, sama brutalnya dengan tentakel yang tengah menggenjot lubang bawahnya.
"Haechan, Daddy! Yang mencuri Haechan! Hiikss... Uunghh Daddy bantu lepa-aaahhh! Jangaan dimakaan memek akuh.... Sshhh!" Dengan kalimat terbata akibat klitorisnya dimakan dan dihisap kuat oleh mulut tentakel itu, Donghyuck mengadukan ulah kembarannya, berharap dengan ini ayah mereka hanya akan menghukum Haechan saja, dan juga berharap jika ayahnya bisa segera membantunya untuk lepas dari belenggu para tentakel yang menggelikan itu.
"Tapi kamu ikut, Donghyuck." Mark melirik kepada Donghyuck, putrinya yang sekarang sedang memasang wajah memelas, nampak menyedihkan, semakin menyedihkan saat isakan dan air mata itu tumpah.
Donghyuck menangis, dan ini disebabkan karena tubuhnya yang sudah tidak kuat menahan semua sentuhan serta stimulasi yang didapatkan dari tentakel-tentakel yang menempeli.
"Ga-gak Daddy!" Donghyuck menggeleng kasar, ingin menjelaskan bahwa dia sudah berusaha untuk mencegah Haechan, bahwa dia sebenarnya juga tidak mau ikut masuk, dia sudah berusaha menarik Haechan keluar tapi gagal dan malah berakhir seperti ini. Donghyuck ingin menjelaskan semuanya. Tapi sayang sekali distraksi dari sesuatu yang menggenjot lubangnya, yang memakan puting susunya, yang menghisap klitorisnya, yang menjilat-jilat pusar serta perutnya, serta yang terakhir adalah tentakel yang lagi-lagi menyumpal serta menggenjot mulutnya, membuat Donghyuck tidak berkutik, tak bisa bicara apa-apa atau pun berusaha menjelaskannya.
Donghyuck menggeleng, tidak bisa. Dia tidak bisa.
"Daddy gak terima alesan, yang salah harus tetap dapat hukuman. Dan di sini kalian yang bersalah." Ucap Mark sambil melepaskan jasnya, menaruhnya asal di atas meja kerjanya yang sudah berantakan. Mark duga jika yang memberantaki mejanya jugalah kedua putrinya ini.
Mark menarik tangan Donghyuck, ia melepaskan beberapa tentakel yang membelenggu badan anaknya. Awalnya Donghyuck menyambut itu dengan perasaan lega, berpikir jika ayahnya akan menyelamatkan dan membebaskannya. Akan tetapi yang berikutnya terjadi malah membuatnya membulatkan mata terkejut.
"Da-Daddy mau apa?!" Donghyuck kaget, badannya dibanting dan dibaringkan di atas meja. Ia melihat ke arah ayahnya, was-was sekali dengan segala kemungkinan yang akan terjadi dan yang akan dilakukan sang ayah kepadanya.
Donghyuck tahu jika hukuman dari ayahnya tidaklah pernah sesuatu yang berat-berat amat, tidak sejenih pukulan atau pun kekerasan, hanya tindakan disiplin dengan memarahi dan sesuatu yang membuat mereka menjadi lebih rajin serta patuh. Tapi untuk hukuman yang kali ini, Donghyuck tidak bisa menebak sama sekali, sulit menduganya, mengingat juga bahwa kesalahan yang ia dan kembarannya lakukan cukuplah fatal.
"Menghukum kalian, yang pertama kamu." Jawab Mark sambil melepaskan satu per satu kancing kemejanya. Ia menatap Donghyuck lekat, tidak lepas mata sama sekali, benar-benar mengunci mata bergetar itu dengan tajam.
Donghyuck menggeleng pelan, ia berusaha mundur tapi tiba-tiba saja ada tentakel yang mengikat perutnya bersama meja yang ia tiduri. Badannya tidak bisa bergerak, ia terkunci dan tidak bisa kabur sama sekali. Melirik ke arah Haechan, percuma saja ia tidak akan mendapatkan pertolongan apa pun, sebab lihat saja Haechan yang malah sedang keenakan digenjot oleh sebuah batang tentakel yang besar, berurat, berwarna merah pekat, yang nampaknya benar-benar memenuhi lubang vagina Haechan dengan tanpa celah.
"Aahhh! Teruussh di sanaah! Enaak bangethh! Daddyyy... Tentakelnya enakh! Enakh!" Dengarlah sendiri betapa hebohnya Haechan mendesah, betapa telernya Haechan dengan genjotan yang didapatkan dari tentakel yang lebih besar, jumbo daripada yang lain.
Donghyuck bergidik mendengarnya. Ngeri sendiri. Tapi jika boleh jujur, sebenarnya sentuhan dari para tentakel itu memang sangat nikmat, membuat gila dan menghilangkan kewarasan secara sepenuhnya, Donghyuck sendiri pun tadi sudah pernah merasakan hal itu. Tapi Donghyuck tak mau terus-menerus terjebak. Donghyuck ingin menyudahinya, tidak mau dijamah dengan terlalu jauh.
"Aanghh.... Daddieehh! Gak! Ja-jangan dipegaang!" Tapi apalah daya Donghyuck jika selepas bebas dari sentuhan para tentakel itu, kini dirinya malah berganti mendapatkan sentuhan dari ayahnya. Klitorisnya dimainkan dengan jari, ia menatap ke atas dan mata ayahnya masih menatapnya dengan tajam. Donghyuck menggeleng kasar, tidak mau dijamah oleh ayahnya, tidak mau dijamah yang membuat tubuhnya bergidik dalam sensasi nikmat yang memabukkan seperti tadi. Donghyuck ingin berhenti.
"Kenapa? Kamu dipegang mereka seneng-seneng aja." Ucap Mark yang tidak menghiraukan sedikit pun rengekan dari anaknya. Ia kucek klitoris di bawah sana, membuatnya semakin basah dan semakin bengkak. Mark bahkan sudah menahan ini sejak lama. Melihat kedua putrinya tumbuh menjadi cantik dengan badan indah yang nampak sempurna, jiwa liar dan binatangnya selalu berbisik kepadanya untuk menerkam keduanya.
Tapi Mark menahan diri, mempertahankan kewarasan yang sejatinya selalu nyaris hilang jika anak-anaknya berbagi afeksi kepadanya, meski itu hanya sekadar pelukan sederhana saat mereka sesekali tidur bersama di atas ranjang yang sama, seperti semalam.
Padahal sejak awal Mark mengadopsi mereka adalah untuk mencari teman hidup, anak-anak yang akan menemaninya sampai hari tua. Tidak sekali pun ia berpikir untuk melakukan hal bejat semacam ini, mengucek-ucek kelamin anaknya sendiri dengan nafsu birahi yang membumbung tinggi. Tidak pernah ada niatan sama sekali, setidaknya sebelum anak-anaknya mulai beranjak dewasa dan dirinya luput untuk menerapkan batasan yang seharusnya ada di antara anak dan orangtua.
Di usia remaja mereka Mark tetap membiarkan si kembar tidur bersamanya jika memang ingin. Mark tetap memberlakukan kecupan di bibir sebagai salam perpisahan sebelum mereka pergi sekolah dan dirinya bekerja. Tetap memersilakan anak-anaknya untuk mandi bersama dengannya sekali pun mereka sudah remaja. Bahkan Mark tetap akan membantu anaknya berganti baju jika keduanya meminta. Sama sekali seperti tidak ada batasan yang seharusnya ia terapkan kepada mereka.
Mark tahu ini salahnya, Mark tahu ini juga salahnya yang selama itu diam-diam mulai menumbuhkan hasrat tersendiri setiap kali melihat keindahan tubuh si kembar. Mark tahu ini adalah salahnya yang malah memilih terbutakan oleh nafsu saat melihat anaknya dibelenggu oleh tentakel peliharannya. Bukannya menyelamatkan mereka, Mark justru malah ikut serta untuk menikmati tubuh tersebut, terkesan seperti sengaja mengambil kesempatan di tengah kondisi tersebut.
Dan sungguh, bukankah ini kesempatan terbaik?
Memakai dalih dengan agenda memberi hukuman kepada keduanya, ketika kenyataannya itu hanyalah topeng untuk mengamuflase niatnya yang sebenarnya hanya ingin menikmati tubuh keduanya saja.
"Gak Daddieh!! Eunghh.... Hyuckiieh gak suka-DADDY!! ARGH!" Donghyuck berteriak nyaring saat ia sekali lagi merasakan putingnya dihisap kuat oleh tentakel, dua sekaligus pada kedua putingnya. Dihisap kuat hingga punggungnya ikut terangkat naik, dadanya naik, membusung tinggi mengikuti hisapan yang ia terima.
Mark memberi seringai saat melihatnya. Sejak dahulu Mark sudah menaruh perhatian penuh pada dada milik Donghyuck yang memang lebih besar dari Haechan. Dadanya bulat, lebih montok dan padat. Tapi putingnya agak tenggelam, dan dari hisapan tentakel yang didapatkan oleh Donghyuck, Mark harap itu bisa membantu Donghyuck memiliki puting yang mancung dan besar seperti milik Haechan. Bicara soal Haechan, Mark menoleh ke samping dan menatapi Haechan masih berada dalam posisi yang sama. Melayang dengan kaki terbuka, dan vagina yang disodok oleh tentakel besar, banyak urat, dan bewarna merah pekat -sudah serupa penis.
Jika Donghyuck memiliki payudara yang besar dan montok, maka Haechan memiliki ukuran yang standar saja. Tidak besar, tapi juga tidak kecil, mungkin satu tangkupan tangannya. Namun meski pun begitu Haechan memiliki puting yang sangat menggemaskan. Bulat, besar, mancung sekali jika sedang tegang, seperti itu adalah sebuah kelereng bulat yang menempel di puncak dadanya. Selain puting yang menggemaskan, Haechan juga memiliki bokong yang semok, sintal sekali. Dahulu Mark sering mengusap bokong itu saat Haechan meminta pangku, dengan nakal dan impulsif juga akan meremasinya sampai lama-lama Haechan akan terlelap di atas pangkuannya.
Hal kotor serupa juga pernah ia lakukan kepada Donghyuck. Bahkan terkadang saat mereka tidur di satu ranjang bersama, bertiga, Mark pernah secara diam-diam membuka baju Donghyuck saat masih terlelap, dan lancang memainkan kedua buah dada milik anaknya. Memainkan secara bergantian antara Donghyuck dan Haechan, sampai ia mendapatkan kepuasan atau sampai kedua anaknya terbangun dan merengek agar ia berhenti, tak mau diganggu tidurnya.
Memang sangat tidak bernorma. Tapi Mark tidak akan menganggap itu sebagai salah sebab kenyataannya dua gadis ini bukanlah anak kandungnya. Mereka hanya anak angkat, yang Mark sendiri pun tidak menyangka jika saat memasuki usia remaja akan terlihat sangat menarik seperti ini hingga mampu menggoyahkan kewarasannya.
Mungkin jika sudah seperti demikian, Mark perlu untuk mengubah rencananya. Bukan menjadikan mereka sebagai anak yang akan menemaninya sampai masa tuanya. Melainkan sebagai pasangan yang akan menghabiskan waktu bersamanya, menemaninya melakukan banyak hal yang berkaitan dengan kepuasan nafsu birahinya.
Oh, terdengar seperti sebuah gagasan terbaik yang harus ia realisasikan.
"Akan Daddy buat Hyuckie menyukainya, ketagihan dan akan terus mengerengek ingin lagi dan lagi." Ucap Mark sambil melebarkan kaki anaknya. Ia buat mengangkang selebar mungkin sampai tertampilah vagina merah merekah dengan banyak lendir yang melicinkannya. Mark jilat bibir bawahnya pelan, sebuah pemandangan menggiurkan yang membuat hasrat laparnya terasa semakin menggebu.
"Dadddy!!" Rengekan Donghyuck menggema, memancing distraksi dari Haechan yang sekarang sedang melemas karena ia baru mendapatkan klimaks bersama squirt yang mengucur deras, lagi-lagi membanjiri lantai di bawahnya.
Haechan memerhatikan Donghyuck yang sekarang sedang berbaring di meja, perutnya dililit tentakel yang mengikat bersama permukaan meja, menyebabkan kembarannya tidak bisa kabur sama sekali. Haechan melihat dengan mata yang nyaris tidak berkedip sama sekali, melihat ayah mereka menenggelamkan kepala di balik selangkangan Donghyuck. Haechan melihat ayahnya menggesek klistoris Donghyuck dengan puncak hidung, membelah labia Donghyuck dengan jari kemudian menggesek-gesek lubang Donghyuck dengan lidah. Dan dari perlakuan itu keluarlah suara desahan Donghyuck yang merdu dan nyaring.
"Aahh enaak! Dadddy enakh sekaliiihh!"
Terdengar sekali kalau Donghyuck sangat menikmati perlakuan dari ayah mereka.
Haechan menelan ludah, ia tarik napas dalam-dalam sambil gigit bibir bawah tidak tenang. Haechan tahu bahwa dia telah gila secara sepenuhnya. Haechan juga ingin mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya. Haechan juga ingin kelaminnya dimakan oleh ayah mereka.
Haechan awalnya memang masih sangat awam dengan semua sentuhan ini, meski sebelumnya ia sudah pernah menonton video porno bersama Donghyuck dan teman-teman wanita di kelasnya, tapi dahulu itu hanya terlihat biasa saja. Hanya sesuatu yang terlihat baru yang membuat perut mereka agak geli seperti digelitiki. Hanya sekadar itu saja tidak lebih, tidak seperti kata teman-temannya yang katanya memiliki efek dahsyat dan ingin membuat mereka ingin melakukannya juga. Bagi Haechan tidak seperti itu. Hanya sekadar tontonan yang memang agak membuat panas, tapi tak sampai membuat ia ingin melakukannya juga.
Tapi ternyata saat tubuhnya mendapatkan sentuhan langsung seperti yang ada di video itu, Haechan mendapatkan sensasi baru yang begitu nyata dan luar biasa. Yang membuat dia menggila ingin terus menggali semuanya dengan lebih jauh, ingin menjajal dengan lebih jauh lagi.
Dan melihat Donghyuck diperlakukan seperti itu, Haechan tentu saja iri. Haechan juga ingin mendapatkan perhatian dari ayah mereka. Haechan juga ingin dibuat nikmat oleh ayah mereka. Haechan iri. Haechan merengek, berusaha mendekat dan memohon kepada ayah mereka.
"Ungh! Channie juga! Channie juga mau!" Rengek Haechan sambil menggeliat ingin menghampiri ayah mereka tapi sayang tidak bisa, badannya terbelenggu dan dia harus tetap bertahan di tempat, tak bisa ke mana-mana.
Mark angkat kepalanya. Menatap Haechan dengan tatapan tanpa melas, ia menyeringai dengan tajam kepada si sulung. Entahlah, mendengar rengekan dari Haechan seketika menaikkan sedikit kesombongan di dalam benak Mark. Anaknya merengek menginginkannya, menginginkan sesuatu hal yang sama seperti dirinya. Bahwa ini bukan hanya ia saja yang menikmati, bukan ia saja yang mau, tapi anaknya bahkan sampai merengek karena menginginkannya.
Mark tidak pernah merasa menang sampai sesombong dan sepuas ini sebelumnya.
Tanpa berusaha meraih, nyatanya apa yang ia inginkan malah berlari ke genggamannya dengan begitu saja.
'PLAK!'
Mark bubuhkan tamparan yang keras pada dada Haechan, lebih tepatnya pada puting mancung milik anaknya. Hingga gadis remaja itu tersentak, memekik keluar jeritan terkejut.
"Anak nakal gak akan dapat apa-apa. Itu hukuman kamu." Ucap Mark dengan nada merendahkan, ia memandang Haechan dengan tatapan meremehkan, seperti mengejek atau sebenarnya dia hanya ingin menggoda dan melihat bagaimana reaksi yang akan dikeluarkan oleh Haechan saat mendengar kalimatnya tadi.
Mark mulai melepaskan celananya, menurunkannya dan mengurut penisnya perlahan. Ia bisa merasakan jika lubang Donghyuck sudah cukup renggang dan sudah pasti akan mudah untuk ia masuki tanpa perlu melakukan perenggangan lagi.
"Gak! Daddy! Channie juga mau Daddy! Channie juga-sshhh! Daddy!" Haechan mendesis merasakan tentakel berbentuk penis yang masih memenuhi lubangnya kembali bergerak, kali ini menggenjotnya dengan lebih kencang dari sebelumnya, dan ukurannya pun terasa semakin lebih besar. Haechan panis, vaginanya seperti dipaksa untuk terus merenggang menerima kehadiran tentakel penis itu. Ia menggeleng kasar, menoleh ke samping, memberikan tatapan memohon kepada ayahnya. Mengharapkan bantuan.
Tapi sepertinya Haechan mendapatkan sikap tak acuh dari ayah mereka. Lihatlah ayah mereka yang sekarang sedang melakukan penetrasi pada lubang Donghyuck. Mendorong penis masuk, menerobosnya secara perlahan tapi pasti sampai akhirnya penis besar yang tebal dan panjang itu berhasil memenuhi lubang Donghyuck.
"Aaahh... Punya Daddy besarh!!" Donghyuck mendesah merasakan lubang kawinnya dipenuhi oleh penis milik Mark.
Desahan yang hanya membuat Haechan semakin iri saja tak peduli jika kenyataannya lubangnya juga tengah dipenuhi, hanya saja bukan dengan penis milik ayah mereka tapi malah dengan tentakel serupa penis yang ukurannya sangat jumbo.
"Hiks! Daddy! Channie juga mauh! Aanghh... Daddy! Daddyy!" Haechan meminta kepada ayahnya, dan itu diakhiri dengan desahan yang kelewat nyaring saat ia merasakan ukuran tentakel di dalam lubangnya semakin membesar, menggenjotnya makin kasar, dan membuatnya semakin kehilangam kendali yang tidak terelakkan.
Haechan menggeleng kacau, ia usap perutnya yang terasa semakin bergejolak, mengulurkan tangan terus ke bawah, pada klitorisnya yang entah kenapa terasa gatal dan ingin sekali ia kocok, usap kasar demi meredakan sensasi gatalnya.
Dan usapan itu malah hanya mengundang desahan Haechan agar keluar semakin nyaring. Keras, saling bersahutan dengan desahan Donghyuck yang saat ini sedang digenjot oleh Mark. Donghyuck di atas meja digenjot sampai badannya tersentak-sentak, sampai dadanya memantul seiring dengan gerakan brutal yang ia dapatkan. Dasa besarnya itu naik-turun, Donghyuck pegangi agar tidak bergerak brutal tapi kemudian tangannya disingkirkan oleh kedua tangan ayahnya. Dadanya beralih diremasi tangan besar milik ayahnya, diremas sambil dimainkan putinga, sambil dicubiti dan sesekali ditampar pelan.
Donghyuck semakin menggelinjang penuh nikmat dan itu hanya semakin membuat Haechan iri saja. Tapi Haechan tak bisa berbuat banyak selain dia hanya bisa menerima genjotan dari tentakel penis di dalam lubangnya, dan membiarkan dadanya terus dimainkan oleh para tentakel. Dan sepenuhnya membiarkan badannya berada di bawah kendali dan kuasa penuh para tentakel. Hanya para tentakel saja.
Haechan tak bisa berharap lebih, karena kata ayahnya ini adalah hukumannya. Hanya bisa bermain dan berakhir bersama para tentakel. Tidak akan mendapatkan sentuhan yang sama seperti yang kembarannya dapatkan dari ayah mereka.
Iri, iri sekali. Sampai Haechan tak pernah lepas mata dari Donghyuck yang terus merintih keenakan dikawini oleh ayah mereka. Sampai ia malah merasa semakin panas melihat pemandangan dari keduanya.
Haechan frustasi, tak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan membuatnya mulai menggila dengan terus menggosok kasar klitorisnya yang makin tegang dan membengkak. Ia usap-usap kacau, berbarengan dengan genjotan di dalam vaginanya yang kian tak terkendali.
"Aahhh kedutan! Tentakelnyaah kedutaan!" Haechan membulatkan matanya sempurna, selain karena ia merasa klimaksnya semakin dekat, itu juga karena tentakel di dalam lubangnya terus berkedut, membuat dinding vaginanya ikut berkontraksi, menyempit, menekan batang itu agar semakin terjebak di dalam lubangnya.
Pelepasan sudah semakin dekat, Haechan melengkungkan punggung dengan sempurna bersamaan dengan kedua pahanya yang bergetar dan reflek ingin merapat.
"Aarghhh!" Itulah teriakan Haechan saat menyambut klimaksnya. Ia keluar dengan lelehan cairan berwarna putih, keluar hangat di dalam lubangnya, tak bisa sampai benar-benar keluar dari lubangnya ketika penis jumbo itu menyumpal sempurna lubangnya.
Haechan rasa ia akan mendapatkan rehat dalam sejenak demi menikmati klimaksnya, tapi ternyata dia salah. Penis jumbo itu entah bagaimana bisa tiba-tiba membesar di dalam lubangnya, menggenjot sekali dengan keras sebelum kemudian membanjiri lubangnya dengan lelehan cairan kental yang terasa sangat hangat.
"Aarghh! Angeet! Daddiieeh itu apaah?!" Haechan tidak menduga bahwa lubangnya akan mendapatkan semburan dari tentakel berbentuk penis itu. Lubangnya terasa penuh sebab semburannya tidak kunjung berhenti dan lebih buruk lagi Haechan mulai terasa mual sebab perutnya benar-benar terasa sangat penuh, terlalu penuh.
"Keluar! Daddy!! Keluarkaan tentakeelnyah! Perut akuhh-aarghh!" Haechan mengerang sambil memegangi perutnya sendiri yang sekarang tahu-tahu sudah membesar. Besar sekali, serupa perut orang yang sedang hamil sembilan bulan dan siap melahirkan.
Panas, perutnya terasa panas. Haechan menoleh kepada ayahnya, sebenarnya apa yang disemburkan di dalam lubangnya dan bagaimana bisa perutnya bisa langsung membesar seperti ini.
Mark sendiri masih asik menggenjot Donghyuck. Badannya terasa semakin bergairah melihat bagaimana panasnya pemandangan yang disuguhkan oleh Haechan saat ini. Ia melihat tentakel berbentuk penis itu keluar dari perut Haechan, masih dengan sisa lelehan cairan putih kental serupa sperma yang luber keluar dari lubang Haechan. Lubang yang sekarang nampak sedikit menganga, berkedut, tidak bisa merapat seperti bentuk semula karena habis dimasuki penis jumbo.
Mark menelan ludah, sungguh menggoda dan seksi sekali membuat Mark tidak sabar untuk setelah ini harus bergegas mencicipi lubang milik satu anak gadisnya yang lain itu.
"Itu telur Haechannie. Telur tentakel yang harus kamu keluarkan dari perut kamu atau jika tidak mereka akan meledak di perut kamu." Ucap Mark sambil melepaskan penisnya dari lubang Donghyuck yang tadi juga baru selesai klimaks. Tapi Mark belum puas dengan Donghyuck, ia tarik badan anak gadisnya itu agar turun dari meja, menjauhkan semua tentakel yang ada di tubuh Donghyuck untuk kemudian menyuruh si belia agar mengubah posisi menjadi menungging. Mark ingin mengawini anak gadisnya dalam posisi yang berbeda.
"Ha?" Haechan tidak paham dengan kalimat ayahnya.
"Keluarkan dari perut kamu, mengejan sekeras mungkin. Kalau gak, perut kamu bakal meledak karena telurnya gagal berkembang." Mark memberikan instruksi yang di saat itu juga segera dilakukan oleh Haechan.
Haechan mengerang penuh, mengejan mati-matian untuk mengeluarkan telur yang kata ayahnya memenuhi perutnya. Telur yang tidak Haechan ketahui sebesar apa dan seberapa banyak sehingga bisa membuat perutnya sampai sebesar ini.
"Aarghh! Sussah Daddy! Susaah!" Ucap Haechan, mengejan sambil mendongakkan kepala tinggi.
Donghyuck di sebelah hanya melihat sambil menungging, menikmati genjotan dari ayah mereka yang dalam posisi ini terasa semakin mentok menumbuk titik nikmatnya. Donghyuck lihat lubang vagina Haechan membesar, seperti dalam buku bergambar yang pernah ia baca, itu persis seperti pembukaan ke-6 ketika akan melahirkan. Telurnya sudah nampak, sudah mencuat di jalur lahir, Haechan terus mengejan dan mendorong keluar telur tersebut.
Donghyuck jujur saja merinding gila melihat pemandangan itu, tidak menyangka bahwa kembarannya akan disembur telur oleh salah satu tentakel tadi. Meski pun ini terdengar jahat, tapi Donghyuck sangat bersyukur bahwa ia tadi walau juga digenjot oleh tentakel, tapi itu bukan yang berbentuk penis dan bukan yang bisa menelurinya seperti yang dialami oleh Haechan.
"Aaghh! Daddiieeh makiin besar! Aahhh... Kontool daddiieh!" Donghyuck meremat pinggiran meja di depannya erat, badannya menempel sempurna di permukaan meja, kakinya melemas dan sesekali akan menekuk tak berdaya saat merasakan genjotan dari ayahnya terlalu hebat.
Mark hampir sampai. Melihat Haechan berjuang mengeluarkan telur-telur itu dari perutnya, mengangkang lebar sambil mengejan, macam orang melahirkan, hal itu sukses membuat penisnya makin tegang, kaku dan keras sekali di dalam lubang yang tengah ia kawini. Sedikit lagi dia sampai, klimaksnya sudah hampir dekat karena panasnya gairah yang membakar diri dan tingginya nafsu yang semakin membumbung karena banyaknya hal-hal gila yang terjadi di sekitarnya.
"Aarghhh!"
Teriakan itu keluar secara bersamaan dari mereka bertiga. Dari Mark yang puas melepaskan benihnya secara sadar ke dalam lubang milik Donghyuck. Ia keluarkan banyak-banyak sambil ia hentakan pelan, memastikan semua benihnya tertampung secara penuh di dalam rahim anak bungsunya. Kemudian teriakan lain dari Haechan yang sekarang sudah berhasil mengeluarkan berpuluh-puluh telur dari perutnya melalui lubang vaginanya.
Haechan benar-benar mirip seperti orang melahirkan, tidak terbantahkan lagi. Hanya saja yang Haechan lahirkan adalah telur seukuran telur penyu yang berbentuk bulat penuh, bewarna sedikit kehijauan macam telur bebek, dan begitu keluar dari vaginanya telur tersebut langsung pecah bahkan sebelum jatuh ke lantai. Langsung pecah menjadi cairan putih ketal yang licin dan mengotori lantai.
Jumlahnya sangat banyak, berbondong-bondong melesak keluar sampai akhirnya Haechan merasakan lega sebab perutnya sudah tidak besar lagi dan sudah tidak terasa sakit lagi.
"Aarghh... Penuuh banget daddiiehh!" Erangan lain muncul dari Donghyuck yang sekarang tengah merasakan penuh di perutnya akibat semburan sperma dari sang ayah. Ia usap perutnya pelan, di dalam sana terasa sangat hangat dan entah mengapa Donghyuck menikmati sensasi tersebut sampai matanya reflek terpejam.
Tapi selain karena menikmati sensasi hangat di perutnya, jujur saja Donghyuck memejamkan mata juga karena ia mulai merasa lelah. Badannya lemas, kakinya tak sanggup menapak, tak kuat berdiri, ingin luruh dan meleleh saja di atas lantai. Kesadaran mulai agak berkurang sampai dia bahkan sedikit tidak sadar saat lubang vaginanya sudah kosong dan sekarang badan telanjangnya diangkat sang ayah agar berbaring di atas meja kerja milik ayahnya. Tidur di atas banyak kertas, bersama berkas-berkas kerja milik ayahnya.
Mark selesai dengan Donghyuck dan sekarang ia beralih kepada Haechan. Dalam satu sentuhan, tentakel itu mulai mengerut dan melepaskan diri dari tubuh Haechan dengan sendirinya. Sangat jinak di bawah perintahnya.
"Uda capek kamu?" Tanya Mark sambil menggendong Haechan ala koala. Ia bawa badan itu agar bersandar pada dinding di samping mereka. Ia tatap anak gadisnya yang wajahnya sudah lemas, nampak lelah dan sudah kehabisan banyak tenaga. Tapi tentu saja Mark masih belum ingin berhenti, dia juga ingin merasakan lubang Haechan yang tadi sudah berhasil menampung penis jumbo serta sekaligus berhasil mengeluarkan banyak telur dari lubang yang sama.
Dari kedua hal hebat itu, bisa Mark pastikan jika lubang Haechan pasti memang sangat hebat.
Haechan menggeleng. Reaksi yang tidak Mark duga sama sekali akan ia dapatkan dari si gadis. Haechan menggeleng begitu cepat, terlalu berantusias rupanya.
"Gak! Gak! Channie gak capek Daddy!" Jawab Haechan dengan sambil menggerakan pinggulnya, gatal sekali ingin menggosokkan vaginanya pada penis milik ayahnya yang berada tepat di bawah bokongnya. Haechan terlalu binal di sini, ia tidak terkendali karena desakan egonya yang menjerit ingin mendapatkan pengalaman yang serupa dengan kembarannya. Dia ingin agar ayahnya juga memenuhi lubangnya dengan penis besar itu sama seperti ketika melakukannya bersama Donghyuck.
Haechan juga ingin!
"Emang nakal banget kamu!" Ucap Mark sambil menampar bokong semok Haechan keras, lalu meremasnya kuat sebelum badan itu semakin ia sudutkan di dinding.
Keinginan yang mudah untuk Mark kabulkan. Ia juga akan memenuhi lubang kawin anaknya dengan benih miliknya, dengan sperma miliknya sampai benar-benar penuh dan kembung macam yang sebelumnya sudah ia lakukan kepada Donghyuck. Akan Mark pastikan Haechan merasa puas secara sepenuhnya atas nikmat yang ia berikan.
***
Mark sedang menikmati kopinya di beranda rumah, duduk tenang dengan salah satu gadisnya mendudukkan diri di atas pangkuannya dengan manja. Haechan yang melakukannya, tumben sekali mau bertingkah manja dan tidak gengsi berlagak sudah dewasa.
Sejak kejadian di ruang penelitiannya beberapa minggu lalu, tentu saja hubungan mereka menjadi berubah. Skinship antara satu sama lain sudah benar-benar tidak ada batasan karena nyatanya Mark sudah tidak membatasi diri lagi. Dan Mark sudah mantap untuk tidak menganggap dua gadis kembarnya ini sebagai anaknya, melainkan sebagai pasangannya.
Tentu saja dua-duanya, keduanya akan Mark anggap sebagai pasangannya. Mendapatkan dua madu secara sekaligus tanpa harus bersusah payah, tanpa harus melakukan bujuk rayu yang runyam, karena nyatanya kedua gadis remaja ini sudah luluh dan patuh secara sepenuhnya kepada dirinya.
"Daddy, ada Kak Karin!" Suara Donghyuck dari dalam. Ia melangkah keluar bersama dengan Karin yang ada di belakangnya.
Mark meminta Haechan agar turun dari pangkuannya sebab ada yang ingin ia bahas bersama Karin, menyangkut pekerjaan dan ini akan mereka diskusikan di ruangan penelitiannya.
Sebelum ia pergi, Haechan sempat menahan tangannya, merengek tidak mau ditinggal namun kemudian ada Donghyuck yang menarik tangan remaja itu.
"Udah Haechan, Daddy mau bekerja dulu! Lepas dulu ayo ke kamar! Nanti kalau Daddy sudah selesai bekerja, dia akan ikut susul ke kamar, iya kan Daddy?!" Donghyuck menarik Haechan.
Mark hanya mengangguk sambil memberi senyum.
"Ke kamar sekarang, dan nanti kalian bakal dapar hadiah dari Daddy." Iming-iming diberikan oleh Mark kepada keduanya yang langsung disambut penuh antusias oleh kedua gadis kembar itu.
"Oke!" Ucap Haechan semangat, ia sempat mencuri kecupan di bibir ayahnya cepat sebelum kemudian berlari ke kamar bersama dengan Donghyuck sambil bergandengan tangan.
Mark memerhatikannya dari tempatnya berdiri. Baru berpaling ketika keduanya sudah hilang di balik pintu.
"Untung aja sejak awal profesor belum mendafatarkan mereka jadi anak angkat profesor." Ucap Karin.
Mark mengangguk.
"Tinggal tunggu beberapa taun lagi sampai mereka legal dan setelah itu saya bakal daftarkan mereka jadi istri saya saja." Ucap Mark dengan nada santai dan terdengar sekali bahwa ia memiliki kepuasan tersendiri atas keputusan tersebut.
"Iya Profesor, kalau nanti perlu bantuan tinggal bilang saya saja. Nanti akan saya uruskan semuanya sampai beres." Ucap Karin.
"Tentu saja Karin."
SUDAH YA 💜
