Actions

Work Header

Meluntur

Summary:

Satu jam yang lalu, Jiung sedang mencium Intak di toilet belakang panggung.

Lima belas menit yang lalu, Jiung tampil dengan kondisi tegangnya belum sepenuhnya turun.

Sekarang dia kembali ke toilet itu, dihimpit Keeho dan Intak lagi.

Notes:

Inspired by these tweets.

Twt gw.

Not beta read, kalo ada salah komeng ajah.

I heart Polywon

Work Text:

Satu jam yang lalu, Jiung sedang mencium Intak di toilet belakang panggung.

Tata riasnya udah rapi, dan baju panggung mereka pun udah dipakai. Sebentar aja, begitu kata mereka berdua. Hanya ada satu bilik laki-laki di bagian gedung yang ini, makanya mereka pergi bersama. Awalnya memang sama-sama kebelet, tapi Jiung mana bisa mikir lagi pas Intak tiba-tiba mengelus dagu dan bibirnya habis cuci tangan?

Yang dia pikirkan jadinya cuma cara Intak melumat bibirnya dan menjilat rongga mulutnya sambil memegang pinggangnya. Jiung mengalungkan lengannya yang dilapisi jaket berbulu itu ke leher Intak, membalas dengan kecupan dan jilatan manis yang buat Intak tersenyum di ciumannya. Biar lakukan apa saja, yang penting sebagian besar tata rias mereka tahan air. Sesapan dan desahan mereka bergema di bilik yang nggak sempit itu, yang mungkin harusnya membuat mereka lebih malu, tapi keburu fokus bercumbu.

Itu sebelum tiba-tiba pintunya terbuka dan saking kagetnya Intak langsung terpeleset ke belakang dan jatuh terduduk di kloset yang tertutup. Jiung yang nggak sengaja tertarik tiba-tiba lututnya sudah sampai lantai dan mukanya mendarat di paha Intak.

Keeho, pelaku insiden ini, mendengus. “Minimal kalau mau pake acara make out tuh dikunci, bego.”

“Mana sempet, kocak. Acaranya dadakan.” Intak masih punya muka buat membalas rupanya.

Jiung masih mengaduh, bangkit dari jatuhnya dan melipat tangannya buat ditumpukan di wastafel. Mukanya disandarkan pada lengannya, malas melihat Keeho. Dia dengar bunyi pintu dikunci sebelum merasakan pantatnya ditepuk.

“‘Paan sih!?”

Keeho bersedekap, menggeleng dramatis. Ditatapnya celana Jiung yang ngepas, dan karena sifat bahannya, menonjolkan tiap lekukan. “These bottoms hide nothing ya.”

“Orang tadi berdua udah berusaha ngumpet kok.” Intak mengangkat bahu.

Jiung ikut menimpali, “I switch sometimes.”

“Ge’er, anjinggg.”

Jiung bangkit buat mendaratkan pandangannya ke dua laki-laki lain di ruangan itu. Pintunya telah dikunci sekarang, yang artinya mereka nggak akan meninggalkan ruangan dalam waktu dekat. Keeho datang ke situ bukan untuk menarik mereka keluar. Jiung bisa menebak alasan yang akan keluar dari mulut dia, seperti, “Masih lumayan kok waktu kita,” atau, “I gotta watch so you don't do something stupid.” Leader konyol.

Ternyata Intak yang masih duduk itu mewakili rasa penasarannya. “Terus Kakak sih ngapain di sini?”

Keeho menyender di pintu, posturnya santai dan nggak terburu, seakan dia mau jadi penonton atas apapun yang nanti terjadi di sini.

“Mastiin kalian nggak nyepong,” jawabnya santai. Diam sejenak. “Or making sure you come on time. We only have like thirty minutes.”

Jiung mendengus. “Ada niat terselubung, tuh.”

Manyun, Intak membantah Keeho. “Enggak sampe situ, kok.”

Belum sampe situ,” koreksi Keeho.

Intak melanjutkan, “Cuma tadi Kak Ji cantik banget …,” dia berhenti sejenak, merona, agaknya terlambat merasa kalau perkataannya memalukan. “... makanya nggak tahan nyium.”

Malu Jiung dibuatnya. Mukanya bahkan lebih merah dari Intak. Menyender biar posturnya lebih santai, dia berdeham. “Tadi awalnya emang beneran mau kencing, kok.”

“Malu, tuh.” Keeho berjalan mendekati mereka.

Shut up.” Hanya itu yang sempat Jiung bilang sebelum bibirnya bertemu milik Keeho, merasakan cumbuan yang nggak kalah menggoda dari yang sebelumnya. Tangan Keeho bertengger di panggulnya, ikut meremas dan meraba. Bibirnya digigit pelan, buat dia mendesis sebelum dikecup tanda maaf oleh yang lebih tua.

Singkat, tapi nikmat. “Bener kok, cantik.”

Kemudian Keeho berhenti di depan Intak, menunduk dan menangkup wajahnya sebelum melakukan hal yang sama. Intak, manja, sampai mendongak dan memegang tengkuk Keeho demi mendalami ciumannya. Keeho terkekeh saat melepasnya. “Kamu juga, ganteng.”

Tiba-tiba ada perasaan di dalam Jiung yang ingin merengek. Antara kompetitif, cemburu, atau mau diperhatikan saja—haus validasi. Kalau Intak bisa, Jiung juga bisa.

Helaan napas Keeho terdengar kencang di ruang kecil itu. “Jujur, the outfits didn't really match my vision.” Menatap dua orang di depannya, dia melanjutkan, “But you guys still look so damn good.”

Muka Jiung merona saat protes, “Aku juga mau jadi ganteng.”

Keeho paham seperti biasa, meraih salah satu tangannya dan mencium punggungnya. “You are, kok.”

“Kakak ganteng yang cantik,” Jiung menoleh ke Intak yang lagi menatapnya dengan puppy eyes andalannya itu. “Sini lagi dong.”

Jiung menghela napas, sebenarnya buat menenangkan diri sendiri. Dua orang ini juga tampak mengerti. Setelah merasa siap, dia duduk di pangkuan Intak menghadapnya. Lengan Intak dengan siap memeluk pinggangnya biar dia nggak jatuh, tapi namanya Intak, ya memang suka menyentuh saja. Kebetulan, Keeho juga sama—Jiung merasakan belaian di rambut dan rahangnya. Jiung sudah membiasakan dirinya akan sentuhan mereka yang kadang kebanyakan itu.

Keeho bertanya lembut di telinganya sambil mengelus jaketnya. “Nggak gerah?”

“Males.” Itu saja balasan Jiung sebelum kembali mencumbu Intak. Sama seperti sebelumnya, pemangkunya sangat antusias, nggak cuma menjelajahi mulutnya tapi juga tubuhnya. Tangannya yang masuk ke balik jaket tebal itu main kemana-mana di belakang tubuhnya, menyentuh dan menggaruk sembarangan buat Jiung melenguh ke dalam ciumannya.

Seakan itu belum cukup untuk dirinya yang sensitif, Jiung merasakan kecupan di belakang telinganya yang menjalar ke tengkuknya. Sepasang tangan tambahan meraba tubuh bagian depannya, meremas dadanya. Jiung melepas pagutan Intak—yang langsung ganti memapari kecupan di rahangnya—untuk melenguh, “Nnhhh, jangan … nanti kusut—nanti keliatan ….”

Kini mulut Keeho yang bertemu dengan mulutnya, belum melepaskan sentuhannya di dada Jiung. Tak berlangsung lama, Jiung yang sudah kehilangan napas mengesah terkejut saat Intak menggigit di samping lehernya.

“Anjing—Kyo, Taki, udah … please … takut keliatan—nnn-hh, stop ….”

Suara ketukan datang dari pintu toilet. Mereka bertiga langsung membeku, takut untuk bergerak. Takut ketahuan, sampai suara di baliknya memanggil sambil mengetuk lagi, tergesa, “Ji? Taki?”

Keeho bangkit dari posisi membungkuknya yang canggung, berdeham sambil berjalan menuju pintu. “Hadir, bentar.”

Saat pintunya terbuka, terlihat Taeyang dengan ekspresi mukanya yang sinis. Dia menatap Keeho, “Yang gua cari Jiung sama Intak, kok ada elu?” lalu menciumnya. Keeho terkekeh, menangkup wajah Taeyang sebelum yang lebih tua melepas tautan bibir mereka untuk mengarahkan pandangan pada Jiung dan Intak yang masih saling pangku di atas kloset.

“Kenapa harus pake kamar mandi yang paling jauh sih?” tanyanya.

Intak mewakili Jiung yang masih terengah. “Yang lain penuh, rame. Yang ini doang yang kosong.”

“Biar nggak ketahuan.” Keeho menceletuk.

Jiung menunjukkan jari tengah padanya. “Bacot, anjing. Terus kok tadi bisa ketemu cepet banget?”

Keeho nyengir. “Insting.”

“Mesum.” Jiung akhirnya berdiri, diikuti Intak.

“Udah ege, udah dipanggil manajer.” Taeyang menatap ketiganya sengit, mencibir, “Bajingan kalian. Udah bikin orang panik, nggak ngajak lagi.”

“Kakak tadi katanya mau tidur!” protes Intak.

Taeyang melangkah ke arah Intak dan Jiung, mencubit pipi keduanya sejenak, membuat mereka mengaduh. Sebelum keluar toilet, dia menunjuk bagian bawah Jiung. “Yang ini jangan diliatin banget lah men.”

Jiung menunduk. Di bagian depan celananya sudah ada yang menyembul. Sialan, dia beneran nggak sadar.

Keeho berdecak sambil mengekori Taeyang. “See? It does hide nothing.”

“Ini semua kerjaan kamu!”

“Kocaaak.” Intak yang terakhir keluar pun menutup pintu tempat kejadian.

Lima belas menit yang lalu, Jiung tampil dengan kondisi tegangnya belum sepenuhnya turun. Sudah dia coba balik ke toilet sialan itu untuk membasuh, tapi waktunya nggak lama. Dia cuma bisa berharap nggak ada yang memperhatikan hal itu selama di panggung dan ruangan umum belakang panggung. Tubuh sensitif sialan. Dia sudah nggak bisa malu dan cuma bisa berbekal tekad.

Sekarang dia kembali ke toilet itu, dihimpit Keeho dan Intak lagi.

“Cantik.” Tangan Keeho sudah masuk ke celananya, meraba tegangnya dari luar celana dalam. Mulutnya menciumi rahang sampai daun telinga Jiung dari belakang, dengan Jiung yang makin lama makin melengkungkan tubuhnya ke belakang. Sebab Intak di depannya juga mulai meremas bokongnya sambil menjilati lehernya, kadang menyesap tapi berhati-hati biar nggak menggigit. Jiung pikir itu jorok, dengan dirinya yang gampang berkeringat. Tapi Intak, seperti anjing, mau menjilat apapun yang enak.

Keeho mulai masuk ke celana dalamnya, menyentuh Jiung tanpa halangan dan mengocoknya. Jiung melenguh kencang, memegangi pundak Intak sebagai jangkar biar nggak jatuh saat kakinya sudah selemas ini. Ciuman Intak pun naik ke bibir Jiung, meredam desahannya. Keeho berbisik di telinganya lagi, “Gimana ya pikiran orang-orang liat idol ganteng malah ngaceng di panggung?”

Jiung bukan kayak Intak yang langsung nafsu ketika dipermalukan. Dia justru khawatir setengah mati tadi. Namun nggak bisa dicegah, wajahnya langsung hangat merona. Melepas ciumannya, dia mengutarkan, “Bacot … ah, ah—udah, masih ada awarding ….”

“Udah? Mau ditinggal gini aja?” Keeho menekan kepala penisnya, membuat Jiung menegang sepenuhnya, melenguh kencang. “Yakin?”

Nghh—ah!”

“Kakak, shhh!” Intak menciumnya lagi, dan lagi, dan lagi. Jiung pusing, diberikan stimulasi sebadan-badannya. Terlalu banyak, enak, ingin lagi—semua bercampur jadi satu.

Keringat mulai kembali membasahi Jiung. Menengok ke arah Keeho, dia merengek, “Gerah ….”

“Mmh. Eyeshadow kamu nggak waterproof, ya?” Keeho dengan tangan bebasnya menolehkan Jiung untuk melihat tata rias matanya makin berantakan. Kacau, Jiung kacau. Kalau gini sih semua orang bakal tahu. Tapi ngapain memikirkan itu sekarang? Menoleh kembali, ganti bibir Keeho yang mencumbu miliknya. Tangan yang tadi ganti mengelus rambut lepek Jiung. Dijilatnya rongga mulut Jiung menyeluruh, seakan menelan desahan-desahannya. Saat berpisah, dia tersenyum tipis dan menoleh pada Intak.

Intak, dengan bibir masih menempel pada leher Jiung menatap balik Keeho dengan mata polos. Keeho menarik tengkuknya lalu menciumnya, sama dalamnya seperti dia mencium Jiung. Entah ini hanya perasaan Jiung atau efek melihat mereka berdua, tapi dirinya seakan tambah gerah.

Keeho menyingkap jaket bulu dari bahu Jiung untuk memberikannya ruang bernapas. Namun jaket itu nggak sepenuhnya dilepas, melainkan ditahan di pergelangan tangannya yang Keeho genggam keduanya di belakang dirinya.

Akhirnya Keeho melepaskan bibir Intak. “Taki, turun.”

Intak bengong sebentar sebelum akhirnya berlutut di depan Jiung. Dalam posisi begini, dada Jiung membusung dengan punggung makin melengkung. Keeho mengeluarkan batang milik Jiung dengan tangan satunya dari segala fabrik yang membungkusnya, sudah merona dan menetes banyak. Dikocoknya sesaat sebelum menampar-namparkannya ke pipi Intak. Ketiga laki-laki itu sama-sama melenguh kala menyaksikan adegan pornografis itu. Saat Intak memasukkan benda itu ke mulutnya, dia menggeram lemah yang menghasilkan getaran, sukses membuat Jiung ikut lemas.

“Uh-uh-uh,” keluar dari mulut Jiung secara konstan saat Intak makan dia dengan antusias. Dia nggak pernah punya refleksi gumoh di kerongkongannya yang biasa dipunya orang lain, membuat Jiung rasanya keluar masuk rongga licin hangat itu tanpa hambatan. Intak seperti semangat ingin mengonsumsi Jiung.

Menggeliat, Jiung kembali merengek. “Kyo, tangannya … mmh, Taki—Taki ….”

Keeho mengeratkan pegangannya. “Jangan dijambak, kasian dia belum selca.”

Mereka bakal tertawa kalau bukan karena lenguhan Jiung yang makin lama suaranya makin kecil dan tinggi. Keeho menciumnya untuk meredam suaranya. Lengkung tubuhnya bagai busur yang ditarik kencang oleh Keeho dan Intak, siap untuk meluncurkan anak panahnya kapan saja. Jiung sudah sangat ingin keluar.

Puppy, can you swallow?” Keeho bertanya di sela-sela ciuman.

Yang merasa terpanggil mendongak, dengan mata berair dan penis Jiung keluar masuk mulutnya. Intak walau kelihatan berantakan tetap nggak memutus kontak mata dengan Jiung dan Keeho. Dia berhenti sejenak, mengangguk dengan lidahnya yang masih bermain di ujung tegangnya Jiung. Yang dijilat mengerang kencang, nggak tahan lagi.

Good boy.” Keeho meraih rambut Intak dan memajukan kepalanya sampai mentok ke selangkangan Jiung. Penis Jiung pun mentok di kerongkongannya, dan Jiung seketika bucat. Erangan panjang Jiung mungkin kedengaran sampai lorong, tapi nggak mereka pikirkan. Keburu sibuk menikmati perpanjangan momen.

Setelah beberapa momen dan hanya napas tersengal mereka yang terdengar, Intak melepaskan batang Jiung dari mulutnya. Jiung mendesis karena sensitif, lalu mengerang bersama Keeho ketika Intak menjulurkan lidahnya menunjukkan sisa-sisa putih.

Fuck, that's hot.” Keeho akhirnya melepaskan tangan Jiung yang langsung melepas jaketnya untuk ditaruh di atas wastafel. Masa bodoh dengan segmen penghargaan nanti dan mascaranya yang luntur. Jiung duduk di atas kloset tertutup dengan kaki gemetar hebat. Keeho melanjutkan, “Padahal aslinya biar nggak ngotorin lantai.”

“Alasan, anjing.” Jiung membalas dengan pedas. “Kamu mah emang mesum aja! Fantasi liar kamu ‘kan ini?”

Keeho menggeleng dramatis. “Bukan fantasi, ‘kan kenyataan.” Dia duduki pangkuan Jiung, kembali menciumnya di seluruh bagian wajah sebelum akhirnya kembali ke ranumnya yang paling manis. “Tapi enak ‘kan?”

Jiung nggak mau jawab. Dia hanya balas ciuman Keeho dengan antusias yang sama, sementara Intak memeluk Keeho dari belakang, mengusal di rambutnya.

Keeho melepas ciumannya tiba-tiba dan mendongak ke arah Intak. “Eh iya, itu kalo belum ditelan bisa lho selca melet biar kelihatan.”

Intak berdecak. “Mesum kocak.”

“Bacot!” Jiung menimpali.

Bonus

Taeyang berdecak sebal. “Udah nyepongnya?”

Jiung langsung memerah. Keeho tertawa kencang. Intak manyun, “Jangan kenceng-kenceng dong Kak ….”

“Yang tadi nongol udah layu, sekarang tumbuh dua.”

Intak berdecak sambil melambaikan tangannya. “Gampang, itu mah di apart aja.”

“Masih ada awarding ya, bego.” Jiung menjitak kepalanya.

Taeyang menepuk tangan Jiung. “Sadar diri. Kamu ngomong kayak gitu tapi penampilannya macam habis lawan setan.”

“Ini nih setan-setannya, anjing!”

Keeho menceletuk. “Ada yang bisa tebak kita bakal dapat berapa?”

Taeyang menunjuk Jiung. “Dia dapat dua. Dua laki.”

I mean the awards but sure.”

“Kakak mau juga?” Intak bertanya antusias.

Keeho memeluk pinggang Taeyang dan mencium pipinya. “Cemburu bilang, Ntik. Besok kamu bisa dapat tiga.”

“Najis.” Taeyang mendecih. “Beneran nggak? Ntar wacana lagi soalnya rak baju kalian berdua roboh lagi.” Dia menunjuk Keeho dan Intak.

Jiung, merona, kembali protes dengan suara kecil. “Hey, aku ‘kan ada.”

Taeyang menghela napas. Dia peluk Jiung dengan lembut dan cium pipinya. “I know, sayang. Makasih.”

Intak ikut mengalungkan tangannya untuk merangkul tiga orang itu. “Oke, group hug!”