Chapter Text
Dulu, waktu mereka masih SD, Stelle pernah manjat pohon dan jatuh. Lututnya berdarah, tapi dia bilang dia bisa jalan sendiri ke UKS, padahal matanya sudah berkaca-kaca. Dan Heng yang maksa gendong dia dan nemenin sampai dia selesai diobatin. Stelle masang muka cemberut sepanjang waktu, tapi diam-diam merasa senang karena Dan Heng peduli sama dia. Di lain waktu, Stelle pernah berkelahi dengan seorang anak laki-laki yang suka mengolok-olok anak perempuan, termasuk dirinya.
“Dia bilang anak perempuan itu lemah dan seharusnya fokus belajar masak saja! Besok, aku akan kempesin bola sepaknya!”
Sambil membereskan kotak P3K, Dan Heng mengangguk. “Stelle anak perempuan kuat dan pintar.”
Gadis kecil berambut abu-abu itu nyengir lebar.
“Tapi berkelahi itu hal yang tidak patut.”
Mereka tidak pulang bareng seperti biasanya. Dan Heng mau minta maaf karena merasa sudah membuat Stelle marah, tapi besoknya dia melihat gadis itu berlari ke arahnya dengan sebuah bola sepak.
“Bantu aku kempesin bola ini dan sembunyiin di selokan!”
Dengan begitu, si anak laki-laki pemilik bola tersebut menangis sepagian dan menaruh dendam pada Stelle. Mereka menjadi musuh bebuyutan sampai SMP, beberapa kali ketahuan berkelahi di belakang sekolah dan akhirnya dicap problematik oleh guru BK. Untungnya, Dan Heng selalu membela Stelle sebelem kemudian menasehatinya dengan cara yang lebih efektif.
Terlepas daripada itu, nilai-nilai akademis Stelle termasuk salah satu yang terbaik. Antara secara natural demikian atau mungkin karena setiap Minggu sore belajar bareng Dan Heng di rumah salah satu dari mereka.
Kenakalan Stelle sudah berkurang sejak masuk SMA karena faktor sahabat baru mereka yang bernama March, yang mungkin sedikit banyak mempengaruhi Stelle untuk bersikap lebih feminim. Namun, bukan berarti sifat tomboy Stelle pergi begitu saja. Suatu saat di hari-hari pertama sekolah, seorang kakak tingkat bersiul-siul kepada March dan si rambut abu tidak takut untuk langsung mengancamnya. Kakak tingkat itu awalnya meremehkannya, tapi saat Stelle menggulung lengan baju, mengepalkan tinju, dan menatap dengan keseriusan penuh, kakak tingkat itu memutuskan untuk tidak cari gara-gara lebih lanjut.
“Kamu tidak perlu sampai segitunya…” ujar March.
Stelle melihat ke arahnya. “March, sebagian besar laki-laki di dunia ini masih terikat dengan sistem lama antara ‘kasta’ laki-laki dan perempuan. Jika kita tidak kasih mereka paham, mereka akan terus-terusan menginjak-injak harga diri kita. Jangan mau kayak gitu, March!”
March tertawa geli atas pidato menggebu-gebu itu. Sementara di sisi lain, di tempat yang cocok untuk menyaksikan kejadian itu, seorang anak laki-laki berambut putih menjatuhkan gelas es tehnya, membuat kawannya bersungut-sungut sambil keheranan.
***
Kelas trio kesayangan kita jarang mendapat jam kosong. Kebetulan di saat mepet istirahat makan siang ini, guru mereka yang seharusnya masuk kelas ada keperluan lain dan hanya memberikan mereka tugas. Tugasnya pun tidak sulit, hanya membaca sebuah bab di buku dan mendiskusikannya dengan teman-teman yang lain. Tapi “diskusi” Dan Heng, Stelle, dan March malah ngalor-ngidul ke mana-mana. Biasanya topik baru muncul dari pertanyaan asal bunyi Stelle atau March, lalu tiba-tiba Dan Heng ikut menyuarakan overthinking-nya, dan akhirnya mereka membahas mata pelajaran lain atau berkeluh-kesah tentang apa saja.
“Dan Heng, rambutmu rontok ya, akhir-akhir ini,” celetuk March tepat saat bel istirahat berbunyi.
“Hah? Apa?” Dan Heng refleks menyisir-nyisirkan rambutnya.
“Kalo menurutku, malah agak memanjang dikit lho,” ujar Stelle. “Terutama di bagian poni! Seingatku, dulu susah disisir ke belakang gini.”
Stelle mencondongkan tubuhnya ke arah Dan Heng, lalu menyelipkan seporsi rambut di bagian kiri wajahnya ke belakang telinga. Wajah Dan Heng memerah, sementara Stelle nyengir tanpa malu sama sekali, membuat March ternganga. Gadis itu melihat bagaimana sempurnanya cahaya matahari yang terbias dari jendela, jatuh menjadi garis tepi pada wujud dua orang itu. Semua suara teredam, kecuali kata-kata yang nyaring diserukan oleh tatapan mata mereka.
Ini… pemandangan yang keluar langsung dari komik shoujo atau gimana?
Singkat cerita, mereka menuju kantin. Di depan kantin yang cukup ramai, seorang gadis dari kelas sebelah terburu-buru menyalip mereka.
“Maaf, maaf, permisi…” gadis itu berlari-lari kecil menuju sebuah meja yang sudah diisi oleh dua temannya.
“Yo, Cassie! Baru aja kita omongin.” Phainon melambai.
“Jadi, gimanana?” Mydei pun langsung bertanya.
Castorice, yang baru saja kembali dari pertemuan dengan seorang editor buku, mendekap sebuah map sambil mengatur napasnya sejenak. Dia menatap kedua temannya yang tegang menunggui, lalu tersenyum lebar.
“Diterima!”
Mereka bersorak dan bertepuk tangan, menarik perhatian orang-orang, tapi mereka tidak peduli. Mereka harus merayakan Castorice yang akan menerbitkan novel pertamanya.
“Aku sudah janji buat traktir kamu, jadi bilang aja mau apa siang ini,” ucap Mydei.
“Aku juga, nggak?” Tanya Phainon, sedikit berharap.
“Kamu tiap hari juga udah minta traktir!”
Castorice tertawa kecil. “Makasih, Dei. Hmm… aku mau nasi campur ayam sama es teh!”
“Eh, pesen yang banyak dong, Cas. Mydei kan, banyak duit. Atau paling nggak, yang mahalan dikit,” ujar Phainon lagi.
“Heh, kurang ajar…”
Castorice tertawa lagi sambil menggeleng. “Nggak usah, ah. Aku cuman mau makan nasi.”
Akhirnya, kedua laki-laki itu beranjak untuk memesan makanan mereka. Saat di dekat sebuah rak yang memajang makanan ringan, Phainon tidak sengaja menyenggol salah satu bungkus makanan tersebut hingga jatuh. Dia menunduk untuk mengambilnya, di saat yang bersamaan seorang gadis juga melakukan hal yang sama, malah sekian detik lebih cepat dalam meraih bungkus itu. Mereka mengangkat wajah dan sempat beradu pandang sejenak.
Gadis berambut abu-abu itu kemudian tersenyum canggung sebelum kembali berdiri dengan makanan ringan tersebut. Phainon juga berdiri dan membuka mulut, ingin mengatakan sesuatu yang sudah ada di otaknya, tapi entah mengapa suaranya tidak keluar dengan baik.
“Ah, a- ekhem-“ dia cepat-cepat berdeham dan mencoba berbicara lagi, hanya untuk diinterupsi oleh Mydei.
“Kamu ngapain, ‘njir?”
Kemudian, seseorang berseru, “Stelle! Udah, belum?”
Gadis itu menoleh. “Iya, bentar!” Dan tanpa mempedulikan Phainon, dia membayar makanan ringan tersebut dan berlari kecil kepada kedua sahabatnya yang menunggu.
Phainon membeku di tempat. Mydei menatapnya, lalu ke arah perginya gadis itu, lalu kembali ke arah kawannya yang satu ini, lalu menghela napas sambil menahan tawa geli. Phainon memelototinya jengkel dengan wajah merah, tapi itu tidak cukup untuk mencegah Mydei berbagi cerita kepada Castorice saat mereka sudah kembali duduk.
“Phai naksir sama anak kelas sebelah,” adalah kalimat pembukanya.
“Oh ya? Siapa?” Castorice langsung tertarik.
“Kalo nggak salah, namanya Stelle, ya? Tuh, yang di sana.” Mydei menunjuk tiga anak yang sedang asyik mengobrol di meja mereka sendiri, kemudian dia menceritakan secara singkat aksi luar biasa yang dilakukan gadis itu tempo hari.
Castorice tertawa kecil. “Oh, aku sudah dengar tentang anak angkatan kita yang hampir berkelahi sama kakak tingkat. Ternyata dia, ya. Phai, kamu ada rencana apa buat dekatin dia?”
Phainon yang dari tadi menyembunyikan wajahnya hanya bergumam tidak jelas, lalu tiba-tiba meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menarik napas. “Yang pasti, aku harus kenalan dengan baik dan benar sama dia!”
“Ah, aku ada ide, Phai! Cari tahu dia ikut klub apa, terus nanti kenalan di sana!”
Mydei mengangguk. “Boleh tuh, mumpung masih banyak klub yang buka pendaftaran.”
“Tapi aku udah ikut Klub Debat,” sahut Phainon.
“Kan, bisa ikut dua klub, Phaio’on. Kamu coba ajak dia ke klub-mu kalau dia belum masuk klub apa-apa.”
Tak perlu waktu lama untuk Phainon mengetahui klub yang diikuti oleh Stelle. Sehari setelah obrolan mereka, gadis itu salah masuk ke ruangan Klub Debat, padahal dia sedang mencari Klub Pemburu Hantu. Phainon terkejut waktu tahu ada klub seperti itu di sekolah ini. Dia mengikuti saran Mydei untuk mengajak gadis itu masuk ke Klub Debat, jadi dia memutuskan untuk menunggui Stelle selepas kegiatan klub nanti, berharap paling tidak mereka berpapasan di parkiran atau gerbang sekolah. Sayang, dia tidak tahu bahwa kegiatan Klub Pemburu Hantu itu agak… mistis sekaligus konyol.
Stelle sendiri terkejut begitu memasuki ruangan klub-nya, selain karena lampunya yang berbentuk lentera tradisional bergaya timur menyala dengan terang benderang dan poster-poster di dinding yang lebih mirip seperti poster band musik atau film jadul, ketua klub-nya terlihat seperti hantu itu sendiri! Namanya Hanya, satu-satunya anak kelas 3 yang tersisa di klub karena insiden tahun lalu.
“Boneka yang selama ini kita jadikan maskot klub tiba-tiba hidup,” Hanya menunjuk sebuah boneka rubah di tengah mejanya. “Huohuo tidak sengaja memanggil ‘makhluk penjaga’ yang diyakini dalam keluarganya dan membuat hampir semua anggota klub saat itu ketakutan. Huohuo, tolong minta Mr. Tail untuk menyapa anggota baru kita.”
Huohuo adalah anak kelas 2 bertubuh mungil yang penakut, tapi dia terlihat akrab dengan ‘makhluk’ bernama Mr. Tail ini. Jadi, meskipun dengan kaki gemetar, dia menghampiri boneka rubah tersebut dan berkata, “Mr. Tail, bangunlah.”
Stelle bukan satu-satunya anggota baru di klub ini. Ada dua anak kelas 1 bernama Sushang dan Guinafen. Mereka bertiga yang awalnya bingung dengan kata-kata Hanya, dibuat tekejut lagi dengan boneka rubah itu yang tiba-tiba bergerak dan mengeluarkan suara tawa. Huohuo mencicit dan bersembunyi di belakang Hanya.
“Hei, Anak Bodoh! Kenapa kau malah sembunyi?! Untuk apa kau membangunkanku, hah?!” Boneka itu berseru dengan kasar.
“Mr. Tail, semoga kamu sudah tidak marah terhadapku yang… bisa dibilang menyegelmu di dalam boneka ini. Klub Pemburu Hantu kedatangan anggota baru, sapalah mereka jika kamu berkenan.” Ujar Hanya tenang.
Boneka itu, Mr. Tail, menatap Hanya, lalu ke arah tiga gadis yang terlihat penasaran sekaligus ketakutan. Ia berdeham seperti bapak-bapak paruh baya. “Kalian pikir aku ini apa sampai harus menyapa anggota baru untuk klub konyol ini…!”
“Memangnya apa?” Celetuk Stelle.
“Aku adalah Heliobus! Roh Penjaga terkuat sepanjang sejarah yang tidak tunduk pada siapapun, termasuk Bocah Penakut di sana dan keluarga besarnya! Kebetulan saja di masa lalu aku memiliki kontrak dengan kakek buyut-buyut-buyut-buyut-buyutnya yang membuatku sekarang menjadi penjaganya! Bahkan walinya juga, kalau memungkinkan.”
“Yakin itu bukan boneka yang punya semacam pengeras suara?” Gumam Guinaifen, sedikit curiga.
“Aku mendengarmu, Rambut Merah Kurang Ajar! Apa kalian butuh bukti? Baiklah, kita ke lapangan sekarang dan mengadakan ‘Ritual Penerimaan Anggota Baru’! Hei, Ketua Klub, kenapa diam saja di situ? Anak Bodoh, bantu bawa barang-barang yang diperlukan, cepat!”
Hanya terdiam cukup lama tadi, sebelum akhirnya tersenyum tipis dan membawa ketiga anggota baru klub-nya ke lapangan.
“Mr. Tail hanya senang karena Huohuo bakal dapat teman,” bisiknya. “’Ritual’ ini hanya perayaan kecil-kecilan kok, sekaligus ‘pembuktian’-nya Mr. Tail. Tidak perlu malu bakal dilihat orang, toh tidak banyak juga yang masih menetap di sekolah selain klub kita, Klub Debat, dan Klub Sastra.”
Dan Heng bergabung dengan Klub Sastra, makanya Stelle masuk satu di antara dua klub lainnya yang berkegiatan di hari ini, sementara March masuk Klub Fotografi yang berkegiatan di hari lain.
Klub Pemburu Hantu pun sudah berdiri di pinggir lapangan, membentuk setengah lingkaran menghadap bangku pendek tempat Mr. Tail berdiri. Ketiga anggota baru bertanya-tanya ‘pembuktian’ apa yang akan dilakukannya. Hanya menyalakan lilin aroma terapi, sementara Huohuo terlihat sibuk menggambar sesuatu dengan kuas di atas papan klip yang dipinjamkan Hanya.
“Anak Bodoh, bisa-bisanya baru membuat segelnya sekarang!” Hardik Mr. Tail.
Huohuo mengerutkan kening. “Kemarin Mr. Tail bilang satu saja, jadi sudah kubuat satu dengan ukuran standar! Tapi tadi tiba-tiba suruh aku bikin 3 dengan ukuran kertas HVS!”
“Harus ada sedikit yang spesial, dong! Ayo cepat selesaikan dan langsung kasih satu ke masing-masing mereka!”
Stelle, Sushang, dan Guinaifen saling pandang.
“Segel apa?” Sushang bertanya.
“Sebentar ini akan dijelaskan,” sahut Mr. Tail, lalu Huohuo pun memberikan sebuah kertas kepada masing-masing gadis itu. Rupanya isinya adalah gambar karikatur dari wajah mereka dan kaligrafi estetis dari nama mereka.
“Kalian harus membubuhkan tanda tangan di kertas itu sebagai tanda bahwa kalian bersedia, dengan kesadaran penuh, bergabung dengan klub ini!”
Hanya berdeham. “Kegiatan kita pada intinya adalah menyelidiki dan membuktikan cerita horror atau rumor-rumor tentang sekolah ini. Kadang juga mengadakan jurit malam, itu sebabnya jadwal kegiatan klub kita di hari Jum’at. ‘Segel’ di tangan kalian itu ibaratnya seperti ‘kontrak’… dan meskipun kita punya roh sungguhan di sini, aku akan menjamin kalau kalian bisa keluar dari klub dengan aman sesuai aturan sekolah. Tidak, ‘ritual’ ini bukan ritual penukaran jiwa atau semacamnya, jadi Pak Anaxagoras tidak terlibat dalam hal apapun. ‘Ritual’ ini murni ide Mr. Tail.”
Boneka rubah itu menoleh ke arah Hanya, sepertinya sedang memelototinya, tapi Hanya tetap memasang wajah datar dan berkata, “Jadi, apakah kalian bersedia bergabung dengan Klub Pemburu Hantu?”
“Kak, kenapa bagian atas kepalaku sangat besar?” Stelle bertanya kepada Huohuo tentang gambar di kertasnya, tidak terlalu memusingkan penjelasan Hanya.
“I, itu namanya karikatur. Kugambar sesuai impresi pertamaku kepadamu…” Huohuo menjawab dengan gugup, seolah dia sedang berhadapan dengan kritikus seni profesional.
“Wah, berarti kakak menganggap mataku besar dan bulu mataku lentik?” Guinaifen terlihat kagum dan tersenyum senang. “Hehe, terima kasih, kak! Apa aku boleh simpan gambar ini?”
Mr. Tail berdeham keras-keras, berusaha mengembalikkan topik pembicaraan mereka ke awal. “Dengarkan aku! Apa kalian sungguh-sungguh bersedia bergabung dengan Klub Pemburu Badut ini?! Itu artinya kalian harus meluangkan waktu setiap hari Jum’at sore, terkadang bahkan sampai Minggu, untuk kegiatan klub sialan ini!”
“Apakah memburu hantu termasuk berkelahi dengan mereka?” Tanya Stelle lagi.
“Ya, kurasa, kalau diperlukan, meskipun aku tidak menyarankan-“
“Maka aku bersedia!”
“Aku juga bersedia!” Sambung Sushang cepat-cepat.
“Kalau bisa dijadikan konten, aku bersedia!” Kata Guinaifen.
Ketiga gadis itu pun membubuhkan tanda tangan mereka di atas kertas masing-masing, lalu tiba-tiba kertas itu terbakar api biru yang tidak menyakiti mereka dan menghilang begitu saja.
“Selamat bergabung,” ucap Hanya. “Tenang saja, Guinaifen, kamu boleh menyimpan gambar itu setelah kita kembali ke ruang klub.”
Saat itulah Stelle baru menyadari kehadiran seseorang di teras dan melambai ke arahnya. “Eh, Dan Heng! Sudah pulang?”
Dan Heng hanya menghela napas, lalu melirik anak laki-laki di sebelahnya yang terhalang pilar dari pandangan Stelle. “Yah, kuharap kamu beruntung mengajaknya masuk Klub Debat, Phainon.”
Karena baru pertemuan pertama, kegiatan Klub Debat selesai lebih cepat sehingga Phainon berpikir rencananya akan berjalan lancar, tapi baru sekarang dia menyadari bahwa idenya untuk mendekati Stelle melalui kegiatan klub sudah gagal total sejak awal. Dia melihat gadis itu di lapangan dan terlihat menikmati entah apa yang sedang Klub Pemburu Hantu itu lakukan. Lalu, dia berpapasan dengan Dan Heng yang juga berencana untuk menunggui Stelle. Mereka berkenalan dan sempat mengobrol sedikit, terutama soal gadis berambut abu-abu berjiwa bebas itu. Tidak butuh waktu lama untuk Phainon menyadari bahwa Dan Heng, bisa dibilang, adalah saingan-nya.
***
