Actions

Work Header

Ingin Kubunuh Pacarmu

Summary:

Di tiap lonjakkan tubuhnya, Sunghoon berharap Jongseong merasakan nikmat yang sama. Sunghoon berharap ia bisa memberikan Jongseong lebih, lebih, lebih dari sekedar tubuh yang terlalu datar dan kulit yang terlalu kasar dan sensitif. Pikirannya berputar, mencari kemungkinan, berharap akan kemustahilan.

Apakah Jongseong akan merasakan hal yang sama?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Gak dramatis, gak buru-buru, Sunghoon membuka pintu di depannya dengan kunci serep yang dititip si pemilik padanya.

 

Seperti yang diduganya, Jongseong terbaring di kasur yang memojok di ujung ruangan yang sama sekali gak besar, cukup untuknya sendiri, cukup untuk Jongseong yang balik ke kosannya cuma buat sekedar tidur sebelum ke luar lagi–ngampus, nongkrong, ngedekem di perpus—pokoknya ke mana aja asal bukan di dalam ruangan kecil yang isinya cuma dia sendiri.

 

Makanya, Sunghoon hampir terlalu familiar di sini daripada rumahnya sendiri yang lebih nyaman, lebih luas, lebih gak sumpek dan lebih segar tanpa bau rokok dan kadang nyengatnya alkohol. Satu pesan singkat Jongseong “sini, nginep” dan Sunghoon akan mengendarai mobilnya meninggalkan rumahnya yang hangat untuk menginap di kosan Jongseong yang gerah, cuma ada satu baling-baling kipas berputar malas berusaha menyejukkan.

 

Kali ini, Jongseong tak mengirim pesan. Kali ini, Jongseong malah tak membalas pesan ataupun teleponnya sejak tadi pagi. Sunghoon memutar bola mata dan menyelipkan kembali ponselnya di saku, menganggap temannya itu bolos kelas karena macam-macam alasan; ngantuk lah, hangover lah atau malas. Sampai cueknya sirna saat Sunghoon mendengar mahasiswa yang gak ia kenal bergosip soal Jongseong—bukan hal aneh mengetahui reputasi Jongseong di kampus—yang buat ia berhenti menyuap makan siangnya.

 

Jongseong ribut lagi dengan pacarnya dan satu fakultas, satu kampusnya tahu karena…ya begitu lah ceweknya yang star syndrome dan mau semua orang tahu urusannya, termasuk buat satu kampus tahu betapa tergila-gilanya Jongseong—Si Park Jongseong—padanya.

 

Soto ayam yang dinikmatinya jadi hambar, makin anyep pas telinganya mau-gak mau dengar cerita dari meja sebelahnya yang kedengarannya makin seru; betapa hopeless-nya Jongseong, betapa kasihannya Jongseong dipermalukan di umum cuma karena minta waktu untuk bicara dengan pacarnya yang berkelakuan macam setan itu. Desah kesal keluar dari mulut Sunghoon–terlalu keras dan seketika empat cewek di sampingnya diam, baru sadar siapa Sunghoon bagi bahan utama obrolan mereka. 

 

Kembali di kosan Jongseong.

 

Sunghoon tahu Jongseong terjaga. Walaupun Jongseong bisa dengan gampang terlelap dengan celana jeans dan jaket baseball-nya yang gerah (setelan biasanya kalau ngampus) Sunghoon tahu Jongseong mendengarnya jelas saat mengumpat.

 

“Bisa jangan tolol gitu, gak?” Sunghoon juga tahu, kalimat-kalimat selanjutnya gak pantes dan terlalu pedes untuk Jongseong yang lagi patah hati, tetapi susah untuk menutup botol soda yang terbuka dengan isinya yang sudah dikocok. Kalau bisa, Sunghoon bisa ajak ribut pacar Jongseong untuk dijambak rambutnya untuk memastikan cewek itu punya otak, sekaligus cari tahu apa sih yang salah di matanya soal Jongseong? Apa aja bisa Sunghoon lakukan sekarang juga. Ia bisa angkat kepalan tangannya ke siapa aja, bahkan ke perempuan karena Jongseong, tetapi ia tidak melakukannya. Cewek Jongseong yang bahkan ogah ia sebut namanya itu masih utuh sekarang juga karena Jongseong—hal terakhir yang Sunghoon mau adalah Jongseong membencinya.

 

“Sekampus ngomongin lo lagi karena kejadian tadi pagi.” mulai Sunghoon.

 

“Bodo.”

 

“Gak bisa bodo amat lah,” Sunghoon melepas ranselnya dan membiarkannya berdebum keras di lantai karena buku-buku tebalnya. Ah. Ada makalah yang harus diselesaikannya hari ini. Ada buku-buku perpustakaan yang harus dikembalikannya sebelum sore. Semua rencananya buyar. Sunghoon buyar karena Jongseong. Ia malah mendudukkan diri di lantai kosan yang jaraknya 10 menit dari kampus, di samping kasur Jongseong yang cuma kasur aja, tanpa ranjang, “udah berapa kali lo diginiin? Oke deh kalo lo berdua ribut, bukan urusan gue- bukan urusan orang-orang tapi gara-gara cewek aneh lo itu jadinya semua orang tau. Lo dipermaluin! Lo kayak ngemis banget-”

 

“Emang.”

 

 “Hah?”

 

“Gue emang ngemis. Gue cuma mau ngomong tapi gue harus ngemis,” Jongseong menggeser sedikit wajahnya untuk menatap Sunghoon. Amarahnya melorot melihat keadaan wajah Jongseong, “kalo dipikir lagi dulu gue confess juga sambil ngemis.”

 

‘Gue harus ngemis-ngemis buat dicintai’ tak terucap oleh Jongseong tapi Sunghoon tahu. Selalu tahu. Apa yang gak Sunghoon tahu soal Jongseong? Yang gak paham apa-apa adalah Jongseong, yang bodoh adalah Jongseong, yang gak sadar kalau Sunghoon hampir berdiri tinggalkan kosannya untuk datangi parkiran kampus dan menyalakan api di mobil pacarnya setelah memastikan cewek itu terikat di kursi kemudi adalah Jongseong.

 

Jongseong juga mana tahu kalau dia tak perlu mengemis pada Sunghoon? Jongseong bisa duduk berleha-leha dan menjadi dirinya sendiri dan Sunghoon bisa mengasihinya besar-besar sampai tubuhnya meledak karena tak mampu menampung kasihnya dan Sunghoon juga yang akan memungut dan menyatukan puing-puing sisanya di lantai dengan sabar sampai Jongseong utuh kembali.

 

Mata yang dilihat Sunghoon hanya sekelebat begitu merah, tanda air mata yang enggan terbit dan jatuh—Jongseong si keras kepala. Jongseong terbaring sendiri di kosannya, di pojok kamarnya jauh dari dunia tetapi tetap saja ia ogah kelihatan lemah.

 

Pundak Sunghoon turun, amarahnya ditiban perih karena Jongseong begitu terluka, begitu menyedihkan dan ini hanya karena pacarnya.

 

Pacarnya, pacarnya, pacarnya yang bukan Sunghoon.

 

“Gak, Jongseong,” gumam Sunghoon setelah membaringkan diri di sebelah Jongseong yang sudah kembali menatap dinding kamarnya. Sempit. Dua laki-laki bongsor menempati kasur Jongseong memang gak ideal, tetapi Sunghoon selalu berhasil membuat dirinya muat. Bedanya, di hari-hari nginep biasanya ia yang terhimpit dinding dan tubuh Jongseong. Kali ini ia memaksakan diri di pinggir, berusaha tak tergeser jatuh ke lantai dengan menerobos ruang Jongseong, menyandarkan kepalanya ke punggung temannya yang tengkurap, “gak gitu, lo gak harus ngemis—perasaan lo… perasaan lo cuma nyampe ke orang yang salah.”

 

“Lo tau itu, lo tau hubungan lo gak sehat, hubungan lo timpang sebelah,” lanjutnya dengan suara lebih kecil. Timpang sebelah? Sunghoon harap suaranya tak bergetar di bagian itu, “dan itu bukan salah lo. Perasaan gak bisa diatur segampang itu.” dahinya mengerut. Siapa sih yang sedang ditenangi olehnya? Jongseong di depannya atau Sunghoon menenangi Sunghoon sendiri yang di hari buruknya meringkuk di kamarnya dan menyalahi dirinya, mengasihani dirinya sendiri—‘kenapa harus Jongseong?’

 

Jongseong akhirnya menatapnya, menggeser tubuhnya untuk menghadap Sunghoon dan menarik Sunghoon mendekat saat menyadari Sunghoon terlalu dekat dengan tepi kasurnya.

 

Sunghoon tak punya waktu dengan hatinya yang meloncat-loncat saat pinggangnya direngkuh sekilas oleh Jongseong karena wajah temannya itu, teman yang dikasihinya itu, terlihat lebih jelas, terlihat lebih buruk dari beberapa menit lalu.

 

Tak tahan, Sunghoon mengusap kantung mata Jongseong yang bengkak, yang seakan menampung sungai air mata yang masih keras kepala tak mau menunjukkan diri.

 

“Putusin aja orangnya, cukup. Cukup. Lo capek, Jongseong.

 

Sunghoon menangkap satu titik air mata Jongseong dengan jarinya, sebelum Jongseong memalu dari sentuhannya dan menundukkan tubuhnya, sembunyikan diri di ceruk leher Sunghoon.

 

Pelukan Sunghoon sudah siap untuk dihampiri dan Jongseong langsung menyamankan diri. Sunghoon yang menancapkan diri kuat-kuat di tanah dan Jongseong yang berpegangan padanya—erat, buat mereka melebur jadi satu, bagai puzzle yang tak terelakkan mengisi tiap pojok bagiannya. Jongseong yang menangis dalam diam dan Sunghoon dengan usapan tangannya bagai sedatif di punggungnya. Sunghoon yang juga menangis dalam diam dan kedua lengan Jongseong bagai adiktif di pinggangnya—Sunghoon tak mempermasalahkannya karena yang datang selanjutnya sudah diduganya, sudah dinantinya—amat dinantinya.

 

Sunghoon menghapalnya bagai paragraf novel favoritnya, yang digumamkan di malam hari, yang dibaca lagi dan lagi dengan lagu jatuh cinta paling menyedihkan sedunia berdurasi dua tahun berdenging di telinganya; satu kecupan di pangkal leher terasa, disusul dengan bisikan permohonan, “Hoon…”

 

“Oke,” kini gilirannya mengutarakan dialognya—begitu bunyinya tanpa ralat, seperti biasa, “oke, Jongseong.”

 

Jongseong menggeser tubuhnya, meninggi, menumpu diri dengan kedua tangannya. Kini Sunghoon bisa melihat Jongseong melayang tepat di atas wajahnya, tetapi Sunghoon tak bisa melihat wajahnya—rumpun gelap dari kepala Jongseong terlalu panjang dan menghalangi mata Jongseong untuk muncul, tetapi Sunghoon dapat merasakan lamat-lamat kecup sampai cium bibir Jongseong di bibirnya.

 

Kecupan Jongseong turun, berhenti menggigit di bagian rahangnya—menuai geram kaget dari Sunghoon—dan kembali melanjutkan perjalanannya.

 

Di kosan yang sepi di siang bolong, hembus nafas keduanya keras di telinga, berpadu dengan kipas yang masih berusaha menyejukkan udara yang makin panas. Kancing dipreteli dan kemeja Sunghoon berhasil disibak, 

 

Sunghoon mendesah nikmat, menyisir halus rambut Jongseong yang tak sadar dicengkramnya saat puting dadanya tersenggol gigi taring Jongseong yang tumpul. Jongseong menghabiskan waktu lama di sana seperti biasa dan seperti biasa Sunghoon akan merespon lebih keras, lebih dari sekedar hentakan nafas yang tak berhasil diaturnya.

 

Mata yang awam akan melihat Jongseong mencari tempat lain untuk singgah, mengobati dirinya sendiri di atas tubuh Sunghoon, menjadikan temannya sebagai pelarian—Jongseong egois yang memikirkan perihnya sendiri dengan menjadikan Sunghoon sebagai tumbalnya, tetapi bukan itu yang sedang terjadi; Jongseong mencari tempat di mana ia dibutuhkan dan ia tahu bahwa ia bisa menjadi berguna untuk Sunghoon.

 

Jongseong yang terbiasa mengasihi dan menempatkan dirinya di tanah, bersimpuh, menjadi budak di istana yang dibangunnya tidak mencari nikmat untuk dirinya sendiri. Pemuda yang lebih tua melakukannya untuk pasangan di kasurnya, untuk Sunghoon, untuk membuktikan dirinya bahwa ia layak, bahwa Jongseong mampu memberikan kepuasan untuk pasangan di kasurnya, untuk Sunghoon.

 

Dengan mulut terbuka dan mata yang memejam, Sunghoon menerimanya. Sunghoon melebarkan kakinya, mengalungkan dua lengannya di leher Jongseong, menggaruk kulit kepala Jongseong demi menyemangatinya, teriakan bisu bahwa Jongseong melakukan semuanya dengan baik—bahwa Jongseong hebat, bahwa Jongseong tepat dengan tiap hisap dan gores di tubuhnya.

 

Di tiap lonjakkan tubuhnya, Sunghoon berharap Jongseong merasakan nikmat yang sama. Sunghoon berharap ia bisa memberikan Jongseong lebih, lebih, lebih dari sekedar tubuh yang terlalu datar dan kulit yang terlalu kasar dan sensitif. Pikirannya berputar, mencari kemungkinan, berharap akan kemustahilan:

 

Apakah Sunghoon harus mencukur bulu di seluruh tubuhnya sampai licin agar Jongseong merasakan hal yang sama? Apakah Sunghoon harus berpuasa sepanjang tahun dan membuat tubuhnya kecil agar Jongseong merasakan hal yang sama? Apakah Sunghoon harus memanjangkan rambutnya dan menuang sebotol kondisioner agar Jongseong merasakan hal yang sama? Apakah Sunghoon harus membuat matanya besar dengan lensa kontak dan memoles lipstik merah agar Jongseong merasakan hal yang sama?

 

Apakah Jongseong akan merasakan hal yang sama?

 

“Sakit?” bisik Jongseong saat penisnya merangsek masuk, “Hoon? Sunghoon?”

 

“Eng- enggak- enggak sakit,” dua jempol mengusap bawah matanya kemudian turun ke pipinya, terlalu halus untuk hiruk pikuk di kepala Sunghoon. Oh. Sunghoon tak menyadari bahwa ia menangis. Pantas saja pandangannya buram. Pantas isi kepalanya terasa dikorek keluar dan dicemplungkan ke samudera yang gelap.

 

Isak tangis dari mulutnya selanjutnya mungkin terlalu tinggi, mungkin terlalu rendah dan terlalu laki-laki maka Jongseong mengecup bibirnya berkali-kali untuk membungkamnya. Jongseong mungkin membencinya saat menangis. Sunghoon harus berhenti menangis. Sunghoon berusaha mengembalikan hujaman kecup dari lelaki di atasnya. Asin. Ini air matanya? Bukan. Air matanya sudah habis di pipinya—asin di bibirnya bukan air dari matanya.

 

“M-maaf, a- takutnya Ibu Asih denger- maaf, maaf, jangan nangis, Hoon…”

 

Bukan. Bukan. Bukan karena suara tangisnya yang terlalu rendah. Jongseong tak membencinya. Jongseong tak membencinya saat menangis.

 

Tangisan Sunghoon menjadi-jadi.

 

“Maaf, Sunghoon… Hoon, udahan ya?”

 

Sunghoon menggeleng, sol kakinya menghentikan Jongseong yang hendak menjauh, mencabut dirinya dari tubuhnya. Gak boleh! Gak boleh! Ini satu-satunya cara agar Jongseong sedekat ini dengannya!

 

“Sunghoon-”

 

“I want you, please,” lirih Sunghoon, “please, Jongseong.”

 

Jongseong terdiam. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang, memperlihatkan manik mata coklatnya yang kelam, yang panik mencari-cari entah apa di wajah Sunghoon. Dipandangi begitu buat Sunghoon resah, khawatir perasaannya yang disembunyikan jauh di dalam hatinya terkuak hanya dari matanya yang merah dan basah. Walaupun suara di kepalanya berteriak untuk berpaling, untuk bersembunyi lebih jauh, Sunghoon enggan berpaling, enggan membuang kesempatan untuk melihat Jongseong dekat-dekat seperti ini.

 

“Are you sure?” tanya Jongseong pelan, begitu lirih dan ringkih seakan ia sendiri yang akan pecah belah dan bukannya Sunghoon yang sudah ada di ujung ketinggian.

 

Sunghoon yakin. Atas tubuhnya yang merindu Jongseong, atas perasaannya yang menginginkan Jongseong.

 

Maka anggukan kepalanya keras, tangan di leher Jongseong erat-erat. Hatinya dipegang erat-erat untuk tak melambung lebih jauh lagi untuk Jongseong—

 

—dan Sunghoon merasakan hal yang tak biasa; Jongseong di dalam tubuhnya terasa benar-benar keras. Jongseong dan genggaman tangannya pada pinggangnya kuat dengan kuku yang menancap dalam seakan menggores kepemilikannya, keposesifannya dan, dan Jongseong yang mendengungkan namanya tepat di telinganya sebelum menyemburkan resah dan gairahnya begitu dalam di tubuhnya.

 

Ditambah Jongseong yang lagi-lagi meraup dalam bibirnya, semuanya cukup untuk membawa Sunghoon ke ujung kenikmatannya, membuat tubuhnya menggelinjang dan akhirnya meloloskan cairan orgasmenya tanpa Jongseong harus memancingnya langsung dari tengah kakinya.

 

Bersamaan dengan nafas memburu yang dibagi Jongseong dengan ciumannya, Sunghoon dapat merasakan cengkramannya pada hatinya melemah; talinya lolos dari telapak tangannya, dibiarkannya hatinya—perasaannya untuk Jongseong—melambung setinggi-tingginya dibawa angin.



-

 

5 missed calls

8 messages received

 

Eun Yoo

Kenapa gak diangkat? kamu di mana?

Pulang ke kosan?

Istg jongseong kita masih berantem dan kamu pulang gitu aja? kabur?

Angkat teleponnya.

Habis dari gedung kamu dan sunghoon juga gak ada. kamu sama sunghoon lagi kan?

You are just making this worse

Aku udah bilang aku gak suka kamu deket-deket dia

Aku otw kosan kamu

 

 

Notes:

@ ciumhani on twitter!