Work Text:
Sejak satu minggu yang lalu, sepasang suami yang baru empat bulan menikah itu sudah sepakat untuk menghabiskan akhir pekan dengan menginap di rumah orang tua Fachry. Kedua mertua Jaresh itu sebenarnya tidak pernah mendesak menantu mereka untuk berkunjung, apalagi keduanya tahu kalau Fachry dan Jaresh selain sama-sama sibuk bekerja, pun masih menyandang status sebagai pengantin baru. Sehingga Baba dan Umi tidak pernah memaksakan Fachry dan Jaresh untuk menghabiskan akhir pekan bersama di rumah mereka.
Adapun mengapa Fachry dan Jaresh akhirnya setuju untuk menginap di rumah Baba dan Umi, dikarenakan minggu ini sudah memasuki bulan suci. Jaresh sendiri yang inisiatif meminta Fachry untuk menghabiskan beberapa hari pada awal Ramadhan di rumah sang mertua. Selain itu, Jaresh inisiatif begitu karena mengetahui bahwa suaminya sedang mengalami yang namanya homesick. Sangat jelas terlihat kalau Fachry sedang rindu rumah, terutama rindu masakan Uminya—wajar, karena Jaresh sendiri tidak bisa masak apalagi memasak makanan seenak buatan Umi.
“Kakak janji ‘kan hari ini pulang kerja lebih awal?”
“Iya Fachry, saya janji.”
“Benar kita langsung ketemu saja di rumah Umi? Kakak nggak mau dijemput sama aku?”
“Benar, Fachry. Kamu duluan saja, biar saya diantar supir jadi mobilnya bisa dibawa balik ke rumah.”
“Ya sudah kalau begitu.”
Begitulah kira-kira percakapan sepasang suami di pagi hari sebelum mereka berpisah untuk berangkat kerja.
Satu syarat Jaresh dalam mengizinkan Fachry agar bisa pulang ke rumah lamanya adalah dengan memperbolehkannya ikut. Tadinya Fachry berniat ikut buka puasa saja di rumah Baba dan Umi lalu malamnya pulang lagi, tetapi Jaresh mempunyai ide untuk menginap selama dua hari. Seharusnya semua itu tidak menjadi masalah jika bukan karena sebuah alasan, yaitu alasan yang tidak mau diakui oleh Jaresh maupun Fachry—bahwa mereka sebenarnya memiliki suatu kendala.
Pukul lima sore Jaresh sudah sampai di rumah lama Fachry seperti yang sudah dijanjikan kepada sang suami. Kepulangan Jaresh di sore hari sudah termasuk lebih awal karena biasanya ia baru tiba di rumah sekitar pukul tujuh malam. Betapa bahagianya Fachry ketika Jaresh menepati janji. Lelah dan lapar karena seharian berpuasa yang dialami Fachry rasanya hilang begitu saja setelah melihat kehadiran suami manisnya.
“Kakak sayang sudah pulang?!” Lelaki yang lebih muda segera menyambut kedatangan suaminya dengan memeluknya kencang. Fachry tidak memedulikan sepasang mata orang-orang yang berada di sekelilingnya yang menatap ke arah mereka.
“Lepasin—Fachry! Kenapa kamu peluk-peluk saya begini?!”
“Aku kangen banget sama kamu, Kak. Memangnya aku nggak boleh peluk-peluk suamiku?”
“Iya boleh, tapi … malu diliatin Baba sama Umi … dan adik kamu!”
“Eh? Ehehehehe.” Fachry tersenyum canggung saat melepaskan pelukannya. Dia baru sadar kalau mereka bukan sedang berada di rumah, yang berarti bukan hanya ada mereka di rumah tersebut.
Padahal tidak perlu malu, sebab kedua orang tua Fachry malah senang melihat kemesraan anak-anak mereka. Satu-satunya orang yang merasa tidak nyaman melihat kemesraan Jaresh dan Fachry adalah Fariz, adik laki-laki Fachry yang sampai saat ini masih melajang.
“Ayo ke meja makan, Kak! Lihat Umi masakin apa buat menantu kesayangannya!” seru Fachry yang antusias mengajak suaminya menuju ruang makan. Ia pun memamerkan masakan sang ibunda yang hari ini sengaja menyiapkan makanan kesukaan Jaresh.
“Kamu nggak apa-apa di rumah sendirian, Kak?”
“Tidak apa-apa, Fachry.”
“Cuma sebentar kok, Kak. Biasanya jam setengah sembilan sudah pulang.”
“Iya saya tahu, Fachry. Sudah kamu berangkat sana, yang khusyu’ ibadahnya. Tidak perlu mengkhawatirkan saya!”
Setelah itu Fachry sekeluarga pun pergi ke masjid terdekat dengan berjalan kaki untuk melaksanakan sholat isya’ berjamaah sekaligus sunnah tarawih. Jaresh ditinggal sendirian di rumah tersebut—tidak seperti di rumahnya yang ada para pekerja di mana Jaresh tidak akan pernah sendirian di rumah. Sunyi rumah itu menyebabkan Jaresh mengantuk. Perlahan ia menutup mata dan tertidur di kamar lama suaminya.
Jaresh tidak tahu kapan sang suami, mertua, dan adik iparnya tiba di rumah, yang pasti kini ia dapat mendengar gelak tawa suaminya di lantai bawah yang tengah berbincang entah dengan siapa—ayah atau adiknya—menandakan kalau mereka sudah pulang. Baru saja Jaresh hendak turun dari kasur dan menyapa mereka, suara langkah kaki Fachry terdengar menaiki tangga. Tidak lama setelahnya, lelaki yang lebih muda membuka pintu kamar terkejut melihat Jaresh telah terjaga.
“Kamu kebangun karena berisik, ya? Maaf, Kak.”
“Kenapa kamu minta maaf? Saya sebenarnya tidak niat tidur, tapi karena sendirian jadi saya ketiduran. Kamu sendiri sudah pulang dari tadi?”
“Iya, Kak. Pas pulang aku nggak lihat kakak di bawah. Jadi aku naik ke kamar eh ternyata lagi tidur kamu-nya.”
“Memangnya sekarang sudah jam berapa?”
“Jam sebelas.”
“Ih, Fachry! Kenapa kamu nggak membangunkan saya?!”
“Buat apa aku bangunin kakak? Aku juga mau tidur kok habis ini. Mending kita lanjut rebahan, Kak—oughhh!” ucap Fachry sambil merebahkan badan di kasur lamanya. Meskipun tidak seempuk kasur baru di rumah barunya, tetapi tetap nyaman karena kini ada Jaresh di sisinya.
“Tidak boleh begitu, Fachry! Kita ‘kan sedang berada di rumah orang tua kamu, masa saya nggak menghabiskan waktu bersama dan malah tidur saja? Kalau begitu sih kita di sini cuma pindah tidur namanya!”
“Masih ada besok kalau mau ngobrol, Kak. Lagipula ada kita datang saja orang tuaku sudah senang kok, dan sekarang sepertinya Umi sama Baba juga mau istirahat. By the way, kamu udah mandi ya, Kak?” tanya Fachry penasaran. Ia pun memiringkan badan ke arah suaminya, dan memeluk Jaresh dari belakang.
“Iya, saya sudah mandi tadi sewaktu kamu ke masjid.”
“Pantes wangi,” ucap lelaki yang lebih muda dengan senyum yang merekah di wajahnya.
Fachry mengendus wangi tubuh sang suami yang memakai sabun dengan aroma favoritnya, dan hal tersebut lama-kelamaan membuat Jaresh geli. Entah karena baru bangun tidur dan masih mengantuk atau karena dirinya memang sensitif, sedikit saja kontak fisik dengan Fachry pun akan direspon tubuh Jaresh secara berlebihan.
Jaresh jadi teringat biasanya Fachry kalau sudah dekat-dekat padanya, pasti kedekatan itu akan membawa mereka melakukan perbuatan yang lainnya. Bayang-bayang Fachry yang selalu mendekap erat tubuhnya sampai ia tidak bisa ke mana-mana setiap mereka hendak berhubungan itu pun berhasil menimbulkan pikiran tidak senonoh di kepala Jaresh.
“Fachry, lepasin pelukannya.”
“Sebentar dulu, Kak. Lagi nyaman begini.”
Kemudian terdengar bunyi kecupan nyaring di belakang leher Jaresh ‘cupppp …!’ suara kecupan Fachry mendarat di pundak suaminya. Pundak merupakan salah satu titik lemah Jaresh sebab bagian itu sangat sensitif. Dikecup-kecup kecil begini oleh suami yang begitu dicintainya tentu memantik gairah Jaresh. Belum lagi tangan Fachry yang mulai mengusap perut ratanya dari balik baju, semua sentuhan itu sukses membuat Jaresh terangsang.
“Fachry … kamu mau apa sebenarnya?” tanyanya bingung dengan apa maksud suaminya dari melakukan ini semua.
“Aku cuma mau peluk cium suamiku,” jelas Fachry yang terus saja membubuhkan ciuman di pundak Jaresh yang wangi.
“J-jangan, Fachry … kalau terus begini nanti saya—” kalimat Jaresh berhenti sampai di situ. Mulutnya bungkam sebelum berhasil menyelesaikan kalimat tersebut. Ia merasa berdosa mengucapkan satu kata yang jadi penutup kalimatnya.
Akhirnya kalimat itu dirampungkan oleh Fachry. “Horny?”
Tidak percaya dengan apa yang diucapkan kekasihnya, Jaresh pun balik badan untuk menatap Fachry. Sebuah tatapan memelas yang melemahkan dan meruntuhkan pertahanan diri Fachry—ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia akan libur olahraga malam selama dua hari kedepan. Seharusnya ia lebih hati-hati, betapa cerobohnya ia karena telah melupakan fakta bahwa tubuh suaminya itu sangat sensitif atas setiap sentuhannya. Akibat perbuatannya, kini suami cantiknya itu jadi horny.
“Kakak udah horny gara-gara aku peluk cium kayak gini?”
“Uhh ….” Seandainya bisa memohon agar sang suami lanjut membelainya, maka akan Jaresh lakukan. Sayangnya tidak bisa, Jaresh harus mengendalikan diri dan nafsunya karena sadar kini ia sedang berada di rumah mertuanya. “Iya, nanti saya horny! Makanya stop peluk dan ciumin saya!”
Jaresh yang horny adalah sepenuhnya salah Fachry. Sementara mereka yang terjebak di rumah mertua sehingga harus ngerem untuk tidak saling terjang bukanlah merupakan kesalahan Jaresh. Seharusnya Fachry dapat dengan mudah memahami dua hal tersebut jika tidak terlebih dulu memberi makan jiwa usilnya.
“Memangnya kenapa kalau kakak horny? Nggak ada yang ngelarang dan buatku pun itu bukan suatu masalah.”
“Fachry!” Jaresh malu sekali mendengar perkataan suaminya. Saking malunya ia pun menyembunyikan wajahnya pada dada bidang sang suami.
“Ya maksudku, kalau kakak horny dan mau ngewe ya tinggal ngewe.”
“FACHRYYY!!!” Suara teriakan Jaresh yang lumayan kencang itu membuat Fachry ketar-ketir, takut membangunkan orang-orang di rumah—pun itu kalau mereka sudah tidur.
“Shhh, kenapa sih Kak, panik begitu?” Fachry bertanya sambil mengusap-usap punggung Jaresh dari luar piyama yang ia kenakan.
“Kamu nggak sadar kita lagi ada di mana?!” tanya Jaresh bingung luar biasa. Ia tidak habis pikir kepada suaminya yang sampai detik ini masih saja tidak peka.
“Di kamar lamaku …?”
“That’s right!”
“Ya terus kenapa, Kak?”
Sungguh, Jaresh rasanya ingin mencekik suaminya sampai ia kehabisan napas dan memohon ampunan pada Jaresh. But no, not in his parents house at least.
“Kita sekarang lagi ada di kamar lama kamu, yang artinya di rumah orang tua kamu, dan sekarang di rumah ini lagi ada orang tuamu!”
“Ya pas main tinggal jangan berisik, Kak. Biar nggak ketahuan. Nggak bisa memangnya?”
Diam sejenak untuk mempertimbangkan apa jawaban yang tepat atas pertanyaan suaminya, setelah dipikir-pikir pun ternyata Jaresh tidak tahu apa jawabannya.
“S-saya nggak tahu …, saya belum pernah coba menahan suara saya.”
“Terus gimana? Mau dicoba? Biar tau kakak mulutnya bisa diam nggak kalau lagi diewe sama aku.”
Kata-kata jorok yang keluar dari mulut suaminya membuat badan Jaresh semakin panas. Ia pusing memikirkan harus mengambil keputusan apa, sebab biasanya selalu suaminya lah yang memimpin jalannya permainan dan memutuskan sesuatu untuknya—yang berhubungan dengan kenikmatannya. Hal terakhir yang bisa dipikirkan Jaresh saat ini hanyalah menunjukkan apa yang menjadi maunya kepada sang suami.
Jaresh pun mengambil tangan Fachry, dan meletakkan telapak tangan sang suami tepat di atas selangkangannya yang menggembung.
“Saya mau menolak dan bilang nggak mau, tapi saya sudah begini—ughhh!” lenguh Jaresh kala bagian inti tubuhnya disentuh Fachry.
“Tegang banget, Kak. Kurasa kakak butuh senggama,” ucapnya serius. Pikir Fachry akan sulit untuk menidurkan batang kemaluan yang sudah ereksi sekeras ini.
“T-tapi saya malu banget Fachry, di bawah ada orang tua kamu, di kamar sebelah ada adik kamu—oh gosh!” Gemas merasakan ada benda panjang dan padat dalam genggamannya saat ini, Fachry spontan mengelus kejantanan suaminya. Jaresh pun menggelinjang kerenanya.
“Adik aku sepulang tarawih tadi nggak pulang ke rumah, dia langsung cabut lagi nggak tau ke mana. Lagipula waktu itu mami sama papi kamu juga nginep di rumah kita. Papi tidur di kamar tamu dan mami tidur di kamar sebelah kamar kita tapi kamu nggak malu tuh nungging buatku di balik pintu.”
“Ya itu sih beda lagi, Fachry!”
Sebenarnya Fachry mengerti kenapa Jaresh merasakan malu yang teramat sangat ketika diajak berhubungan badan di rumah Baba dan Umi jika dibandingkan dengan di rumah ketika ada Mami dan Papi. Selain karena kamar Fachry yang ditempatinya selama bujang itu tidak terlalu besar serta tidak kedap suara, Jaresh malu setengah mati karena sebelumnya ia tidak pernah melakukan yang tidak-tidak di bawah atap rumah mertuanya, berbeda dengan Fachry—yang entah telah melakukan hal apa saja di rumahnya, terutama kamarnya.
“Shhh, ya sudah kalau begitu, Kak. Kalau kakak nggak mau karena malu, ya nggak usah dilakukan, daripada nanti yang ada malah nggak bisa menikmati. Aku cuma mau kakak ngerasa bahagia dan enak, bukan merasa seperti dipermalukan. It’s okay, kita tidur saja sekarang.”
“S-saya bukannya nggak mau, Fachry ….” Jawaban yang baru didengarnya itu buat Fachry semakin kehabisan akal, tidak tahu harus menanggapi bagaimana lagi selain menyerahkannya pada sang suami.
“Hm? Jadi kakak maunya apa? Bilang sama aku, Sayang.”
Antara Jaresh dan Fachry yang meski telah sah menjadi sepasang suami, tidak ada panggilan khusus atau pet names yang diberikan kepada satu sama lain. Jaresh selalu memanggil suaminya dengan nama depan, begitu pula Fachry yang memanggil Jaresh cukup dengan ‘Kak’ saja. Kecuali di saat tertentu yang salah satu contohnya seperti saat ini, terkadang Fachry akan memanggil Jaresh dengan panggilan ‘Sayang’ yang menandakan kalau perkataannya serius sekarang.
“Cium,” ucap Jaresh sangat pelan, nyaris tidak terdengar oleh orang selain dirinya.
“Hah? Kakak kurang keras ngomongnya. Aku nggak dengar kakak ngomong apa?”
“Kiss, Fachry. Saya mau ciuman dulu sama kamu.”
Setelah Fachry dengar jelas apa kemauan suami kecilnya, kini ia sedikit menyesal sebab sang suami yang minta cium sambil mendusal padanya tampak begitu menggemaskan. Bodoh namanya jika tidak Fachry kabulkan permintaan suaminya yang sedang ingin dimanja. Ia pun memajukan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir ranum Jaresh yang terbuka, siap menyambut kecup basah kekasihnya.
Jaresh merasakan bibir kenyal sang kekasih menyapu miliknya hingga terasa hangat. Sang kekasih menciumnya lembut sampai rasanya ia ikut lebur dalam ciuman itu. Bibir atas dan bawah Jaresh dikecup bergantian oleh Fachry, menghasilkan bunyi kecipak khas orang berciuman. Awalnya Jaresh masih bisa membalas dan mengimbangi ciuman tersebut, tetapi saat Jaresh hendak menarik diri dan memutus penyatuan mereka untuk mengais udara, Fachry melihat hal tersebut sebagai sebuah kesempatan.
Kesempatan itu digunakan Fachry untuk memperdalam ciuman, ia melumat bibir Jaresh berulang kali sampai tidak ada ruang yang tersisa untuk Jaresh mengambil napas. Tidak hanya itu, suaminya juga menggigit-gigit kecil dan mulai menjulurkan lidah, mencari-cari lidah kekasihnya untuk diajak beradu, menjadikan ciuman itu semakin basah dan panas. Adapun Jaresh tak pernah kuat kalau sudah diajak make out oleh Fachry. Kepala Jaresh sudah tidak dapat berpikir logis selain karena pasokan oksigen dalam dadanya menipis, juga karena ia merasakan kemaluan suaminya yang menegang bergesekkan dengan miliknya.
“Kalau nggak mau dilanjut, sebaiknya kita sudahi saja sebelum aku nggak bisa berhenti,” ujar Fachry setelah menghentikan ciuman tersebut. Ia menangkup wajah kekasihnya menggunakan kedua tangan, sedikit merasa kasihan pada sang suami yang tampak kewalahan dengan permainan yang padahal menurutnya baru pemanasan.
Adapun tanggapan Jaresh terhadap pernyataan Fachry malah semakin memperunyam keadaan. “Saya nggak tahu, Fachry.”
Jarang sekali Jaresh melihat suaminya itu kehilangan kesabaran. Mungkin karena faktor jika bukan tentang urusan ranjang, Jaresh tidak pernah membuat suaminya kesusahan—karena ia selalu mengetahui apa yang dimau dan berpegang teguh pada pendiriannya. Malam ini Fachry sudah kehabisan kata, jadi yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah bertindak. Jaresh tidak menyadari sejak kapan Fachry menariknya dan membalikkan posisi mereka—kini Jaresh telah berada di atas Fachry, menduduki kemaluannya dengan posisi kaki yang terbuka—yang Jaresh ketahui setelahnya adalah air muka Fachry menunjukkan raut kecewa.
“Terserah kakak deh mau apa. Aku pasrah lihatin aja.”
“M-maksudnya gimana, Fachry?!” jawab lelaki yang lebih tua teramat panik. Jaresh cepat-cepat menurunkan lutut untuk menutup kakinya supaya tidak terkesan murahan. Tuhan, Jaresh ini suami sah Fachry, bukan seorang simpanan yang kurang perhatian dan haus belaian.
“Kalau kakak mau senggama, gerak sendiri aja. Kakak yang atur temponya biar nggak keceplosan desah-desah kayak jalang.”
Bukan inilah yang Jaresh inginkan, dia tidak mau gerak sendiri seperti pinta sang suami. Akan tetapi mengucapkan apa maunya saja Jaresh tidak mampu—pun tidak tahu apa yang menjadi maunya. Ia tidak dapat berkutik saat menyaksikan sorot mata gelap Fachry seolah menelanjanginya, buat Jaresh kegerahan dan ingin segera melepas baju. Masa bodoh perihal keberadaan mereka sekarang sedang berada di mana, menurutnya yang terpenting Fachry sudah kunci pintu.
Tanpa pikir panjang, Jaresh mulai membuka kancing piyamanya satu per satu di depan sang kekasih. Ia membuat pertunjukan melepaskan piyama berbahan halus itu sebagai tontonan menarik untuk cinta dalam hidupnya. Oh, tentu Jaresh yang tangannya gemetaran karena nervous ketika buka baju untuk mempersembahkan dirinya itu merupakan pertunjukan menarik di mata Fachry.
“Mau dibantu buka baju nggak, Kak?”
“Saya bisa sendiri!”
“Alright, I’m just asking.”
Awalnya memang Fachry mengatakan kalau dia akan diam saja dan membiarkan Jaresh melakukan semuanya. Namun, itu semua menjadi mustahil setelah Fachry menyaksikan tubuh telanjang suaminya, di kamarnya sewaktu bujang pula. Tidak pernah terbayangkan oleh Fachry sebelumnya kalau suatu hari ia akan menyetubuhi lelaki yang dicintainya di kamar tersebut. Sekarang giliran Fachry yang kesulitan menepati perkataannya sendiri, yang mana ketika pantat empuk Jaresh mendarat di gundukan selangkangannya, pinggul Fachry pun membuat gerakan mendorong ke atas.
“Hmph!”
“Ahh!”
Keduanya mendesah secara bersamaan. Wajah pun memerah akibat ditampar fakta bahwa ternyata mereka senafsu ini terhadap satu sama lain. Bahkan untuk menahan agar tidak kawin selama beberapa hari kedepan ketika sedang berkunjung ke rumah orang tua saja mereka tidak bisa. Jaresh maupun Fachry sama-sama telah dibutakan oleh hasrat mau dibikin nikmat sehingga bayangan perihal suara durjana mereka terdengar sampai lantai bawah justru membuat sesi bercinta mereka kali ini semakin mendebarkan.
Pada detik berikutnya, jemari lentik yang lebih tua secara sigap meraih pada ritsleting celana Fachry. Susah payah Jaresh turunkan pengait tersebut supaya suaminya merasa lebih nyaman dan leluasa, tetapi Fachry memaksa agar Jaresh langsung ke bagian inti saat itu juga.
“Masukin sekarang, Kak.”
“K-kamu nggak mau buka dulu bajunya biar nggak kotor, Fachry? Ini ‘kan baju yang sering kamu pakai setiap berangkat ke masjid.”
“Iya nanti aku buka. Sekarang masukin dulu, biar hangat,” pinta Fachry dengan nada menuntut. Dirinya hampir tidak pernah meminta apa-apa dari sang suami, tetapi untuk urusan selangkangan sepertinya beda lagi. Saat ini Fachry sedang kebelet ingin dilayani.
Tidak ingin berdebat lebih lanjut, Jaresh segera mengarahkan penis tebal sang suami yang sudah sekeras batu ke depan liang kawinnya. Penis Fachry sudah cukup licin oleh pelumas alami sehingga seharusnya Jaresh dapat dengan mudah memasukkan milik suaminya ke lubang senggamanya. Ya, seharusnya begitu, tetapi kenyataannya Jaresh tidak dapat melakukannya semudah itu. Meski Jaresh telah berjuang memasukkan batang besar itu ke dalam analnya, tetap belum masuk juga. Akhirnya dia hanya gesek-gesek kemaluan Fachry di depan pintu masuk tubuhnya.
Ahh, Fachry, punyamu besar sekali … saya jadi kesusahan masukinnya!
Memang ini bukan pertama kalinya mereka bercinta dalam posisi tersebut, tetapi seharusnya Fachry sudah tahu kalau Jaresh kurang menyukai posisi bercinta dengan ia yang berada di atasnya! Jaresh kurang suka mengambil alih dan menciptakan sendiri ritme permainan mereka, sebaliknya ia lebih menyukai jika Fachry yang lakukan itu semua. Jadi, wajar jika Jaresh canggung kala dibiarkan memimpin, bukan?
Fachry yang jengah dengan tindak tanduk Jaresh pun tidak kuasa untuk bangkit dan mendekat, kemudian ia peluk pinggang ramping Jaresh lalu meraih sendiri kejantanannya dan bersiap untuk membobol sang suami. “Sini aku yang masukin aja deh kalau kamu nggak bisa, Kak. Tunggu kamu lama, keburu ngambek nanti punyaku.”
Benar saja jika Fachry yang memimpin, maka semua berjalan sempurna. Milik Fachry masuk dengan sangat mudah dalam sekali usaha ia mendudukkan sang kekasih pada pangkuannya. Ia melenguh saat merasakan rapatnya dubur suaminya, yang langsung menelan miliknya sampai habis tak bersisa. Setelah itu, barulah Fachry berbaring lagi demi menepati janji, membiarkan Jaresh bergerak sendiri semaunya dan sebebas-bebasnya.
“Kamu bisa lanjut gerak kalau sudah merasa nyaman, Kak.”
Mengangguk, Jaresh menyetujui sang suami lalu berdiam diri dulu untuk menyesuaikan diameter Fachry. Momen diamnya itu Jaresh gunakan untuk menanyai suaminya. “Kamu bawa kondom nggak, Fachry?”
“Telat kamu mintanya, udah terlanjur masuk juga.”
“Bukan buat kamu, tapi buat saya! Biar nggak berceceran ke mana-mana!”
“Nggak bawa aku, Kak. Soalnya aku nggak punya rencana mau main sama kamu. Makanya aku nggak prepare apa-apa.”
“Terus gimana ini, Fachry? Kamu tahu sendiri saya pas cum kayak gimana.”
Oh, jelas Fachry mengetahui bagaimana keadaan Jaresh ketika senggama. Ia selalu gagal mengontrolnya, alhasil ketika Jaresh menyemburkan sperma maka akan muncrat ke mana-mana.
“Ya sudah nggak apa-apa. Besok aku yang cuci spreinya.”
Percaya dengan kata-kata suaminya, Jaresh pun lanjut membuat gerakan naik turun di atas kemaluan Fachry. Sebelum bergerak, ia merentangkan lututnya agar terbuka sedikit lebih lebar. Menyebabkan batang kemaluan menegang yang ada di antara kedua kakinya mencuat ke udara. Menciptakan pemandangan yang layak disembah oleh Fachry. Di mata Fachry saat ini, Jaresh bak raja yang melonjak-lonjak di singgasana, sementara Fachry sebagai hamba sahaya sekaligus orang yang menyiapkan tempat duduk sang raja.
Karena Jaresh adalah raja, maka dia maunya selalu dilayani oleh hambanya yang paling setia, termasuk dalam kepuasan diri sendiri pun selalu ia serahkan pada Fachry. Belum ada lima menit Jaresh berusaha untuk membuat enak penyatuan mereka, ia memilih berhenti dan merengek pada Fachry seperti bayi.
“Ughh …, Fachry!”
“Kenapa berhenti, Kak?”
“S-saya nggak bisa! Gimana sih caranya biar enak?”
Jujur saja Fachry tidak tahu bagaimana caranya. Selama ini ia melakukannya bersama Jaresh hanya menggunakan satu cara, not the other way around.
“Coba kenain ke prostat kamu, Kak.”
Setuju terhadap saran suaminya, Jaresh langsung mempraktekkan dan bergerak kembali. Sebenarnya dia tidak tahu persis di mana titik paling sensitif dalam dirinya itu berada—sebab selama ini selalu Fachry yang menemukan—tetapi Jaresh menolak untuk menyerah begitu saja. Lantas ia pun memutar pinggulnya untuk mencari tahu di mana letak gumpalan sensitif itu dan berharap segera mengenainya.
Gerakan pinggul Jaresh yang menyerupai figur angka delapan itu seakan mengulek penis Fachry. Penis laki-laki yang terbaring di bawahnya itu pun terasa sangat ngilu, entah sudah berapa kali Fachry meneteskan lendir pra ejakulasi sedari awal Jaresh menungganginya.
Ahh, mantep banget goyanganmu, Kak.
Fachry bermunajat dalam hati, tetapi tidak diucapkannya sebab akan terdengar terlalu vulgar di telinga.
“Ahh, Fachry!” desah Jaresh tanpa aba-aba sebelumnya, mengagetkan sang suami sebab desahannya disuarakan begitu lantang.
“Ketemu, Kak?”
Jaresh manggut-manggut ribut, mulai bersemangat ingin mengenai titik manis itu lagi dan lagi.
“Sekarang kakak gerak lagi, tapi jangan berisik, bisa?”
Meskipun tidak yakin bisa atau tidak, Jaresh tetap menurut. He can’t wait to make himself feel good by using his husband's length again. Oleh sebab itu, meski kakinya hampir kesemutan, Jaresh tetap memutuskan untuk lanjut.
Baru naik turun tiga kali, Jaresh sudah menutup mata lantaran setiap kali duduk, kepala penis Fachry langsung menumbuk prostatnya. Selain itu, Jaresh pun cepat-cepat menutup mulutnya menggunakan kedua tangan agar lenguhannya tidak keluar. Baru di menit yang kedua, Jaresh ambruk dan bersandar di dada Fachry lantaran tenaganya sudah habis terkuras.
“Ahhh, saya nggak kuat, Fachry,” bisiknya di bawah telinga sang kekasih, dan Fachry yang sedang enak-enaknya ketika Jaresh berhenti itu tidak menghiraukan keresahan suaminya.
“Kuat, Kak. Ayo dicoba lagi,” sanggah Fachry seraya mendorong pundak sang suami. “Gini aja posisinya, bertumpu di kasur pakai siku.”
Posisi ini memungkinkan Jaresh memandangi wajah tampan suaminya dari dekat. Untungnya Fachry inisiatif memegangi pinggang sang suami, membantunya bergerak supaya ia tidak cepat kelelahan. Kemudian Jaresh maju mundur lagi, menikmati detik demi detik tiap kali batang panjang berurat milik suaminya menyumpal analnya hingga dia merasa penuh dan sesak.
Tiba-tiba Jaresh teringat bagaimana biasanya tempo sang suami ketika menggagahinya, yaitu secara keras dan cepat. Jaresh pun berusaha mengimbangi tempo suaminya supaya mereka berdua merasakan enak.
“Nah, kayak gitu, Kak. Pinter banget sih kamu naikin penis suami—shhh!” desah Fachry seraya menyugar anak rambut suaminya.
Pujian dari sang suami buat kepercayaan diri Jaresh melambung tinggi. Seperti yang dikatakan Fachry, ia pun mempercepat gerakan mengendarai penis suaminya. Saking cepatnya Jaresh maju mundur, tercipta suara cabul khas orang sedang kumpul. Apabila nanti mereka ketahuan, tidak heran jika ketahuannya bukan dari nyaring desahan melainkan dari ributnya suara penyatuan dua badan.
“Ahh ahh ahh,” Jaresh mendesah-desah kecil dengan mulut yang menganga lapar, seolah minta diisi jari Fachry. Akan tetapi, tidak Fachry beri sebab kedua tangannya punya aktifitas lain yakni menampar-nampar pipi pantat Jaresh yang kanan maupun yang kiri secara bergantian, buat Jaresh kegirangan dan tidak waras dibuatnya.
Kemaluan Jaresh yang bengkak terjebak di antara perutnya dan perut Fachry kini terasa seperti digesek-gesek nikmat. Tidak aneh apabila Jaresh sudah mau ejakulasi, dengan penis licin yang terhimpit dan lubang anal yang disumpal begitu dalam—sampai tercetak di perut bagian bawah. Fachry tahu suaminya sebentar lagi akan pecah senggama.
“Kepengen cum ya kamu, Kak? Mau muncrat peepee-nya, iya?”
“He eh—aduh, saya udah nggak tahan, Fachry,” ungkap Jaresh dengan suara rendahnya.
Bisa dipastikan kalau di detik berikutnya Jaresh berhasil mencapai putihnya, jika tidak ada suara langkah kaki mencurigakan yang menaiki tangga ke lantai dua.
Shit shit shit shit!
“Ahh—Fachry, ada yang datang, stop dulu!”
Seluruh ministrasi pun terpaksa dihentikan oleh sepasang suami yang sedang dimabuk berahi itu. Ternyata benar ada seseorang yang menaiki anak tangga. Jaresh keringat dingin selama menerka-nerka siapakah pemilik langkah kaki tersebut. Tidak lama setelah seorang misterius itu mencapai anak tangga yang teratas, kedengarannya ada yang memasuki sebelah kamar Fachry dan menutup rapat pintunya. Keduanya berpendapat sama, sudah pasti yang datang adalah Fariz, adik laki-laki Fachry.
“Ohh astaga, Fachry!” protes Jaresh manakala suaminya tidak membaca situasi. Bukannya menyudahi, lelaki yang lebih muda tampaknya malah ingin selesaikan aktifitas yang sudah mereka mulai. Baru saja Fachry mendorong masuk kemaluannya sampai yang lebih tua terperanjat.
“Lanjutin, Kak. Tanggung.”
“K-kamu sudah kunci pintunya ‘kan, Fachry?”
Ah, shit. Fachry kelupaan.
“Kayaknya belum, Kak.”
Mata Jaresh yang pada dasarnya memang sudah bulat besar, akan membola lebih besar lagi saat terkejut seperti sekarang ini. “Kamu yang benar saja, Fachry?! Bisa-bisanya kamu lupa kunci!”
Naluri Jaresh menuntunnya untuk bangkit dan meraih kunci yang menggantung di pintu. Menyebabkan penyatuan mereka hampir terlepas jika bukan karena ada sepasang tangan yang mendekap pinggang Jaresh erat.
“Lepasin saya, Fachry!”
“Mau ke mana kamu, Kak? Belum beres ini urusan kita.”
“Kalau ada yang tiba-tiba masuk gimana?! Kita lagi begini!”
“Tenang, kakak sayang. Keluargaku nggak bakal ada yang buka pintu kamar kita tanpa permisi selama ada kamu di dalamnya,” ungkapnya pada sang kekasih di pangkuan, yang tubuh berpeluhnya kelewat seksi di mata Fachry.
Lelaki yang lebih muda meraih rahang lelaki lainnya. Bagai anak kucing, Fachry jilat dagu dan pipi si manis dalam pelukan, hingga sekujur tubuhnya merinding akibat Fachry kecanduan menghirup aroma di ceruk lehernya. Sambil memikirkan bahwa siapapun dapat membuka penghalang dengan area luar kapan saja, perut Jaresh seperti diterbangi ribuan kupu-kupu. Ia mengejan dipangku suaminya, dan dinding lubang analnya yang seketika berdenyut-denyut itu berada di luar kuasanya.
“Kok kedutan sih kamu, Kak? Suka ya kalau ngewenya sambil ketakutan bayangin kita bakal ketahuan?”
Wajahnya sudah mirip kepiting rebus sekarang. Entah mau disembunyikan atau kabur, keduanya tidaklah menjadi opsi bagi Jaresh.
“Berhenti ngomong jorok, Fachry! Lebih baik sekarang kamu kunci dulu pintunya kalau mau dilanjutkan!”
Balik lagi ke kiasan seorang hamba, Fachry melaksanakan perintah dari rajanya. Siapa sangka itu semua hanya demi si hamba bisa memuja sang raja di sela dua kakinya, agar bisa mengabdi di bawah sana dan menerima penyerahan diri sang raja untuk dinikmati oleh si hamba sepuasnya.
Begitu ada bunyi ‘klik’ pintu terkunci, Fachry perlahan membuka kancing baju koko favoritnya satu per satu dan meletakkannya sembarang. Ia merangkak di bawah kaki Jaresh kemudian menaunginya. Fachry elus lembut setiap inci kulit halus kekasihnya, seolah dari perlakuannya itu dia adalah lelaki sempurna yang akan membawakan surga dunia kepada suaminya. Ya, itu memang fakta. Fakta juga bahwa Fachry adalah lelaki yang handal bermain kata, sehingga apa yang dia perintahkan tidak terdengar seperti tuntutan.
“Ngangkang yang benar buatku, Kak. Aku mau menikmati suamiku di kamar lama semasa lajang dulu,” tegasnya pada Jaresh. Kemudian yang lebih muda mengambil bantal untuk diberikan pada sang suami dan mengatakan, “Sebaiknya kamu bungkam mulut kamu pakai ini, karena yang boleh dengar suaramu cuma aku.”
Berikutnya hanya ada suara desahan dari mulut Jaresh yang tertahan. Beruntung Fachry berikan bantal supaya Jaresh bisa menggigitnya kala yang lebih muda kembali membenamkan miliknya pada liang kawin yang lebih tua, sehingga Jaresh tak perlu repot menyembunyikan suaranya.
Pukul setengah tiga pagi, ternyata Jaresh dan Fachry belum juga selesaikan hubungan intim mereka. Sudah lebih dari sekali Jaresh mencapai puncak, tetapi setelah istirahat sebentar Fachry lanjut lagi penyatuan mereka dan malah semakin hanyut bersenggama. Hingga ronde yang ketiga, Jaresh rasakan lubangnya sudah penuh oleh sperma, tetapi tetap digunakan untuk mengejar kepuasan oleh suaminya.
Sebenarnya Jaresh tidak menolak—sebab dia juga merasa enak—hanya saja lututnya hampir kebas lantaran sudah terlalu lama menopang badan. Pada posisi ini, dengan mengesampingkan rasa malu Jaresh menungging untuk mempersembahkan liang kawinnya agar dapat dinikmati sang suami sebanyak yang dikehendakinya dari belakang. Entah sudah berapa kali Jaresh mau ambruk, tetapi lagi-lagi ditarik Fachry untuk bangun.
“P-pelanin, Fachry—I think I’m gonna cum again!” seru Jaresh kala sperma di penisnya yang menggantung sudah terasa seperti di ujung. Jaresh mau mengocok miliknya sendiri, tetapi tidak diperbolehkan oleh sang suami. Tangannya selalu ditarik lalu disematkan lagi ke kasur setiap Jaresh mau berikan rangsangan di sana. Menjadi pengingat dari yang lebih muda jika suaminya hanya boleh klimaks dari penisnya.
“Tahan sebentar, Kak. Aku juga sedikit lagi mau keluar—ahh!”
Kalau bisa ditahan sih Jaresh juga maunya menahan, tetapi mustahil apabila Fachry terus-terusan mengerjai prostatnya! Sudah bagus Jaresh hanya gemetar dan bukan langsung menumpahkan sperma. Jika bukan Jaresh orangnya—yang mana merupakan sesama laki-laki—maka tidak akan mampu mengimbangi tenaga Fachry dan pasti sudah minta berhenti sejak tadi.
“Tell me, Kak, kamu mau aku keluarin di mana?”
“Terserah kamu, Fa—”
“Fachry?!”
Belum selesai Jaresh lontarkan jawabannya atas pertanyaan Fachry, suara seorang wanita terlebih dahulu meneriaki nama suaminya. Hanya ada satu wanita di rumah itu, jadi sudah jelas kalau itu suaranya Umi—hanya saja tidak ada yang bisa menebak sebab alasan apa Umi memanggilnya. Di tempatnya berlutut, Fachry kalang kabut dan menarik pergelangan Jaresh secara kasar lalu ia pun membekap mulut suaminya.
“Sshhh, ” bisik Fachry di belakang Jaresh.
“Fachry, kamu sudah bangun?”
“Y-ya, Umi?!” jawab Fachry terbata. Masih untung suaranya tidak retak sehingga kemungkinan dirinya dicurigai sedang menjimak sang suami tidak terlalu keciri.
“Nanti Jaresh mau ikut sahur nggak? Kalau iya mau Umi panaskan opor ayamnya,” kata Umi menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil sang anak. Jika didengar dari jarak suara, Ibunda dari Fachry itu sepertinya sudah berada di lantai dua, tepat di depan kamar anak sulungnya.
Adapun dari dalam kamar si sulung itu hening selama beberapa saat, sementara sang Ibunda di luar pasti tidak menyangka kalau anak kandung dan menantunya di dalam tengah sibuk bersenggama. Umi pun kembali bertanya, “Gimana, Fachry?”
“Jawab, Kak—ahhh!” pintanya sambil berusaha agar desahannya terdengar sekecil mungkin. Fachry enggan mewakili jawaban Jaresh sebab penisnya sedang keenakan dijepit lubang sempit sang suami.
“I-iya mau, Umi. T-terima kasih.” Setelah itu tidak ada jawaban apa-apa lagi dari Umi.
Setelah dirasa sang ibunda sudah pergi dari depan pintu kamarnya, Fachry melepaskan kembali mulut suaminya kemudian pindah mencengkram kuat pinggang sang kekasih dan mendorongnya kuat ke kasur. Jaresh terkunci, ia tidak bisa bergerak ke mana-mana, posisi ini hanya bisa digunakannya untuk menyerah dan pasrah selagi dipakai oleh Fachry. Meskipun begitu, lubuk hati Jaresh yang paling dalam aslinya menyukai apabila Fachry menyetubuhi secara kasar. Ditambah barusan mereka hampir ketahuan, buat milik Fachry di dalam anal Jaresh seolah diremas-remas kencang.
“Shit, Kak, lagi ada Umi tapi kamu malah makin ketatin lubang pantatmu. Tambah sange ya pas tahu ada orang lain di balik pintu?”
Pikir Jaresh seharusnya Fachry lah yang berkaca pada dirinya sendiri. Seharusnya Fachry tahu malu untuk tidak berbuat hal tercela selagi ada di rumah orang tuanya, bukan malah semakin gencar menggauli Jaresh tanpa ampun bagai orang yang tak bisa menjaga kemaluan supaya tidak asal berdiri tanpa melihat situasi dan kondisi. Namun, tentu ada alasan mengapa mereka adalah pasangan yang serasi, yaitu karena keduanya sama-sama nafsuan dan punya berahi yang tinggi.
“Sshh, Kak, nikmat banget lubangmu. Aku nggak bisa sehari aja libur ngentot kamu.”
Jaresh tahu kalau suaminya sudah dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia akan bicara melantur seputar betapa menggairahkannya tubuh sang suami—atau sudah seberapa dekat ia pada pelepasannya. Terkadang ia sampai menitikkan air mata dari seberapa joroknya kalimat Fachry yang ditujukan kepadanya. Sementara yang lebih muda makin semangat menggempur lubang suaminya, sambil memprovokasi agar ia dan suaminya segera mencapai putih. Sedikit yang Fachry ketahui, Jaresh tidak masalah dengan dirty talk dan kalimat merendahkan yang diucapkan untuknya.
“Asal kamu tau, Kak—aahhh! Kendala aku selama puasa bukan nahan haus dan lapar …, yang susah itu nahan nafsu ke kamu fuck fuck fuck!”
Ingin membalas pujian sang suami kepadanya, sayangnya Jaresh tidak bisa. Saat ini mulutnya diredam ke bantal, membenamkan wajahnya dan menutup mata. Menikmati setiap jengkal hentakkan kemaluan suaminya yang buat tubuh Jaresh kejang. Bagi Jaresh ini semua begitu overwhelming, fokusnya kini hanya berpusat pada kenikmatan pada kemaluannya, yang tidak berhenti lelehkan lendir bening dari lubang kencingnya.
“Habis kamu secantik dan sebagus ini body-nya, seksi banget—fuck! Bikin nyangein! Aku keluar di dalam, ya? Ahh!”
Memang suaminya tidak mengatakan apa-apa saat Fachry menyentaknya untuk yang terakhir kali di malam itu sebelum ia membuang benih di liang kawin Jaresh. Sang kekasih memenuhi dan memasukinya dalam sekali, sampai terasa hangat di bawah perut Jaresh kala lubangnya diisi sperma Fachry. Dari belakang, Fachry bisa melihat suaminya mengejan ketika pelepasannya berhenti. Saat dicek, rupanya lelaki yang lebih tua juga menyemprotkan cairan putih kental ke kasur bawah tubuhnya sambil meredam jeritan.
Seusai orgasmenya berhenti, perlahan Fachry mengeluarkan miliknya yang sudah lemas dari lubang Jaresh. Menyebabkan analnya meninggalkan lubang seukuran diameter kejantanan Fachry, dengan lelehan air mani yang meluber keluar, tidak dapat ditampung semua oleh Jaresh. Fachry pun beristirahat di samping Jaresh sembari mengatur pernapasan, tetapi sebelum itu tak lupa ia berterima kasih pada sang suami dengan cara menepuk-nepuk pipi pantatnya—yang masih menungging ke udara.
Barulah setelah kedutan pada penisnya mereda, Jaresh tidurkan tubuhnya dalam posisi tengkurap. Ia pun menengok pada sang kekasih, betapa kaget Fachry ketika melihat wajah suaminya semerah ceri. Pipi Jaresh merona, tidak jauh berbeda dengan wajahnya ketika ia mabuk berat, bedanya kali ini ia mabuk bercinta dengan Fachry.
“You are crazy …, and you are fucking me so fucking hard I almost forget my name.”
“That’s not a bad thing, right?”
“No, that’s awesome and I’m so impressed by you. Saya selalu puas setiap habis ngeseks sama kamu.”
Keduanya terkekeh mendengar innapropriate jokes tersebut. Fachry pun ingin katakan hal yang sama, kalau dia sama puasnya setiap habis main dengan sang suami. Hanya saja tidak jadi, karena ia menyadari kalau kini jam telah menunjukkan hampir pukul setengah empat pagi. Fachry pun memeriksa sisi kasur yang ditiduri suaminya, ingin mengetahui sekacau apa hasil perbuatan mereka.
“Basah banget kasurku, Kak. Itu sperma kamu semua atau ada urinnya?”
“Kamu pikir saja sendiri!” amarah Jaresh menunjukkan kalau ia sudah kembali pada kewarasannya, berarti mereka sudah bisa cabut ke kamar mandi tanpa melalui sesi after care.
Fachry bergegas mengambil tissue di meja belajarnya. Lalu ia pun bantu mengelap tubuh sang suami sampai tak ada lagi sisa lendirnya, dan mengambilkannya pakaian bersih serta handuk dari lemari.
“Kamu duluan masuk kamar mandinya, bersih-bersih dulu saja nggak usah mandi nggak papa. Aku pakai kamar mandi di bawah. Maaf ya sekarang aku nggak bisa bantu, nanti takut sahurnya nggak keburu.”
Secara malas-malasan Jaresh bangun dari kasur—karena spreinya mau diganti oleh Fachry. Ia jarang masuk kamar mandi sepagi ini untuk membersihkan badan dari sisa permainannya bersama suaminya. Biasanya yang lebih tua lebih memilih tidur sampai pagi dan membiarkan sang suami yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun, sekarang mereka bukan berada di rumah sendiri. Jaresh teringat kata Mami, harus rajin ketika berada di rumah mertua, lagi pula dirinya dan Fachry jarang-jarang mengunjungi Baba dan Umi.
“Kalau ada yang curiga, pokoknya ini semua salah kamu, ya!”
Dengan begitu Jaresh pun bangkit dan mengambil handuk, membuka pintu yang dikunci, kemudian lari ke kamar mandi.
Untungnya kamar mandi di rumah Fachry ada tiga. Satu di lantai dua, satu di bawah, dan satu lagi di kamar orang tuanya sehingga tidak ada drama rebutan kamar mandi menjelang subuh begini. Selesai mandi di kamar mandi yang berbeda, Jaresh kembali bertemu dengan Fachry di ruang makan. Jaresh perhatikan suaminya sudah menyentong nasi beserta lauk pauk ke piringnya, tidak memedulikan tiga orang lain yang menatap heran kepadanya.
“Segar banget kamu Fachry,” komentar Baba pada anak sulungnya. Tidak bermaksud apa-apa selain membuka obrolan di pagi buta. Fachry sendirilah yang mengekspos kedoknya dengan over sharing di meja makan depan seluruh anggota keluarga.
“Iya, Baba. Kalau dari sini Fachry harus berangkat kerja jam lima, makanya jam sekarang Fachry sudah keramas dan mandi.”
Jaresh pucat pasi mendengar penuturan sang suami.
Fariz, adik Fachry satu-satunya pun menimpali. “Sekarang hari Sabtu, Kak. Akhir pekan mana ada PNS yang masuk kerja.”
Pelajaran bagi seluruh pasangan yang baru menikah, usahakan bawa hair dryer saat berkunjung ke rumah mertua.
