Chapter Text
Pukul tujuh malam, ruang makan kediaman keluarga Shen selalu dipenuhi oleh aroma yang kompleks namun menenangkan. Di antara uap hangat hidangan malam, feromon bunga iris milik Shen Wenlang menguar tipis—bukan untuk mendominasi, melainkan sebagai perisai tak kasat mata yang memastikan tidak ada satu pun ancaman yang bisa mendekati keluarganya.
Wenlang, di usianya yang menginjak 48 tahun, masih mempertahankan postur tegap seorang CEO HS Group. Namun, tatapan mata tajam itu melunak seketika saat ia melirik ke ujung meja, tempat Gao Tu duduk sambil menyiapkan piring untuk si bungsu.
Gao Tu tetap setia mendampingi Wenlang baik di rumah maupun sebagai sekretaris pribadi di kantor, memancarkan feromon sage yang lembut. Aroma herbal yang menenangkan itu adalah jangkar bagi Wenlang. Setiap kali aroma sage itu berpadu dengan iris miliknya, napas Wenlang yang terkadang sesak oleh kenangan buruk masa lalu perlahan kembali teratur.
Dua puluh tahun lalu, sebelum ikatan mereka terpatri utuh, Wenlang pernah menjadi monster bagi matenya sendiri. Luka, pengabaian, dan rasa sakit yang ia torehkan selama sepuluh tahun sebelum kelahiran Lele adalah mimpi buruk yang terus menghantui nuraninya. Karena dosa masa lalu itulah, hingga detik ini, Wenlang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk memuja dan melindungi Gao Tu. Tidak boleh ada satu goresan pun, baik fisik maupun emosional, yang melukai omega kesayangannya itu lagi.
Dan perlindungan itu berlipat ganda ketika menyangkut ketiga anak mereka. Ketiga-tiganya adalah omega. Sebuah anugerah, sekaligus sumber kecemasan konstan bagi seorang Alpha dominan seperti Wenlang.
"Ayah, jangan menatapku seperti itu. Aku hanya merapikan buku untuk sekolah besok, bukan mau kabur dari rumah," protes Shen Lele sambil mendengkus pelan. Pemuda berusia 18 tahun itu, putra sulung mereka yang memancarkan feromon vanila manis, menatap ayahnya dengan sebal.
"Bukan begitu, Lele," jawab Wenlang dengan suara baritonnya yang berat, nada protektifnya langsung keluar. "Ayah hanya khawatir, di luar sana banyak Alpha hidung belang. Apalagi sekarang musim semi, kestabilan feromonmu harus dijaga. Jangan terlalu dekat dengan orang asing."
Gao Tu yang duduk di sebelah Wenlang hanya bisa tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala. Ia tahu betul, suaminya ini sedang dilanda kecemasan tersendiri karena Lele sudah mulai beranjak dewasa dan... menarik perhatian pihak yang salah, atau lebih tepatnya, pihak yang paling diwaspadai Wenlang.
"Sudahlah, Wenlang. Jangan membuat anak-anak tertekan," tegur Gao Tu lembut, tangannya terulur menyentuh lengan suaminya. Seketika, feromon sage Gao Tu meresap, membuat rahang kaku Wenlang mengendur. "Lele anak yang baik, dia tahu cara menjaga diri."
Di sisi lain ruangan, si anak kedua, Shen Jiayi yang berusia 13 tahun dengan feromon lavender yang menenangkan, sibuk menyikut saudaranya yang paling kecil. Shen Yuhan, si bungsu berumur 10 tahun yang baru bermanifestasi sebagai omega dan memiliki feromon bunga persik, sedang mengunyah makanannya dengan pipi menggembung, menatap bingung ke arah sang ayah dan kakak sulungnya.
"Kak Lele, tadi sore ada kurir yang datang ke gerbang depan ya?" bisik Jiayi usil, sengaja mengeraskan suaranya sedikit agar semua orang mendengar. "Dia membawa buket bunga besar sekali. Aromanya... hm, seperti kayu manis panggang yang dicampur rempah."
Seketika, atmosfer di ruangan itu berubah drastis.
Feromon bunga iris milik Wenlang langsung menajam, menguar dengan tekanan Alpha murni yang membuat udara terasa sedikit berat. "Kayu manis?" suara Wenlang merendah, dingin dan berbahaya. "Siapa lagi kalau bukan anak dari keluarga Hua itu? Hua Sheng! Sudah kubilang, suruh dia berhenti mengirim barang-barang tidak berfaedah ke rumah kita!"
Shen Lele langsung merona merah, antara malu dan sebal. Feromon vanilanya menguar lebih manis karena salah tingkah. "Ayah! Aku tidak meminta apa-apa padanya! Hua Sheng sendiri yang keras kepala!"
"Dia itu anak seorang Enigma, Lele! Darah Hua Yong mengalir di nadinya, ditambah sifat keras kepala Sheng Shaoyou!" maki Wenlang. Meskipun dalam hati ia mengakui bahwa Hua Yong dan Shaoyou adalah rekan bisnis yang disegani, tetap saja urusan anak adalah garis merah baginya. "Keturunan Enigma punya insting posesif yang berbahaya. Ayah tidak suka melihatmu dekat-dekat dengan pemuda itu!"
"Tapi Ayah..." desis Lele membela diri, meski nyalinya sedikit menciut melihat mata Wenlang yang menyipit tajam.
Di tengah ketegangan kecil itu, Gao Tu justru tersenyum geli. Sebagai omega yang paling memahami bagaimana kerasnya dunia atas dan intrik para elit bisnis, Gao Tu justru melihat sisi lain dari Hua Sheng. Pemuda seusia Lele yang memiliki feromon kayu manis itu memang arogan di luar, tetapi di hadapan Lele, ia berubah menjadi penjaga yang patuh. Gao Tu tahu, di lubuk hatinya yang paling dalam, Lele pun menyukai perhatian pemuda itu.
"Sudahlah, Wenlang," ucap Gao Tu tenang, menghentikan protes lanjutan suaminya dengan tatapan penuh kasih yang selalu berhasil melumpuhkan pertahanan sang CEO HS Group. "Hua Sheng anak yang baik. Dia bisa diandalkan untuk menjaga Lele di sekolah. Lagi pula, mereka masih remaja. Biarkan mereka berteman dengan wajar."
Wenlang menatap Gao Tu, lalu menghela napas pasrah. Di hadapan matenya, benteng pertahanan paling kokoh milik Shen Wenlang selalu runtuh.
Namun, di dalam benak sang Alpha, sebuah alarm peringatan tetap berbunyi keras: Hua Sheng, silakan coba mendekati anakku jika berani. Aku akan mengawasi setiap langkahmu.
