Chapter Text
Jimmy mendengkur nyaman di pangkuan Max, kaki kecilnya membuat gerakan mengadon roti di pahanya. Tak ingin kalah Sassy menyundul kepala berbulu itu ke lengan Max, ingin menarik perhatian. Max tersenyum lembut, menggendong Sassy, anak kucing berumur kurang lebih lima bulan. Mencium bertubi-tubi seluruh wajah kucingnya penuh kasih sayang. Mulai merasa tidak nyaman, Sassy melompat pergi menjauhi Max dan Jimmy di sofa.
Max menghela napas, seketika beban beserta rasa lelahnya tersedot, hilang entah kemana dikarenakan kedua kucing lucunya. Dia sangat bersyukur bisa bertemu mereka, suatu keajaiban, di tengah hujan besar mengguyur kota, terdengar suara anak kucing di sebuah gang. Tanpa ragu Max menyelamatkan mereka, lalu memutuskan untuk mengadopsi mereka. Jimmy dan Sassy, nama yang diberikan oleh Max.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, ia kebingungan tidak seperti biasa suaminya pulang selarut ini tanpa mengabarinya. Max pergi ke meja makan, mengambil semua makanan yang sudah dingin di atas meja makan, memasukannya ke kulkas, untuk dihangatkan lagi, jikalau suaminya belum makan malam.
Max berusaha tidak khawatir, tetapi perasaan itu memenuhi hatinya. Keputusan dibuat, ia membuka telepon genggamnya, memutuskan untuk memberi pesan, menanyakan kabar suaminya.
Suamiku
?Apakah hari ini kamu lembur lagi
Mengetik...
Tanpa disadari Max menggit ujung kukunya, kebiasaan buruk ketika ia mulai khawatir. Mungkin saja kan suaminya lembur, tetapi lupa mengabari Max.
Suamiku
Maaf Max, aku lupa mengabarimu.
Aku akan pulang agak larut hari ini, jangan tunggu aku.
Love you.
Love you too.
Max menghela napas, di hatinya terdalam ia berharap hubungan ini berjalan dengan baik. Suaminya, Toto wolff direktur utama dari Merc-Group, usia mereka yang terpaut cukup jauh membuat hubungan mereka agak canggung, atau mungkin hanya pikir Max saja. Pernikahan terjadi tidak dilandasi cinta, tetapi dilandasi kerja sama antara dua perusahaan besar. Ayahnya, Jos Verstappen dengan mudahnya membuat kerja sama dengannya, bukan salah Max bila ia ditakdirkan menjadi seorang omega. Omega tidak bisa menjadi pemimpin, itulah kata-kata yang selalu dikeluarkan Jos. Anak pertama, sekaligus anak pertama yang membuat Jos kecewa berat, karena takdir memilih Max sebagai omega.
Max selalu memimpikan, berharap ia mendapatkan kisah cintanya sendiri. Seseorang yang akan hidup mencintainya sampai akhir hayat. Terdengar mustahil, apalagi takdir menuntunnya ke hubungan ini. Max yakin, bila ia tidak menemukan cintanya, ia akan membangun dan mewujudkannya sendiri.
Max disadarkan dari lamunannya oleh suara Jimmy yang nyaring, meminta perhatian.
"Ayok kita tidur sayang," Max menggendong Jimmy, pergi ke kamar tidurnya.
Kasurnya luas, terasa sepi tanpa kehadiran suaminya. Max merebahkan diri, Jimmy mengambil posisi nyaman di samping Max. Terdengar suara Sassy, ingin bergabung dengan mereka. Max tertawa gemas.
"Ughh kalian sangat lucu! Aku bisa mati karena kelucuan kalian," Max mematikan lampu utama, menyalakan lampu tidur.
"Selamat tidur kawan," ucapnya.
_______________
Max terbangun oleh beban di belakang punggungnya, beserta hembusan napas panas menerpa leher telanjangnya. Tangan besar itu melingkari pinggang Max erat. Semakin mengeratkan pelukannya. Max bergerak ragu-ragu, tidak ingin membangunkan suaminya lebih awal, toh ini hari minggu, suaminya akan tidur lebih lama dari biasanya. Ketika ia mulai bergerak, Toto mencium leher Max, memberi kecupan kecupan kecil di sekitarnya.
"Kau mau kemana, Max."
Oh Tuhan, suara suaminya terdengar begitu seksi jika dipagi hari. Max merasakan panas mulai merayapi wajahnya. Tolong selamatkan dia dari suaminya yang begitu panas ini.
"Toto.. lepaskan aku, aku perlu bangun," Max masih berusaha keluar dari pelukan panas Toto.
"Apa kau tidak merindukan suamimu ini?," Toto masih setia mencium dan menghirup aroma feromon Max. Tangannya yang nakal memasuki kaos tipis Max, mengusap pelan dadanya, Erangan kecil tak sengaja dikeluarkan Max. Toto semakin bersemangat.
"To-tooo..," erang Max.
"Ja-jangan, jika kau terus melakukan itu, aku tidak bisa menahannya," suaranya bergetar akan kenikmatan, ia merasakan sesuatu yang keras di sekitar pantatnya.
"Kau terlalu harum sayang, aku tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Tidak usah ditahan, aku akan membantumu." Tangan besar itu memasuki tangannya, menyentuh lubang Max yang sudah sangat basah.
"Masukkan.. aku ingin kau di dalamku sekarang..," Max membalikkan kepalanya, menoleh ke arah Toto, bulu matanya basah, terkena air mata kenikmatan. Mana mungkin Toto bisa menahannya jika seperti ini.
"Sesuai keinginanmu princess."
Toto mengangkat pinggang Max begitu mudah, memposisikannya dipangkuannya. Pinggul Max mulai mencari kenyamanan, ia sudah tidak tahan lagi.
Entah kapan celana Max dilepas, cairan omeganya meluncur bebas membasahi celana yang masih dipakai Toto.
"Toto.. lagi, enghhh berikan aku-," Max berusaha membuka celana Toto dengan gelisah.
Dengan senang hati Toto membantu, mengeluarkan kejantanannya yang selalu membuat Max kaget karena ukurannya.
"Mau, mau kamu sekarang..," Max tak bisa menahannya lagi, ia memasukkan punya Toto dengan mudah, cairannya membantunya.
"Bergerak Max," bisik Toto, mencium Max dengan penuh kelembutan.
Max datang, begitu pula Toto.
Max ambruk di dada bidang Toto, terengah-engah karena adrenalin yang belum reda. Toto mencium kening Max, tersenyum bahagia, alphanya senang mengetahui omeganya senang.
"Mari kita bersihkan dirimu," Toto menggendong Max tanpa usaha, membawa mereka ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hati Max hangat, mengetahui ia dicintai oleh suaminya, alphanya.
"Kau mau pancake Max?"
Max memasuki dapur, melihat suaminya yang memakai apron pink, terlihat menggemaskan pikirnya. Max menarik satu kursi meja makan, dan duduk sebelum menjawab Toto.
"Ya, aku ingin, terima kasih," Jawab Max. Dia pasti bermimpi, membangun cinta impiannya terwujud. Bahwa apa yang dikatakan Ayahnya salah, ia bisa dicintai, ia diinginkan, buktinya Toto disini memberikan semua kasih sayangnya.
Sarapan dihabiskan dengan percakapan ringan, pertanyaan sederhana, dan gurauan.
"Kapan jadwal heatmu Max," tanya Toto, sembari merapikan piring piring yang telah dicuci Max.
Mereka belum pernah saling menemani jadwal heat ataupun Rut. Pada umumnya Heat omega akan terjadi dua kali dalam setahun, lebih banyak dari pada Alpha yang hanya sekali dalam setahun. Umur pernikahan mereka baru terhitung tiga bulan kurang. Pastinya Toto ingin memastikan ini semua.
"Sepertinya minggu depan," Max benar-benar bodoh, ia baru ingat jadwal heatnya akan datang sebentar lagi, dan fatalnya ia belum memberitahu Toto.
"Max, kenapa kau baru memberitahu ku," terdengar nada kecewa pada Toto. Max menundukkan wajahnya, merasa bersalah.
"Aku minta maaf Toto, aku lupa.." jawab Max takut.
"Tidak apa, aku akan berusaha membereskan semua jadwalku untuk menemanimu heat," Toto memegang tangan Max, menundukkan kepalanya untuk mencium rambut Max, menghirup aroma manis omeganya.
Omega Max sangat senang, ia merasakan kebahagiaan tiada tara, alphanya akan menemani dalam kondisi paling rapuh dan rentan. Didalam hatinya ia sedikit tidak sabar, walaupun ia sangat membenci heat, tetapi ini berbeda, sekarang ia bersama orang yang menyayanginya, orang yang Max cintai.
Hari minggu mereka habiskan bersantai di rumah, tentu beserta laptop kesayangan Toto yang tak pernah bisa lepas walaupun ia di rumah. Max fokus dengan design yang dikerjakannya, ia harus segera menyelesaikan revisian dan menyerahkan lagi kepada klien sebelum heatnya datang. Pekerjaannya sebagai Desainer interior membuatnya cukup sibuk, tidak terlalu kesepian ketika suaminya tidak memiliki cukup waktu dengan Max. Walaupun Ayahnya tidak memberikan kasih sayang, setidaknya ia memodali Max untuk bertahan hidup, ia bebas memiliki jurusan yang diinginkan, dan mendapatkan pekerjaan yang sangat layak. Sampai keputusan Ayahnya merenggut kebebasan Max, memutuskan perjodohan Max dengan Pemimpin Merc-Group itu.
Bel rumah terdengar, memecah fokus dua orang di sofa. Max segera berdiri.
"Biar aku saja."
Toto kembali duduk, terdengar suara helaan napas.
"Kau harus sering berolahraga, kurasa tulangmu sudah rapuh," canda Max, meninggalkan Toto terkekeh, mengangguk setuju.
Terdengar bel berbunyi lagi tepat sebelum Max membuka pintu itu. Terlihat didepannya seorang wanita, tersenyum manis kepadanya, rambutnya coklat tergerai panjang, hijau matanya teduh menatap Max. Max membalas senyumnya.
"Apakah ini rumah Toto Wolff?" Dia bertanya kepada Max.
"Oh maaf, aku belum memperkenalkan diri, Namaku Ellie, aku ada perlu dengan Toto," Ellie menawarkan jabatan tangan, yang dibalas Max dengan ragu.
"Aku Max, kau bisa menunggu di ruang tamu, akan kepanggil dia kesini." Max menuntun Ellie ke ruang tamu, mempersilahkannya duduk sembari menunggu Toto datang.
Max membalikkan badannya, matanya bertemu Toto. Dia berjalan menghampiri Max.
"Oh Toto, ada seseorang yang mau bertemu dengan mu," jelas Max. Toto menaikkan satu alisnya, penasaran.
Mata Toto bertemu dengan Ellie. Max melihat ekspresi kaget Toto.
"Ellie?" kini fokusnya pindah ke wanita di depan Toto, mengabaikan Max, hatinya seketika merasakan sesuatu. Dia tidak bisa mendeskripsikannya, tatapan Toto, itu pasti lebih dalam, hangat. Max menatap kedua orang di depannya, tidak tahu harus apa.
Terlihat Ellie membuka tangannya, ingin menyambut Toto dengan pelukan. Toto memeluknya, terlihat keraguan tetapi tetap dilakukan. Toto menyadari Max masih disekitar mereka, ia langsung merasakan atmosfer ruangan berubah, bau Max.
"Max, sayang, perkenalkan ini Ellie, ia mantan kekasihku..." Jelas Toto sedikit ragu, ia takut jika berbohong, malah akan memperburuk keadaan, jadi ia memiliki jujur. Toh mereka hanya mantan saja kan?
"Oh, tidak menyangka kau akan menikah Mr.Wolff," gurau Ellie pada Toto, sembari memutarkan matanya.
Setelah perkenalan singkat itu, Max pamit beralasan pekerjaan menunggunya.
Kembali di depan tabletnya, Max seharusnya tidak cemburu kan? mereka hanyalah mantan kekasih, sekarang ialah istri Toto. Tapi, bagaimana jika mereka saling mencintai, bagaimana jika Toto menikahinya hanya untuk kerja sama itu. Max ingin menangis, hatinya terasa sakit, pikiran berlebihan itu membuat dia terpuruk. Seketika ia takut ditinggalkan, takut jika Toto lebih memilih omega cantik itu.
Max selalu merasa ia tidak secantik itu. Dia berbeda dengan omega lainnya, dia tinggi, bertubuh besar menurutnya, tidak ramping, tidak anggun. Toto lah yang membuatnya mempercayai bahwasanya dia cantik, tapi bagaimana bila ia juga bohong? Max tak kuasa menahan perasaannya, ia meninggalkan tabletnya, berjalan ke kamar, menutup pintu rapat.
Selimut menggulung seluruh tubuhnya, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin. Dia tidak pantas disini, Toto akan meninggalkannya, memiliki omega lain yang lebih patuh, cantik, dan enak dipandang.
Isak tangis keluar, teredam selimut. Suara ketukan pintu terdengar.
"Max, apakah kau mengunci pintunya? Bolehkah kau membukanya? Tolong..."
Toto sudah merasakan sesuatu yang tidak beres semenjak Max meninggalkan ruang tamu. Dengan segala alasan Toto meminta pertemuan itu berakhir.
Bertemu mantan kekasihnya sekarang benar-benar hal tidak terduga. Pada kenyataannya mereka putus dikarenakan keduanya merasakan perasaan mereka sudah sangat jauh, tidak bisa disatukan, bisa dikatakan mereka putus dengan damai. Tapi, dimata Max pasti tidak begitu.
Toto mencari Max, tidak ada Max di ruang TV. Sassy mengeong keras, menatap Toto agresif.
Max pasti di kamar mereka. Pintunya terkunci, perasaan khawatir langsung menyerbu. Dengan pelan ia mengetuk pintu itu. Setelah beberapa saat merayu Max untuk membuka pintu, akhirnya derit pintu terdengar, terlihat Max dibaliknya, tatapannya jatuh ke lantai, tidak ingin menatap Toto.
"Sayang..."
Isak tangis terdengar, awalnya pelan, tubuh Max bergetar menahan tangis. Toto memeluknya, memegang Max layaknya kaca yang mudah pecah. Mengusap kepalanya sayang, mengucapkan kata-kata penenang. Toto menuntun Max ke kasur, membaringkannya, tetap memeluk Max erat.
Air mata Max membasahi kemeja Toto. Tangisnya telah reda, tapi air matanya tidak mau berhenti. Toto mengucapkan ibu jadinya berusaha menghapus jejak air mata Max. Matanya bengkak terlalu lama menangis, aromanya pahit dikarenakan kesedihan omega. Toto berusaha mengeluarkan aroma untuk memenangkan Max.
"Toto.. apakah kau mencintaiku?" tanya Max, suaranya parau terlalu banyak menangis.
"Tentu saja sayang," ucap Toto spontan, ia tidak berbohong, memang benar mereka menikah berdasarkan kerja sama, tetapi Toto langsung jatuh hati dengan omeganya ini. Max cantik, pintar, lembut, Toto akan dengan lantang bilang bahwa ia mencintai Max.
"Kenapa kau menanyakan hal itu hm?" Toto mencium kening Max sayang.
"A-aku tidak cantik, aku tidak seperti omega lainnya. Mantanmu sangat cantik, ia omega tercantik yang pernah aku temui.. kau tidak perlu berbohong.." jelas Max, membenamkan wajahnya di dada Toto.
"Max, sayang, kau omega tercantik, kau tidak tahu ketika aku melihatmu, aku selalu ingin menciummu, memelukmu, menyimpannya untuk diriku sendiri. Kau sempurna Max."
Max memberanikan menatap mata Toto, mencari kebohongan dibaliknya. Tidak ada, yang terlihat hanyalah kejujuran dan ketulusan.
"Jangan tinggalkan aku, Toto," pintanya lirih.
"Tidak akan sayang," Toto mencium bibir Max, pelan, penuh perhatian, tanpa nafsu, hanya kasih sayang.
Mata Max berat, menangis membuatnya lelah. Perlahan gelap mengambil alih. Mereka tetap berpelukan, saling menghangatkan, memberikan pengertian dan kepercayaan.
Melihat Max terlelap, Toto menghela napas lega. Omeganya sangat tertekan dengan kejadian tadi. Toto tahu latar belakang Max, ia mencari tahu sebelum menerima pernikahan itu. Walaupun bisa dikatakan itu perjodohan, Toto tidak ingin calonnya merasa asing. Toto tahu Ayahnya Max, pemimpin Verstappen Co. Dia alpha yang keji, selalu merendahkan Omega, memiliki putra pertama omega, yang pada akhirnya dikorbankan untuk kerja sama ini. Toto ingin menyelamatkan Max, mencintainya sepenuh hati.
Max terbangun oleh dengkuran keras Sassy, mengeong meminta perhatian Max. Setengah sadar, ia melihat sekeliling kamar, Toto sudah tidak ada di sampingnya, suara pancuran air menyadarkan bahwa Toto masih ada disini. Max merasakan matanya bengkak, bekas tangisan semalam. Dia menyerang malu, kenapa ia harus menunjukkan sisi lemahnya pada Toto.
Toto keluar dari kamar mandi, hanya memakai handuk untuk menutupi bagian bawahnya, membiarkan badannya terbuka, masih basah dan panas. Max tersipu, ia selalu salah tingkah melihat suaminya.
Toto menyadari hal itu, ia menghampiri Max. Memegang lembut rahangnya, membuat mata Max mau tak mau menatap mata Toto. Ciuman lembut dimata dipipinya membuat Max malu, omeganya begitu senang dimanja oleh alphanya.
"Selamat pagi sayang," mencium perlahan bibir penuh Max.
"Pagi, Toto." Wajah Max sudah semerah tomat. Toto hanya menyeringai, meninggalkan Max sendiri untuk berpakaian.
Dengan cepat Max mencuci muka dan menggosok gigi Menyiapkan sarapan beserta kopi untuk Toto dan dirinya. Sarapan sederhana, roti dan krim sup buatan sendiri.
"Terima kasih untuk sarapannya, sayang," Toto mencium rambut Max.
Rumah luas itu terasa sepi lagi, ia membereskan sisa sarapan tadi. Mulai menulis jadwalnya hari yang akan dia lakukan hari ini.
Jadwal heatnya tinggal menghitung hari, Max perlu mempersiapkan segalanya, ia sedikit khawatir, ini heat pertama yang akan dihabiskan dengan alphanya.
Terbesit dipikiran Max, apakah saat Heat, Toto mau memberikan tandanya, menjadikan Max milik Toto sepenuhnya. Dia segera menghapus pikiran itu, terlalu awal, tergesa-gesa, bahkan pernikahan mereka belum genap setengah tahun. Mungkin dia akan membicarakan itu dengan Toto.
Telepon genggamnya bergetar, tertulis 'Suamiku' di layar, tanpa ragu Max menjawab telepon itu.
Max, maaf apakah kau sedang sibuk?
"Tidak, aku senggang hari ini, ada apa Toto?"
Bisakah kau membawakanku maps merah yang ada di atas meja kerjaku? Aku tidak bisa meninggal kantor dikarenakan klien penting, dan berkas itu juga sangat penting. Simpan saja di resepsionis,
"Tentu! Aku akan langsung ke kantormu."
Terima kasih banyak sayang! Aku mencintaimu
Telepon tertutup, mungkin benar suaminya semakin pelupa, pikir Max geli. Dia mengambil kunci mobilnya, jalanan cukup padat tetapi tidak macet. Max memarkirkan mobilnya, berjalan keluar menuju kantor Toto. Jujur saja itu pertama kali Max memasuki gedung Merc-Group, gedung yang sangat besar. Max agak gugup, ia memegangi lehernya tak nyaman, ia beruntung memakai penghambat aroma, itu membuatnya sedikit nyaman.
"Permisi, apakah aku bisa bertemu dengan Toto Wolff," tanya Max sopan pada resepsionis.
"Mohon maaf Pak, apakah anda sudah membuat janji dengan beliau?"
"Ah tidak, tapi dia yang memintaku kesini, aku berniat untuk memberikan barangnya," jelas Max.
"Baik , kau bisa menitipkannya di sini."
"Apakah aku tidak boleh memberikannya sendiri?" tanya Max masih sopan.
"Saya minta maaf Pak, Pak Toto untuk saat ini membatasi tamu-tamunya.
" Apakah istri Toto menjadi salah satu bagian itu?" Max tidak tahu kenapa ia menanyakan hal itu, jelas ia menyesalinya.
Seperti jaringan yang tersambung secara cepat setelah korslet, Resepsionis itu baru menyadarinya.
"Maafkan aku Pak, aku sudah sangat tidak sopan, aku akan mengantarmu ke ruangan Pak Toto," Resepsionis itu membungkuk, Max merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa! Terima kasih atas bantuannya." Max mengikuti langkah resepsionis yang mengarahkannya ke ruangan Toto.
Gedung itu sangat megah, berbeda dengan gedung perusahaan Verstappen Co. Segalanya berkilau, bergaya modern, ramai dengan pekerja yang sibuk berjalan kesana kemari.
Suara lift menunjukkan lantai paling atas di gedung. Resepsionis mempersilahkan Max untuk masuk, meninggalkan Max sendiri. Sepertinya benar, ia menyesali keputusan yang dibuatnya, Toto menyuruhnya menyimpan berkas ini di resepsionis, tetapi ia malah pergi sendiri ke ruangan ini.
Ruangan itu sangat luas, Max jalan perlahan, melihat sekeliling, mengagumi design interiornya. Terlalu fokus, ia mendengar percakapan dua orang pria. Tidak baik untuk menguping, tetapi rasa penasaran lebih menguasai.
"Kau yakin akan melanjutkan pernikahanmu? Kupikir kesepakatan dengan Jos hanya menikahi omega itu selama setahun." Terdengar suara tertawa, Max yakin itu suara Toto. Detak jantungnya memompa cepat, takut.
Apakah semua ini hanyalah sandiwara? Apakah setelah ini Toto akan membuangnya.
"Memang begitu kesepakatannya tapi-"
PRAANG!
Suara vas jatuh tak sengaja Max senggol karena panik.
"Siapa itu!!" Teriak Toto. Max berlari, sebelum ia memasuki lift, rambutnya ditarik kuat oleh tangan seseorang, ia berteriak kesakitan. Air mata turun deras tanpa seizinnya. Max ketakutan.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku- aku tidak bermaksud untuk menguping, ma-maafkan aku," Max bergetar tak terkendali. Toto kaget, Max, Maxnya, kurang dari sedetik ia melepaskan cengkeraman tangannya dari rambut Max. Omega itu menangis pilu, Toto mencoba memeluk Max. Naluri Max menolak, ia mendorong Toto, menolak pelukan alphanya, merasa terancam.
"Toto-"
"KELUAR!" Toto mengeluarkan suara alphanya pada pria itu, tergesa-gesa ia menuju lift, meninggalkan pasangan yang berduka di karpet beludru merah.
Rasa tarikan di rambutnya masih terasa, sakit, mengingatkan perlakuan Jos padanya. Max panik, memegang kepalanya.
"Tidak, ti-tidak, jangan tarik rambutku, aku-aku janji akan menjadi omega yang baik, ma-maafkan aku Ayah," isak tangis Max menjadi lebih keras. Berusaha ia hentikan, tubuhnya tetap tidak mau mendengar, aroma pahit omeganya menyeruak keluar memenuhi ruangan.
Toto sangat terpukul, bagaimana ia bisa melakukan kesalahan yang sangat amat fatal seperti ini. Mengapa dengan bodohnya ia memperlakukan orang yang sedetik kemudian ternyata itu Max dengan sangat kasar. Kenapa..
"Sayang, Max dengarkan aku, bernapas dengan ku, maafkan aku sayang, kau bisa mendengarku?" Toto menagkup wajah Max.
"Ma-maaf aku tidak bermaksud menguping, ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud-"
"Shhhh Max, sayang, sayangku, kamu tidak salah," jelas Toto sembari mengecup rambut Max lama.
"To-to.. pulang... aku ingin pulang.."
"Ya sayang, kita akan pulang, aku minta maaf Max," lirih Toto, memeluk Max erat.
Toto menyampirkan Jas besarnya di bahu Max, menutupi seluruh badannya, membuat Max merasa aman.
Perjalanan menuju rumah diselimuti keheningan, Max terdiam, Toto memperhatikan tangan bergetar dipangkuannya. Toto meraih tangan Max, menggenggam erat, mengelus jari jarinya lembut.
Sejauh mana Max mendengar percakapan mereka. Max pasti sudah salah paham. Ya Tuhan, Toto berharap ia bisa memperbaiki semua kesalahannya.
Sesampainya di rumah, Toto masih memegang tangan Max. Max enggan berbicara, ia terlalu lelah, mendekati masa heat, menjadikan hormonnya tidak stabil. Dia terlalu sedih dan tertekan untuk sekarang.
